Thursday, September 8, 2005

Bambang Setiaji Penemu Minyak Mujarab 26-04-2005 10:22:49

Dikirim: 17 Jul 2005 07:40 pm Judul: Virgin Coconut oil , www.ajangkita.com

Jika ada minyak goreng selain berguna untuk memasak, tapi juga bisa mengobati penyakit leukimia atau AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) dan HIV (human immunodeficiency virus) boleh jadi anda tertarik. Keragaman fungsi tersebut terkandung dalam minyak kelapa yang kini lumrah disebut virgin coconut oil (Vico) alias minyak kelapa murni. Adalah Dr. Bambang Setiaji, MSc yang menemukan metode baru mengolah kelapa menjadi minyak murni setelah melakukan penelitian selama 10 tahun.
Sejak menemukan cara baru mengolah buah kelapa menjadi Vico, kediaman Bambang Setiaji di Desa Kranggan, Kecamatan Galur, Kulonprogo, Yogyakarta, jadi sering kedatangan tamu. Baru-baru ini, ia dikunjungi serombongan lurah dari Kabupaten Tanjungjabung Barat dan Tanjungjabung Timur dipimpin Gubernur Jambi Sudarsono untuk mendalami metode itu. Meski menjadi kabupaten penghasil kelapa terbesar di Jambi, nasib petaninya terpuruk.
Saat berbincang dengan SCTV, Bambang mengaku berinisiatif mencari cara baru pengolahan buah kelapa juga bertolak dari keprihatinan terhadap nasib petani kelapa di kampungnya. Dahulu, keuntungan petani hanya Rp 15 ribu per hari dari hasil mengolah kelapa yang cukup memakan waktu. Kelapa dikuliti lalu dibelah dan diparut sebelum akhirnya diperas untuk mendapatkan santan. Lantas, santan direbus selama dua hari untuk mendapat minyak. Sekitar 150 butir kelapa bisa diproduksi 10 liter minyak dengan harga jual Rp 4.800 per liter. Jika disimpan lebih dari tiga hari bau minyak berubah tengik.
Selama lebih dari 10 tahun Bambang melakukan penelian sampai melahirkan cara pengolahan dengan metode pancingan. "Minyak kelapa tidak dipanaskan dan tidak difermentasi," kata Bambang. Caranya, santan didiamkan selama dua jam sampai air dan kanil (bagian yang mengandung minyak) terpisah. Selanjutnya kanil yang mengambang di air ditampung dalam panci besar lalu dipancing dengan memasukkan minyak kelapa yang sudah jadi. Perbandingan tiga bagian kanil dicampur satu bagian minyak.
Setelah campuran diaduk selama 20 menit biarkan mengendap enam sampai tujuh jam. Endapan kemudian akan terpisah menjadi tiga bagian. Endapan terbawah berwarna putih atau disebut blondo dan endapan kedua adalah air. Minyak kelapa ada di bagian endapan teratas kemudian disaring sampai menghasilkan minyak kelapa murni berkualitas tinggi. "Keunggulannya, minyak ini masih utuh artinya tidak ada senyawa yang hilang dalam minyak kelapa itu," ujar Bambang. Warna minyak lebih jernih dan bisa awet sampai lebih dari lima tahun.
Bambang mengamini, minyak kelapa murni mampu membunuh berbagai virus penyakit degeneratif dan pelarut kolesterol. Virus HIV, hepatitis, dan leukimia, menurut Bambang, tidak dapat larut dalam air karena terselubung semacam asam lemak jenuh (lipid). Nah, asam laurat pada minyak kelapa murni-lah yang bisa menembus serta mematikan virus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian Vico secara teratur dapat menurunkan risiko terinfeksi HIV atau AIDS. "Kini negara-negara maju mengembangkan minyak kelapa untuk mematikan virus HIV," tambah dosen dan pengelola Laboratorium Fakultas Kimia Fisika Universitas Gadjah Mada itu.
Metode pancingan ala Bambang meroketkan produksi kelapa di Kranggan. Harga minyak kelapa naik menjadi Rp 15 ribu per liter dari kapasitas produksi 15 liter per hari. Bambang pantas berbangga hati. Selain berhasil mengentaskan kemiskinan, penemuan lelaki berumur 56 tahun ini menepis propaganda asing bahwa minyak kelapa Indonesia biang kolesterol dan kegemukan. Buktinya, permintaan ekspor dari sejumlah negara asing mengalir ke sentra produksi minyak kelapa murni binaan Bambang.
Sumber:Liputan 6 SCTV

------------------------------------------------------------------------------

"Virgin Coconut Oil", Penyembuh Ajaib dari Buah Kelapa 24-03-2005 09:38:47
JIKA ada satu jenis minyak selain berfungsi menggoreng makanan juga berperan membantu mencegah penyakit jantung, kanker, diabetes, dan penyakit degeneratif lainnya, memperbaiki pencernaan, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, mencegah infeksi virus (HIV) dan SARS, serta membantu menurunkan berat badan, apakah Anda tertarik? Pertanyaan dan sekaligus tawaran menarik berbau promosi ini diajukan Bruce Fife dalam bukunya bertajuk The Healing Miracles of Coconut Oil.

MULTIFUNGSI ini tidak ditemukan pada minyak kedelai, minyak jagung, minyak sawit, minyak bunga matahari, minyak canola, minyak olive, ataupun minyak hewan, melainkan dari minyak kelapa yang kini lazim disebut virgin coconut oil (Vico) dan konon bahan bakunya banyak ditemukan di Indonesia. Lantas, pertanyaannya, bukankah minyak kelapa adalah sumber lemak jenuh (saturated fat) yang kerap diberi label jelek oleh masyarakat Barat karena tidak baik untuk kesehatan?

Pertanyaan ini telah dijawab oleh serangkaian riset belakangan ini bahwa minyak kelapa memiliki peran yang amat berbeda terhadap kesehatan dibandingkan dengan lemak jenuh asal hewan atau nabati lainnya.

Komponen minyak kelapa adalah asam lemak jenuh sekitar 90 persen dan asam lemak tak jenuh sekitar 10 persen. Tingginya kandungan asam lemak jenuh menjadikan minyak kelapa sebagai sumber saturated fat. Asam lemak jenuh didominasi oleh asam laurat-memiliki rantai karbon 12, termasuk asam lemak rantai menengah alias medium-chain fatty acid (MCFA) dan jumlahnya sekitar 52 persen (hampir setara dengan air susu ibu)-sehingga minyak kelapa kerap disebut minyak laurat.

Selama ini ada anggapan dari sebagian masyarakat bahwa minyak kelapa sebagai pencetus penyakit jantung koroner dan stroke sehingga secara sengaja menghindari minyak kelapa dari diet hariannya baik langsung maupun tak langsung. Kurangnya informasi ilmiah tentang manfaat minyak kelapa bagi kesehatan menjadikan minyak laurat ini kalah pamor dengan minyak sawit (oleat), minyak kedelai dan jagung.

Bahkan, kini minyak kelapa relatif sulit ditemukan di pasar-pasar tradisional karena sudah didominasi minyak goreng asal sawit dan kedelai. Padahal, Indonesia adalah negara produsen kelapa utama di dunia.

Dari hasil penelitian di Papua Niugini, konon tingkat konsumsi masyarakatnya terhadap kelapa cukup tinggi, menunjukkan, masyarakat yang kerap mengonsumsi minyak kelapa lebih kurus dan amat jarang terkena penyakit jantung koroner dan stroke. Selain itu, konsentrasi serum total kolesterol, tekanan darah diastolik lebih rendah dibandingkan dengan orang yang sama sekali tidak mengonsumsi kelapa.

Hal ini disebabkan minyak kelapa merupakan sumber asam laurat yang tergolong berantai medium (MCFA), yang memiliki sifat-sifat metabolisme yang amat berbeda dari asam lemak berantai panjang. MCFA jauh lebih mudah dicerna, diserap, dan diangkut sehingga kerap disebut sebagai sumber energi siap pakai bak bahan bakar kendaraan bermotor beroktan tinggi. Ini suatu bukti bahwa mengonsumsi minyak kelapa tidak memberi dampak buruk terhadap kesehatan jantung. Berbagai penelitian telah menunjukkan keunggulan asam laurat bagi kesehatan. Asam laurat dan asam lemak jenuh berantai pendek dan sedang lainnya-asam kaprat, kaprilat, dan miristat-yang terdapat pada minyak kelapa ternyata juga mampu mengatasi kelebihan berat badan alias obesitas.

Studi eksperimental menunjukkan bahwa pergantian minyak kedelai ke minyak kelapa dapat menurunkan berat badan secara bermakna. Hal ini dapat dijelaskan bahwa mengonsumsi minyak kelapa, asam lemak jenuhnya langsung dibakar oleh tubuh dan menghasilkan energi. Asam lemak jenuh rantai sedang yang terdapat pada minyak kelapa begitu tiba dalam saluran pencernaan segera dapat diserap oleh dinding usus tanpa harus mengalami proses hidrolisis terlebih dahulu.

Selanjutnya dapat masuk mengikuti aliran darah untuk segera dibawa ke hati guna dimetabolisasi. Berbeda dengan minyak kedelai, yang banyak mengandung asam lemak rantai panjang, dalam tubuh ditimbun dalam bentuk lemak karena tidak bisa langsung dibakar dan diserap tubuh sehingga menimbulkan kegemukan (obesitas).

Keunggulan lain asam lemak jenuh minyak kelapa adalah kemampuannya sebagai antimikrobia. Monogliserida dari asam kaproat, kaprilat, kaprat, laurat, dan miristat telah terbukti bisa menginaktivasi virus penyebab hepatitis C, herpes, SARS, dan HIV. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian Vico secara teratur dapat menurunkan risiko terinfeksi HIV dan SARS (Bruce Fife, 2004 dalam situs www.NaturalHealthWeb.com). Sementara itu, bakteri patogen yang bisa didepak oleh monolaurin dan kawan-kawannya adalah Listeria monocytogenes, Staphylococcus aureus, Staphylococcus agalactiae, dan Helicobacter pylori.

Mudah membuatnya

Melihat berbagai keunggulan Vico (minyak kelapa murni) dibandingkan dengan minyak sayur seperti kedelai dan jagung, masyarakat patut kembali mempertimbangkan penggunaan minyak kelapa dalam menu hariannya.

Minyak kelapa yang memiliki asam lemak jenuh amat bandel menahan serangan oksidasi saat penggorengan sehingga tidak menjadi penyumbang radikal bebas, suatu senyawa amat berbahaya bagi kesehatan. Minyak kelapa juga tidak berperan sebagai sumber lemak trans (trans fatty acids/TFA) sehingga aman dikonsumsi karena tidak mengatrol kadar LDL dalam darah.

Yang menjadi masalah, bagaimana menghadirkan minyak kelapa murni di tengah makin maraknya berbagai jenis minyak goreng yang berasal dari kelapa sawit, kedelai, jagung, dan lain-lain. Meski di pasaran sudah dijual Vico yang dikemas amat menarik dan higienis, tetapi harganya relatif mahal sehingga hanya masyarakat tertentu yang dapat membeli. Ada baiknya jika masyarakat luas bisa membuat sendiri Vico karena cara pembuatannya amat sederhana dan mudah.

Umumnya, masyarakat mengenal pengolahan daging buah kelapa menjadi minyak melalui cara kering dan basah. Pengolahan cara kering, daging buah yang sudah dipotong-potong dikeringkan sehingga diperoleh kopra, lalu dilakukan pengepresan guna mendapatkan minyak. Teknik pengolahan ini biasanya dilakukan dalam skala besar (pabrik). Pengolahan cara basah, daging buah kelapa diparut, kemudian dicampur dan diekstrak dengan air panas (hangat) pada perbandingan tertentu.

Hasil ekstraksi berupa emulsi minyak dalam air yang disebut santan. Pemanasan dilakukan untuk memecah emulsi guna mendapatkan minyak, yang kerap disebut minyak kelentik. Kedua metode ini akan menghasilkan minyak yang berbau harum, tetapi warnanya kurang bening akibat penggunaan panas dalam proses pengolahannya. Nah, untuk memperoleh Vico, penggunaan panas diminimalkan atau sama sekali dihilangkan. Caranya adalah dengan menggunakan enzim secara langsung atau mikroba penghasil enzim tertentu untuk memecah protein yang berikatan dengan minyak dan karbohidrat sehingga minyak dapat terpisah secara baik.

Pengolahan minyak kelapa dengan menggunakan enzim lazim disebut teknik fermentasi. Pembuatan Vico dengan teknik fermentasi diawali dengan proses pembuatan santan, caranya sama dengan metode basah. Santan ditempatkan pada wadah yang bersih dan selanjutnya dibiarkan beberapa saat hingga terbentuk gumpalan krim atau "biang santan".

Krim dipisahkan ke dalam wadah yang tembus pandang, seperti stoples yang relatif besar, lalu tambahkan ragi atau larutan cuka nira secukupnya. Campuran diaduk secara merata dan difermentasi selama 10-14 jam atau semalam. Proses fermentasi dinyatakan berjalan baik jika dari campuran tersebut terbentuk tiga lapisan, yakni lapisan atas berupa minyak murni (Vico), lapisan tengah berupa blondo (warna putih), dan lapisan bawah berupa air. Lapisan minyak dipisahkan secara hati-hati. Minyak ini memberi aroma khas dan warna yang lebih jernih.

Guna mendapatkan manfaatnya bagi kesehatan, Vico yang diperoleh bisa dikonsumsi secara langsung ataupun digunakan untuk menggoreng atau menumis makanan. Dengan struktur kimia asam lemak jenuh yang tak memiliki double bond, Vico relatif tahan terhadap serangan panas, cahaya, dan oksigen singlet sehingga memiliki daya simpan lama. Namun, sebaiknya dikemas dalam botol yang tak tembus cahaya guna memperpanjang masa simpannya.

Posman Sibuea Lektor Kepala di Jurusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Unika Santo Thomas, Medan KCM, Rabu, 22 Desember 2004
--------------------------------------------------------------------------------

alamat bapak bambang setiaji ahli kimia dan dosen di F-MIPA UGM, Jl. Mitian no.9 Yogyakarta. Telp.0274-372376. Hp 0811282064.

Pak Bambang (Dr. Bambang Setiaji, MSc) mendirikan COCONUT CENTER bersama REPINDO GROUP, dengan alamat email: repindo_indonesia@yahoo.com
coconut_center@yahoo.com. juga memproduksi VIRGIN coconut Oil dengan merek VIRGIN NATURAL dengan ciri khas logo pohon kelapa dan terdapat foto Pak Bambang tanpa kacamata, anda bisa menjadi agen produk tersebut, kantor COCONUT CENTER/REPINDO, Jl Nitikan 9 Jogjakarta tilp. 0274-372376, anda juga bisa mengikuti Pelatihan Teknologi Pengolahan Kelapa yang berisi: 1 cara membuat birgin coconut oil, 2, cara pengolahan sabut kelapa, 3 cara pengolahan air kelapa, 4 cara pembuatan arang aktif dari batok kelapa dan cara pembuatan asap cair, untuk informasi hub. Bpk Yudi, 0816681272/0274-372376

4 comments:

Husein Bakrie said...

Makasih Pak bambang kebetulan saya sedang mencari artikel pembuatan atau cara mengolah kelapa dengan baik dan awet makasih husein_bk@yahoo.com kalo punya artikel cara mengolah yang lainya boleh kirimkan dong Makasaih

Husein B

Anonymous said...

Hallo selamat siang,
Dalam banyak literatur yang diterbitkan bapak bambang Cs, Sering mennyanjung bahwa denga sistemnya bapak bambang cs telah mengangkat kesejahteraan masyarakat pedesaan. IRONIS sekali.
Anda tahu harga kelapa berapa? dan untuk proses produksi berapa? dan harga jual minyak hanya 15.000. kalau menurut analisanya bagaimana? kalau dengan harga sekian lebih baik saya membuat minyak sebagai limbahnya dan limbahnya sebagai produk utama.
UGM telah menjadi PRIBADI YANG KAPITALIS
terimakasih

nino said...

hahaha.. yang komen diatas gue goblognya ga nahan..
ga dibaca baik baik...
15.000/ hari itu tadinya, oleh krn itu pak bambang prihatin, trus diurusin, jadi naik deh pendapatan mereka.. makannya kalo ngoomong jangan asal ceplos!

bagusalfa said...

Maaf, ada komen yang telah terhapus. Bagi pemilik komen bisa mengisinya kembali. Sekali lagi maaf atas terhapusnya komen.