Monday, June 27, 2005

Penindakan HAKI bisa Menghancurkan Kreativitas

Saat ini sedang ramainya tentang penegakan HAKI, dengan terutama di force oleh BSA, dgn
client termasuk Microsoft.
Microsoft sebenarnya telah melakukan penghancuran Kreativitas di Amrik sana. Dengan cara
caranya yang kejam telah melakukan penghancuran ke Competitor semacam Novell,
Menyikut Borland, dan masih banyak sekali Software house punah ditindas / dilibas
oleh microsoft.
[Referensi lihat di : bill Gates: Pacuan di Cyberspace]
Memang itu adalah murni hak Microsoft, tetapi banyak tindakan microsoft merupakan
pembunuhan Kreativitas.
Sekarang in case , HAKI bisa ditegakkan, kita berharap supaya produksi piranti
lunak Indonesia bisa laku ....
Tapi coba pikirkan lagi ...
Produk Microsoft sudah cukup lengkap , kalo anda bilang tidak berarti anda
belum tau apa saja produk produk microsoft.
memang saat ini sekitar 70% software yg bisa jalan di indonesia adalah lewat
Customozation atau Taylor Made.
Namun tidak menutup kemungkinan di masa mendatang, apalagi dengan
didirikannya pusat Microsoft di Indonesia, pasti peluang ini akan dilirik oleh
microsoft, dgn mengeluarkan software yg makin gampang di Customize.
Memang dengan meningkatkannya persaingan akan menaikkan Quality
Piranti Lunak Indonesia, tapi apa ya benar, ... apa gak terlanjur hancur dulu.
microsoft merupakan perusahaan Raksasa yg siap menggilas siapa
saja.
Apakah kreativitas para pekerja piranti lunak akan dihancurkan ???
oleh perusahaan berskala Raksasa Microsoft ??

--
Alpha Bagus Sunggono

---------------------------
From: rrusdiah

--- In telematika@yahoogroups.com, Alpha Bagus Sunggono
wrote:
Penindakan HAKI bisa Menghancurkan Kreativitas
Saat ini sedang ramainya tentang penegakan HAKI, dengan terutama di
force oleh BSA, dgn client termasuk Microsoft.
Microsoft sebenarnya telah melakukan penghancuran Kreativitas di
Amrik sana. Dengan cara
caranya yang kejam telah melakukan penghancuran ke Competitor semacam
Novell, Menyikut Borland, dan masih banyak sekali Software house
punah ditindas / dilibas
oleh microsoft.

[rr] betul sekali pak bagus ... dalam berbagai referensi buku mengenai
dampak dari HAKI juga ada dampak negatifnya...yaitu jika kebablas bisa
menjadi power to monopolized the market... cmiiw

bayangkan anda punya sesuatu produk In-telek.... lalu anda diberi hak
kekayaan in-telek...
orang lain tidak bisa mempunyai hak yang sama... cmiiw

lalu gimana kalau sampai produk in-telek ini menguasai pasar...jadilah
anda monopolist sejati...
itu teorinya yang terjadi dipasar... cmiiw

jika ini terjadi ... maka konsumen tidak lagi punya bargaining posisi
dan new entrant, UKM ... start up company...mana bisa masuk kedalam
pasar... they stand not a chance.....against big brother :-) cmiiw

sudah kah kita mengerti dampak negatif dari Haki ini, karena kita
terlalu dibombardir oleh promosi dampak positifnya saja...tentu saja
oleh sipemegang hak in-telek ?

semoga ..., rr - apwkomitel
note: besok saya ikut seminar WTO selama seminggu... sekitar
perdagangan dan enterpreneurship... entah apakah ada menyinggung
masalah IPR ini... jika ada akan menarik diskusinya...dan saya tentu
akan cerita cerita... dan sampai jumpa... & hav a niz weekend.

------------------------------
From: Donny Baldev
waduh, sebenarnya saya salut ama microsoft yg membuat ide
ide brilian di bidang rekayasa software, tentu
menyikapinya saya kira bukan dengan justru menghujatnya
(kamu iri kali?). Klo memang mereka mampu kenapa tidak ?
bukankah bisnis memang harus mencari untung yg
sebanyak2nya ? meskipun tentu harus dalam koridor aturan
yg berlaku.Bagaimana mungkin penindakan HAKi bisa
menghancurkan kreatifitas ? justru itu memacu industri
software lokal untuk lebih berkarya agar bisa bersaing.

-----------------------
From: S Roestam
Pak Bagus dan kawan2 Yth,

Saya tidak rela kalau sampai Microsoft menghancurkan masa depan bangsa
Indonesia.
Oleh karena itu kita perlu Pemimpin yang punya visi jauh ke depan, bukan
pandangan sempit kemudahan atau keuntungan sesaat, dengan memberikan
berbagai fasilitas kepada Microsoft, yang hasilnya bisa menghancurkan
kreativitas dan innovasi bangsa Indonesia.

Mari kita berikan advis kepada Presiden SBY dengan benar melalui sarana
SMS yg beliau sediakan.

Wassalam,
S Roestam
------------------------
From: Rumy Taulu
Saya tidak melihat relevansi sweeping software bajakan (penindakan
pelanggaran HAKI) di Indonesia dengan penghancuran kreativitas, para
pengguna software tetap bisa menggunakan program Microsoft (VB, Visual
Foxpro dll) dan program-program lain (Delphi, PowerBuilder) dan tetap
berkreasi (membuat tailor made program) tentu saja dengan membayar
lisensi yg sudah ditetapkan, sepanjang yg saya tahu tailor made software
di Indonesia (based on VB, VFP. Delphi, PowerBuilder dll) sangat baik
perkembangannya.
OTOH sweeping yg dilakukan BSA bisa mengembangkan kreativitas pengguna
OS dan software di Indonesia dengan mulai melirik OS seperti Linux dan
aplikasi-aplikasi nya (Open Office sebagai pengganti Ms Office, Gambas
sebagai pengganti VB dll)


--
rumy
---------------------------
From: Riza.Murtaza

Saya tidak menanggapinya demikian. Saya justru
berpandangan penindakan HAKI akan memberikan iklim
pengembangan software (baca: open source) di
Indonesia. Masalahnya adalah bahwa kita selama ini di
Indonesia sudah terlanjur kecanduan yang amat sangat
(bahkan lebih addict dari orang yg kecanduan narkotik
paling parah sekalipun!!)selama belasan tahun,
sehingga kita tidak pernah mau belajar, bahkan mencoba
sekalipun.

Alur pemikiran anda tampak kontradiktif. Anda berpikir
bahwa Microsoft berpeluang mengancam kreativitas (ato
apapun namanya), lewat regulasi HAKI mereka. Tapi
disisi lain anda menyetujui bahwa dalam bisnis ini
adalah hal yang lumrah.

Kekhawatiran anda bahwa Microsoft akan 'menggilas'
vendor2 software lain memang beralasan, tapi saya kira
itu tidak cukup relevan dalam konteks persaingan
global saat ini. Apalagi pengembangan software tidak
dilakukan dalam sekejap. tapi melalui proses riset
bertahun2.

Intinya adalah, apakah kita mau berpikir kreatif dan
merdeka untuk melakukan sesuatu yg progresif dan
legal, ato justru 'merelakan' untuk ikut menegakkan
HAKI dengan membayar berapapun license? Saya kira
keduanya masih jauh lebih baik daripada anda (dan
kita) masih bertahan dengan argumentasi HAKI tapi
tidak mangacuhkan aspek legalitas.


Regards.
-------------------------
From: rrusdiah
--- In telematika@yahoogroups.com, Rumy Taulu wrote:
- Show quoted text -Alpha Bagus Sunggono wrote:
> Penindakan HAKI bisa Menghancurkan Kreativitas
> Saat ini sedang ramainya tentang penegakan HAKI, dengan terutama
di force
> oleh BSA, dgn
> client termasuk Microsoft.
> Microsoft sebenarnya telah melakukan penghancuran Kreativitas di
Amrik
> sana. Dengan cara
> caranya yang kejam telah melakukan penghancuran ke Competitor
semacam
> Novell,
> Menyikut Borland, dan masih banyak sekali Software house punah
ditindas /
> dilibas
> oleh microsoft.
> [Referensi lihat di : bill Gates: Pacuan di Cyberspace]
> Memang itu adalah murni hak Microsoft, tetapi banyak tindakan
microsoft
> merupakan
> pembunuhan Kreativitas.
> Sekarang in case , HAKI bisa ditegakkan, kita berharap supaya
produksi
> piranti
> lunak Indonesia bisa laku ....
> Tapi coba pikirkan lagi ...
> Produk Microsoft sudah cukup lengkap , kalo anda bilang tidak
berarti anda
> belum tau apa saja produk produk microsoft.
> memang saat ini sekitar 70% software yg bisa jalan di indonesia
adalah
> lewat
> Customozation atau Taylor Made.
> Namun tidak menutup kemungkinan di masa mendatang, apalagi dengan
> didirikannya pusat Microsoft di Indonesia, pasti peluang ini akan
dilirik
> oleh
> microsoft, dgn mengeluarkan software yg makin gampang di Customize.
> Memang dengan meningkatkannya persaingan akan menaikkan Quality
> Piranti Lunak Indonesia, tapi apa ya benar, ... apa gak terlanjur
hancur
> dulu.
> microsoft merupakan perusahaan Raksasa yg siap menggilas siapa
> saja.
> Apakah kreativitas para pekerja piranti lunak akan dihancurkan ???
> oleh perusahaan berskala Raksasa Microsoft ??


Saya tidak melihat relevansi sweeping software bajakan (penindakan
pelanggaran HAKI) di Indonesia dengan penghancuran kreativitas, para
pengguna software tetap bisa menggunakan program Microsoft (VB,
Visual
Foxpro dll) dan program-program lain (Delphi, PowerBuilder) dan tetap
berkreasi (membuat tailor made program) tentu saja dengan membayar
lisensi yg sudah ditetapkan, sepanjang yg saya tahu tailor made
software
di Indonesia (based on VB, VFP. Delphi, PowerBuilder dll) sangat
baik
perkembangannya.
OTOH sweeping yg dilakukan BSA bisa mengembangkan kreativitas
pengguna
OS dan software di Indonesia dengan mulai melirik OS seperti Linux
dan
aplikasi-aplikasi nya (Open Office sebagai pengganti Ms Office,
Gambas
sebagai pengganti VB dll)

[rr]betul pak...selama tujuan razia nya membimbing...misalnya yang
salah kemudian diberi bimbingan diluruskan...

Warnet yang masih bingung dan belum migrasi...dibimbing diberi
pengetahuan dan pengarahan cara untuk migrasi...
maka tindakan sweeping mempunyai dampak positif...
sehingga makin banyak orang menjadi kreatif untuk menggunakan
software alternatif atau OSS.
Tapi kalau razia tujuannya untuk menghancurkan industri, mencari
kesalahan.. menyita server warnet...atau UKM....dan tujuannya hanya
untuk melindungi IPR dari incumbent/proprietary....nah ini skenario
menghancurkan industrinya...seperti yang dikatakan oleh pak Naswil

apalagi jika pemerintah memberikan pendidikan dan solusi OSS untuk
UKM...ini lebih hebat lagi...
itu mimpi kita dengan pemerintah kedepan...sehingga HAKI bisa
ditegakkan dengan menggunakan solusi open source dan copyleft...

salam, rr
dari bangkok, thailand


--
rumy
--- End forwarded message ---

From: momo

Saya setuju dengan mas Donny dan mas Riza. Paling tidak dengan adanya
penindakan HAKI ada sesuatu penghargaan buat pembuat software. Sekarang
gimana caranya software lokal mampu bersaing dengan Microsoft.

------------------------------
From: Mas Agung Sachli

Provokasi yang menarik juga nih :)

Saya jadi tergelitik untuk kasih sedikit komentar.
Saya pernah mendengar Bapak Syofian Djalil (Menkominfo) bicara kepada para
peserta lomba APICTA 2004 kurang lebih seperti ini:

Kenapa revolusi industri terjadi di Eropa dan revolusi informasi terjadi
di Amerika? Kenapa bukan Cina yang kebudayaannya jauh lebih tua
dibandingkan Eropa? Kenapa bukan di India yang sama tuanya dengan Cina?
Kenapa justru terjadi di Eropa dan Amerika?

Ternyata penyebabnya adalah: mereka sudah menegakkan hukum hak cipta sejak
dini. Perhatikan bahwa yang disebut hak cipta bukan hanya hak cipta
software saja, tapi mencakup segala ciptaan intelektual seperti film,
musik, buku, karya seni, dll.
Dengan menegakkan hukum hak cipta dengan ketat, tidaklah akan mematikan
kretivitas, namun justru akan mendorong kreativitas itu sendiri.

Balik lagi ke realita saat ini. Coba lihat, kenapa SUN bisa membuat JAVA?
Karena Sun harus kreatif dalam mengalahkan dominasi Microsoft kan?
Bayangkan kalau HAKI tidak ditegakkan dan Microsoft harus susah payah
menjual produknya. Apakah Sun akan susah payah invest duit untuk bangun
Java? Nggak la yau :)

Mungkin pemikirannya: Kalau saya sebesar Sun mah, enak ngomongnya. Kalau
hanya sekecil perusahaan custom made software bagaimana? Menurut pendapat
saya: Justru karena di Indonesia belum serius menegakkan HAKI makanya
banyak perusahaan software customized. Saya yakin bila HAKI sudah
ditegakkan (dengan benar), perusahaan software Indonesia pasti akan lebih
bergairah untuk berkreasi. Jadi orang Indonesia harus beli software (bukan
bajak) dan otomatis si pembuat akan dapat uang juga kan?

Lebih baik kita jangan terlalu sempit melihat bahwa HAKI = Microsoft,
kalau HAKI ketat= Microsoft tambah kaya. Kita kan punya banyak pilihan:
Linux, Openoffice, Opera, Java, dan masih banyak lagi yang gratisan. BTW,
saya ngetik email ini pakai Opera yang gratisan lho :) Emang sih ada
iklannya, tapi so what gitu lho? Yang penting kan nggak bajak dan saya
masih kreatif kok :)

Gitu aja pendapat dari saya. No offense. Just personal opinion.

Peace,

Agung
---------------------------
From: Yani Pitono

Assalamualaikum,

Mohon ikutan berpendapat :

Perlu diingat, bahwa kalau dilihat gelagat Microsoft ini sepertinya
mereka memberlakukan standard ganda.

Disatu sisi mereka ingin ada perhatian akan penindakan terhadap
bajakan mereka, disatu sisi yang lain mereka pun masih turut
membiarkan produk-produk microsoft bajakan tersebut.

Hal ini bisa ditengarai dari produk-produk mereka yang dikeluarkan
disertai dengan produk yang mudah dibajak yaitu microsoft yang versi
corporate.
Bila mereka concern terhadap aksi pembajakan, mereka tidak seharusnya
mengeluarkan versi corporate tersebut. Artinya segala jenis produk
microsoft yang asli harusnya penuh dengan proses aktifasi terlebih
dahulu. Sehingga akan sangat menyulitkan para pembajak.

Yang kedua, mengapa mereka (microsoft) memberlakukan standar ganda
tersebut adalah agar masyarakat yang senang dengan produk-produk
microsoft bajakan tersebut, dapat dibutakan pikirannya sehingga mereka
hanya bisa beradaptasi dengan produk-produk microsoft, dan terbentuk
microsoft minded. Inilah yang dinamakan racun !!!.
Sehingga bila mereka-mereka yang teracuni ini masuk dalam dunia
business atau perusahaan-perusahaan akan sangat mudah untuk membeli
produk microsoft tanpa banyak pertimbangan lagi.

Yang ketiga, mengapa mereka (microsoft) memberlakukan standar ganda
tersebut adalah tidak lain untuk mendapatkan publisitas gratis tanpa
perlu mengeluarkan kocek banyak untuk marketing mereka.

Jadi penindakan HAKI tersebut hanya bersifat gertakan kecil saja tidak
sebenar-benarnya. Kalau memang dilakukan sebenarnya, saya yakin produk
microsoft akan turun drastis. Coba lihat, di Mangga 2, mereka hanya
semusim saja melakukan gertakan, tapi setelah itu reda lagi.

So, kesimpulannya, terserah para ITers sendiri, mau menggerakkan open
source demi bangsa dan guna mencerdaskan masyarakat atau membiarkan
masyarakat buta dan kena virus microsoft minded, atau bagaimana??

Wassalam,
Yani Pitono
-------------------------------
From: Irsan Gunawan

Ikutan ah..

saya pikir "penindakan" HAKI,
selama dilakukan sesuai korirdor hukum yang ada,
efek-nya tidak akan menghancurkan kreativitas..
malah akan melindungi software house lokal yang kreatif,
untuk lebih mampu bersaing dengan software import..

Dan untuk lebih menjamin persaingan antara lokal dengan M$,
saya rasa lebih baik dan bijak,
kita dan pemerintah membuat patokan harga dasar produk software import ( M$,
Adobe, Macromedia, dsb )
JANGAN kita membiarkan M$ dkk mengendalikan harga pasaran software..
ataupun kita mengemis M$ dkk untuk menurunkan atau "memutihkan" software

Dan untuk software house lokal sebaiknya
membuat produk yang harga-nya tidak lebih dari M$ dkk..

Kemudian gencarkan kembali Indonesia untuk menggunakan software yg Open
Source

Kalau cara2x ini disemangati bersama oleh kalangan IT di Indonesia,
saya rasa dalam waktu 2 - 4 thn ke depan,
Indonesia bisa menghasilkan lebih banyak software yang layak bersanding
dengan produk M$ dkk

salam

Irsan
--------------------------------
From: Adi Nugroho

On Saturday 25 June 2005 13:24, Alpha Bagus Sunggono wrote:
> Penindakan HAKI bisa Menghancurkan Kreativitas

Terbalik Pak....
Penegakan hukum, termasuk HaKI justru meningkatkan kreativitas.

Kalau tidak ada penegakan hukum seperti sekarang, siapa juga yang mau bikin
software.... belum sempat balik modal udah dibajak :-(

Mari kita mendukung penegakan HaKI secara menyeluruh tanpa pilih kasih.

--
Salam,

Adi Nugroho
PT. iNterNUX -- Internet Service Provider
Jalan Dr. Sam Ratulangi No. 53-J Makassar
Tlp. +62-411-834690 - Fax. +62-411-834691
------------------------------
From: Wiempy
Saya juga mau ikutan mengeluarkan uneg2 :

Klo memang Microsoft mau menindak tegas pembajak produk2
mereka, yg namanya jualan CD bajakan di Mangga Dua & Glodok
sudah bakal kaga ada lagi sekarang. Yg anehnya para penjual
CD bajakan kaki lima yg slalu jadi korban penindakan, sedangkan
bandar / bos besar pelaku pembajakan dibiarkan begitu saja scr
bebas melakukan penggandaan CD dlm jumlah besar. Menurut
saya sih percuma aja menindak pengedar CD bajakan tanpa
menindak bandar besar pelaku pembajakan.

Memang saat ini sudah saatnya kita ramai2 pindah ke Linux yg
merupakan produk Open Source (benar2 gratis spt Ubuntu,
Kubuntu, Mandrake/Mandriva, Fedora Core). Untuk itu mulai
saat ini kita harus membiasakan memakai Linux di rumah, dgn cara
mencoba menginstall distro Linux di rumah berdampingan dgn
Windows, mengingat untuk mempelajari sesuatu hal yg baru spt
Linux ini dibutuhkan kesabaran & kebiasaan terlebih dahulu.
Dulu juga kita juga gak gitu familiar kan dgn Windows versi 3.0
atau 3.1 yg kurang user friendly, lama kelamaan kita menjadi
terbiasa menggunakan Windows. Setelah masing2 diri kita pribadi
sudah terbiasa menggunakan Linux, maka sudah saatnya Perusahaan
yg masih menggunakan Windows bajakan, dan tdk mempunyai dana
yg mencukupi untuk membeli lisensi produk Microsoft yg terkenal
sangat mahal bisa beralih ke Linux. Tampilan Linux sudah bagus koq,
malah ada yg mirip spt Windows XP (yaitu distro Lycoris Linux).

Sekarang aja warnet2 di ibukota Jakarta sudah banyak koq yg
menggunakan Linux sbg server & workstation. Ada yg pakai
Mandriva, ada juga Xandros (distro ini device manager-nya mirip
sama Windows XP juga loch). Jadi pada intinya klo kalian semua
punya banyak duit, silakan aja membeli produk Microsoft yg
terkenal familiar & user friendly, sedangkan bagi yg punya uang
pas2-an jangan memaksakan diri memakai Windows bajakan,
lebih baik migrasi ke Linux atau OpenBSD/FreeBSD yg merupakan
Operating System yg terkenal paling handal atau paling aman
sedunia (Windows sih kalah jauh deh). Mengingat OpenBSD/FreeBSD
core programnya diadaptasi dari UNIX yg merupakan OS paling
cepat, aman & stabil di dunia saat ini (Windows 2003 Server aja masih
kalah jauh dgn UNIX).

Masih ingat perseteruan Microsoft dgn Netscape untuk menggusur
browser Netscape yg dulu sempat populer & digunakan banyak
org. Pihak Microsoft menggunakan cara yg licik untuk menghilangkan
program2 pesaing. Akhirnya browser Netscape sempat hilang entah
kemana beberapa tahun yg lalu. Skrg baru muncul lagi dgn
mengeluarkan versi 8.02.

Mari kita bersama-sama membantu dunia Open Source
(khususnya Linux) untuk secara bertahap mulai mendapat hati
di masyarakat luas (khususnya org2 di bidang IT). Ingat, di
berbagai negara Eropa & Asia laennya pemerintah di negara2
tsb sudah mulai beralih menggunakan produk Open Source
spt Linux dan mulai meninggalkan Windows.

Salam,

Wiempy
-------------------------------
From: henri kurniawan

Numpang berpendapat:

Dengan adanya hal seperti ini, akan membuat orang berfikir dan terpaksa untuk mengunakan dan belajar linux. saya kira ini bagus untuk kemajuan bangsa indonesia, karena akan semakin banyak pendekar linux. Semoga para pendekar linux yang sudah ada mau berbagi ilmu nya, sehingga mempermudah dalam pengusaan SO linux.

Yani Pitono wrote:Assalamualaikum,
- Show quoted text -
Mohon ikutan berpendapat :

Perlu diingat, bahwa kalau dilihat gelagat Microsoft ini sepertinya
mereka memberlakukan standard ganda.

Disatu sisi mereka ingin ada perhatian akan penindakan terhadap
bajakan mereka, disatu sisi yang lain mereka pun masih turut
membiarkan produk-produk microsoft bajakan tersebut.

Hal ini bisa ditengarai dari produk-produk mereka yang dikeluarkan
disertai dengan produk yang mudah dibajak yaitu microsoft yang versi
corporate.
Bila mereka concern terhadap aksi pembajakan, mereka tidak seharusnya
mengeluarkan versi corporate tersebut. Artinya segala jenis produk
microsoft yang asli harusnya penuh dengan proses aktifasi terlebih
dahulu. Sehingga akan sangat menyulitkan para pembajak.

Yang kedua, mengapa mereka (microsoft) memberlakukan standar ganda
tersebut adalah agar masyarakat yang senang dengan produk-produk
microsoft bajakan tersebut, dapat dibutakan pikirannya sehingga mereka
hanya bisa beradaptasi dengan produk-produk microsoft, dan terbentuk
microsoft minded. Inilah yang dinamakan racun !!!.
Sehingga bila mereka-mereka yang teracuni ini masuk dalam dunia
business atau perusahaan-perusahaan akan sangat mudah untuk membeli
produk microsoft tanpa banyak pertimbangan lagi.

Yang ketiga, mengapa mereka (microsoft) memberlakukan standar ganda
tersebut adalah tidak lain untuk mendapatkan publisitas gratis tanpa
perlu mengeluarkan kocek banyak untuk marketing mereka.

Jadi penindakan HAKI tersebut hanya bersifat gertakan kecil saja tidak
sebenar-benarnya. Kalau memang dilakukan sebenarnya, saya yakin produk
microsoft akan turun drastis. Coba lihat, di Mangga 2, mereka hanya
semusim saja melakukan gertakan, tapi setelah itu reda lagi.

So, kesimpulannya, terserah para ITers sendiri, mau menggerakkan open
source demi bangsa dan guna mencerdaskan masyarakat atau membiarkan
masyarakat buta dan kena virus microsoft minded, atau bagaimana??

Wassalam,
Yani Pitono

On 6/26/05, momo wrote:
> Saya setuju dengan mas Donny dan mas Riza. Paling tidak dengan adanya
> penindakan HAKI ada sesuatu penghargaan buat pembuat software. Sekarang
> gimana caranya software lokal mampu bersaing dengan Microsoft.
>

2 comments:

ripai said...

http://priyadi.net/archives/2005/07/04/mencari-legitimasi-penggunaan-software-bajakan/

[AR] said...

IMHO, mengubah mind-set orang-orang kita itu yang cukup sulit. Lihat saja, dari SD sampai Universitas, produk Microsoft selalu ada dan bertahun-tahun menancap di kepala kita. Dan itulah yang belum bisa dilakukan oleh Open Source.

Sebenarnya, karakter orang kita itu pelit. Sama pelitnya dengan strategi yang diterapkan MS dengan propietary-nya. Sedikit sekali orang-orang yang mau berkreasi dan membuka kode sumbernya sehingga orang dapat mengambil manfaat darinya. Kalau sudah bisa buat satu produk, biasanya dibisniskan dan gak mau di share. Inilah salah satu masalah terbesar bangsa ini.

Yup, dilematis dan gak tau harus mulai dari mana. Sama dengan pertanyaan : "Duluan mana, ayam atau telor ?". Kita gak tau. Paling cuman : "Ya yang dulu disebut ajah.". Nah itu dia, "yang dulu disebut". Ayam ? Atau telor ? Pasti Ayam, tapi kalo Telor atau Ayam ? Ya pasti Telor.

Gak nyambung khan, iya saya juga sama puyengnya dengan penegakan HAKI disini. Gak punya cukup kapabilitas untuk itu. Akhirnya jadi oportunis saja. Ambil yang menguntungkan, pelajari, dan berkreatiflah dari situ.

Saya sendiri gak terlalu melihat apakah itu Microsoft atau Open Source, intinya adalah jangan lihat itu produk siapa tapi lihatlah produk itu bisa melakukan apa untuk bangsa ini.

Guys, jangan cuman pelajari produknya tapi pelajari teknologi apa yang melahirkan produk itu. Atau teknologi apa yang bisa dihasilkan dari produk itu. Jadi kita gak terlalu tergantung sama tools.

Produk Microsoftpun cukup banyak yang bisa running di platform Open Source.

Pake produk Open Source tapi kalo menyembunyikan knowledgenya dan gak mau share, ya sama juga boong. Tapi meski pake produk Microsoft, tapi kalo di share, ya itu good..good..gooood.

Salam hangat