Di Propinsi Zhejiang China, ada seorang anak laki-laki
yang luar biasa,
sebut saja namanya Zhang Da. Perhatiannya yang besar
kepada Papanya,
hidupnya yang pantang menyerah dan mau bekerja keras,
serta tindakan dan
perkataannya yang menyentuh hati membuat Zhang Da, anak
lelaki yang masih
berumur 10 tahun ketika memulai semua itu, pantas disebut
anak yang luar
biasa. Saking jarangnya seorang anak yang berbuat
demikian, sehingga ketika
Pemerintah China mendengar dan menyelidiki apa yang Zhang
Da perbuat maka
mereka pun memutuskan untuk menganugerahi penghargaan
Negara yang Tinggi
kepadanya. Zhang Da adalah salah satu dari sepuluh orang
yang dinyatakan
telah melakukan perbuatan yang luar biasa dari antara 1,4
milyar penduduk
China.
Tepatnya 27 Januari 2006 Pemerintah China, di Propinsi
Jiangxu, kota
Nanjing, serta disiarkan secara Nasional ke seluruh
pelosok negeri,
memberikan penghargaan kepada 10 (sepuluh) orang yang luar
biasa, salah
satunya adalah Zhang Da. Mengikuti kisahnya di televisi,
membuat saya ingin
menuliskan cerita ini untuk melihat semangatnya yang luar
biasa. Bagi saya
Zhang Da sangat istimewa dan luar biasa karena ia termasuk
10 orang yang
paling luar biasa di antara 1,4 milyar manusia. Atau lebih
tepatnya ia
adalah yang terbaik diantara 140 juta manusia. Tetapi jika
kita melihat apa
yang dilakukannya dimulai ketika ia berumur 10 tahun dan
terus dia lakukan
sampai sekarang (ia berumur 15 tahun), dan satu-satunya
anak diantara 10
orang yang luar biasa tersebut maka saya bisa katakan
bahwa Zhang Da yang
paling luar biasa di antara 1,4 milyar penduduk China.
Pada waktu tahun 2001, Zhang Da ditinggal pergi oleh
Mamanya yang sudah
tidak tahan hidup menderita karena miskin dan karena suami
yang sakit
keras. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang
Papa yang tidak
bisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan.
Kondisi ini memaksa
seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun
untuk mengambil
tanggungjawab yang sangat berat. Ia harus sekolah, ia
harus mencari makan
untuk Papanya dan juga dirinya sendiri, ia juga harus
memikirkan obat-obat
yang yang pasti tidak murah untuk dia. Dalam kondisi yang
seperti inilah
kisah luar biasa Zhang Da dimulai. Ia masih terlalu kecil
untuk menjalankan
tanggung jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah
satu dari sekian
banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit
di dunia ini.
Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak
menyerah.
Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan
kejahatan,
melainkan memikul tanggungjawab untuk meneruskan
kehidupannya dan papanya.
Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan
pemerintah yang ingin
tahu apa yang dikerjakannya. Ia mulai lembaran baru dalam
hidupnya dengan
terus bersekolah. Dari rumah sampai sekolah harus berjalan
kaki melewati
hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah,
Ia mulai makan
daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui. Kadang
juga ia menemukan
sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari
mencoba-coba makan
itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh
lidahnya dan mana
yang tidak bisa ia makan. Setelah jam pulang sekolah di
siang hari dan juga
sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk
membelah
batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu.
Hasil kerja sebagai
tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan
untuk papanya.
Hidup seperti ini ia jalani selama lima tahun tetapi
badannya tetap sehat,
segar dan kuat.
ZhangDa Merawat Papanya yang Sakit.
Sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggungjawab untuk merawat
papanya. Ia
menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali
memandikan papanya,
ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan
papanya, semua dia
kerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih. Semua
pekerjaan ini menjadi
tanggungjawabnya sehari-hari. Zhang Da menyuntik sendiri
papanya.
Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang
Da berpikir untuk
menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini.
Sejak umur sepuluh tahun ia mulai belajar tentang
obat-obatan melalui
sebuah buku bekas yang ia beli.
Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana
seorang suster
memberikan injeksi/suntikan kepada pasiennya.
Setelah ia rasa ia mampu, ia nekad untuk menyuntik papanya
sendiri. Saya
sungguh kagum, kalau anak kecil main dokter-dokteran dan
suntikan itu sudah
biasa. Tapi jika anak 10 tahun memberikan suntikan seperti
layaknya suster
atau dokter yang sudah biasa memberi injeksi saya baru
tahu hanya Zhang Da.
Orang bisa bilang apa yang dilakukannya adalah perbuatan
nekad, sayapun
berpendapat demikian. Namun jika kita bisa memahami
kondisinya maka saya
ingin katakan bahwa Zhang Da adalah anak cerdas yang
kreatif dan mau
belajar untuk mengatasi kesulitan yang sedang ada dalam
hidup dan
kehidupannya.
Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah dilakukannya
selama lebih kurang
lima tahun, maka Zhang Da sudah trampil dan ahli
menyuntik.
Aku Mau Mama Kembali.
Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang
terkenal yang hadir
dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang
tertuju kepada Zhang
Da, Pembawa Acara (MC) bertanya kepadanya, "Zhang Da,
sebut saja kamu mau
apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk
terjadi dalam
hidupmu, berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu
selesai kuliah, besar
nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang
kamu idam-idamkan
sebut saja, di sini ada banyak pejabat, pengusaha, orang
terkenal yang
hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang
melihat kamu
melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!" Zhang Da
pun terdiam dan
tidak menjawab apa-apa. MC pun berkata lagi kepadanya,
"Sebut saja, mereka
bisa membantumu".
Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara
bergetar iapun
menjawab, "Aku Mau Mama Kembali. Mama kembalilah ke rumah,
aku bisa
membantu Papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama
Kembalilah!"
demikian Zhang Da bicara dengan suara yang keras dan penuh
harap.
Saya bisa lihat banyak pemirsa menitikkan air mata karena
terharu, saya pun
tidak menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya.
Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan papanya,
mengapa ia tidak
minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan
sedikit bekal
untuk masa depannya, mengapa ia tidak minta rumah kecil
yang dekat dengan
rumah sakit, mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan
dari pemerintah
agar ketika ia membutuhkan, melihat katabelece yang
dipegangnya semua akan
membantunya.
Sungguh saya tidak mengerti, tapi yang saya tahu apa yang
dimintanya,
itulah yang paling utama bagi dirinya. Aku Mau Mama
Kembali, sebuah
ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak saat melihat
mamanya pergi
meninggalkan dia dan papanya. Tidak semua orang bisa
sekuat dan sehebat
Zhang Da dalam mensiasati kesulitan hidup ini.
Tapi setiap kita pastinya telah dikaruniai kemampuan dan
kekuatan yg
istimewa untuk menjalani ujian di dunia.
Sehebat apapun ujian yg dihadapi pasti ada jalan
keluarnya...ditiap-tiap
kesulitan ada kemudahan.
Jadi janganlah menyerah dengan keadaan, jika sekarang
sedang kurang
beruntung, sedang mengalami kekalahan....
bangkitlah! Karena sesungguhnya kemenangan akan diberikan
kepada siapa saja
yg telah berusaha sekuat kemampuannya........
Kesulitan memberi pembelajaran bagi setiap orang
Tergantung orang tersebut
memilih jalan hidupnya
Tetap berdiri dan berusaha membuat segala sesuatu menjadi
lebih baik atau
memilih jalan kehancuran...
Semua kembali pada diri pribadi masing-masing
Semoga bermanfaat…
Karunia
Life for Success
Regards,
HENDRY RISJAWAN
- Training & Development Dept.
PT A.J. Central Asia Raya (CAR)
www.car.co.id
Thursday, August 24, 2006
Wednesday, August 2, 2006
KAPAN SEKOLAH KAMI LEBIH BAIK DARI KANDANG AYAM
oleh Prof. Winarno Surahman.
"Tanpa sebuah kepalsuan, guru artinya ibadah.
Tanpa sebuah kemunafikan,
Semua guru berikrar mengabdi kemanusiaan.
Tetapi dunianya ternyata tuli. Setuli batu.
Tidak berhati.
Otonominya, kompetensinya, profesinya
hanya sepuhan pembungkus rasa getir,"
"Bolehkan kami bertanya,
apakah artinya bertugas mulia
ketika kami hanya terpinggirkan
tanpa ditanya, tanpa disapa?
Kapan sekolah kami lebih baik dari
kandang ayam?
Kapan pengetahuan kami bukan ilmu kadaluarsa?
Mungkinkah berharap
yang terbaik dalam kondisi yang terburuk?"
"Ketika semua orang menangis,
kenapa kami harus tetap tertawa?
Kenapa ketika orang kekenyangan,
kami harus tetap kelaparan?
Bolehkah kami bermimpi di dengar
ketika berbicara?
Dihargai layaknya manusia?
Tidak dihalau ketika bertanya?
Tidak mungkin berharap
dalam kondisi terburuk,"
"Sejuta batu nisan
guru tua yang terlupakan oleh sejarah.
Terbaca torehan darah kering:
Di sini berbaring seorang guru
semampu membaca buku usang
sambil belajar menahan lapar.
Hidup sebulan dengna gaji sehari.
Itulah nisan tua sejuta
guru tua yang terlupakan oleh sejarah,"
-------------------------------------
Dari: Ambon
Tanggal: 2006 Agu 1 03:14
Judul: Re: [nasional-list] Sekolah Kami seperti Kandang Ayam
"Tanpa sebuah kepalsuan, guru artinya ibadah.
Tanpa sebuah kemunafikan,
Semua guru berikrar mengabdi kemanusiaan.
Tetapi dunianya ternyata tuli. Setuli batu.
Tidak berhati.
Otonominya, kompetensinya, profesinya
hanya sepuhan pembungkus rasa getir,"
"Bolehkan kami bertanya,
apakah artinya bertugas mulia
ketika kami hanya terpinggirkan
tanpa ditanya, tanpa disapa?
Kapan sekolah kami lebih baik dari
kandang ayam?
Kapan pengetahuan kami bukan ilmu kadaluarsa?
Mungkinkah berharap
yang terbaik dalam kondisi yang terburuk?"
"Ketika semua orang menangis,
kenapa kami harus tetap tertawa?
Kenapa ketika orang kekenyangan,
kami harus tetap kelaparan?
Bolehkah kami bermimpi di dengar
ketika berbicara?
Dihargai layaknya manusia?
Tidak dihalau ketika bertanya?
Tidak mungkin berharap
dalam kondisi terburuk,"
"Sejuta batu nisan
guru tua yang terlupakan oleh sejarah.
Terbaca torehan darah kering:
Di sini berbaring seorang guru
semampu membaca buku usang
sambil belajar menahan lapar.
Hidup sebulan dengna gaji sehari.
Itulah nisan tua sejuta
guru tua yang terlupakan oleh sejarah,"
-------------------------------------
Dari: Ambon
Tanggal: 2006 Agu 1 03:14
Judul: Re: [nasional-list] Sekolah Kami seperti Kandang Ayam
Peneliti LAPAN: Awan Aneh Sebaiknya Perlu Diwaspadai
Arifin Asydhad - detikcom
Jakarta - Awan aneh muncul di langit Jakarta dan sekitarnya. Di Bandung, awan aneh ini juga terlihat jelas. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) berpendapat awan ini biasa saja, masyarakat tidak perlu takut. Namun, peneliti Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) berpendapat awan aneh ini perlu diwaspadai. Ada kemungkinan awan aneh ini indikasi akan terjadinya gempa.
"Awan tersebut memang aneh. Ini anomali. Saya sudah mempelajari berbagai bentuk awan, tapi awan yang satu ini memang awan tak biasa," kata Kadarsah, meteorolog yang kini menjadi peneliti di LAPAN dan berkantor di LAPAN Bandung, saat berbincang-bincang dengan detikcom, Selasa (1/8/2006).
Kadarsah mengaku awan aneh ini terlihat jelas dari kantor LAPAN Bandung di Jl. Pasteur antara pukul 09.00 hingga 10.00 WIB. Berbeda dengan pendapat BMG, Kadarsah menilai awan aneh ini kemungkinan memiliki kaitan dengan peristiwa gempa.
"Sebelum terjadi gempa Pangandaran, teman-teman saya di LAPAN juga melihat awan yang sama. Awan aneh seperti ini dulu juga sempat muncul di Yogya dan Bantul, saat gempa susulan masih terjadi," ujar peneliti yang akan melanjutkan studi S3-nya di Tokyo Technology Institute di Jepang itu.
Memang, kata dia, awan aneh ini masih menjadi perdebatan di antara para ilmuwan. Tapi, kata dia, sebaiknya BMG merespons dengan baik munculnya awan aneh ini. "Apakah awan aneh itu terkait atau tidak dengan gempa, sama-sama perlu dibuktikan dan perlu dilakukan penelitian mendalam," kata alumnus ITB jurusan meteorologi itu.
Kadarsah termasuk pihak yang berpendapat bahwa awan aneh ini kemungkinan terkait dengan gempa. Apalagi, munculnya awan aneh ini juga muncul di banyak negara-negara yang pernah diguncang gempa. Karena itu, munculnya awan aneh ini perlu diwaspadai.
Ada teori sederhana yang dikemukakan Kadarsah. "Coba amati air yang keluar dari kran. Bandingkan antara air kran yang didekatkan dengan magnet dan tanpa magnet. Itu keluarnya akan berbeda," kata dia. Hal yang sama akan terjadi antara gempa dengan awan.
Dalam berbagai referensi, masalah ini sebenarnya sudah banyak dibahas. Bahkan, ada ilmuwan Cina dan Turki yang telah melakukan observasi mengenai awan aneh ini dalam waktu yang lama, sekitar 20 tahun.
"Kesimpulan observasi, dari 39 gempa yang diamati, ada 29 gempa yang terjadi setelah sebelumnya terlihat awan aneh itu," kata dia.
Setelah melakukan observasi mengenai hal ini, meteorolog Cina dan Turki itu kini sedang meneliti secara ilmiah tentang kaitan awan aneh dengan gempa ini. Hingga sekarang, belum diketahui hasil penelitiannya. Mereka pun sudah mengenalkan mengenai kejadian ini dengan istilah 'meteoseisme' atau 'meteoquake'.
Sementara itu, salah seorang pembaca detikcom, Munab, memberikan kesaksian yang memperkuat pandangan ini. Alumnus ITB pernah melihat awan aneh di utara Singaraja, Bali, pada 22 Juli 2006. Dua hari kemudian, 24 Juli, muncul gempa di Singaraja, meski berkekuatan kecil. (asy)
-------------------------------------------------
Dari: sri d
Tanggal: 2006 Agu 1 15:44
Judul: [Itb75] Peneliti LAPAN: Awan Aneh Sebaiknya Perlu Diwaspadai
Jakarta - Awan aneh muncul di langit Jakarta dan sekitarnya. Di Bandung, awan aneh ini juga terlihat jelas. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) berpendapat awan ini biasa saja, masyarakat tidak perlu takut. Namun, peneliti Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) berpendapat awan aneh ini perlu diwaspadai. Ada kemungkinan awan aneh ini indikasi akan terjadinya gempa.
"Awan tersebut memang aneh. Ini anomali. Saya sudah mempelajari berbagai bentuk awan, tapi awan yang satu ini memang awan tak biasa," kata Kadarsah, meteorolog yang kini menjadi peneliti di LAPAN dan berkantor di LAPAN Bandung, saat berbincang-bincang dengan detikcom, Selasa (1/8/2006).
Kadarsah mengaku awan aneh ini terlihat jelas dari kantor LAPAN Bandung di Jl. Pasteur antara pukul 09.00 hingga 10.00 WIB. Berbeda dengan pendapat BMG, Kadarsah menilai awan aneh ini kemungkinan memiliki kaitan dengan peristiwa gempa.
"Sebelum terjadi gempa Pangandaran, teman-teman saya di LAPAN juga melihat awan yang sama. Awan aneh seperti ini dulu juga sempat muncul di Yogya dan Bantul, saat gempa susulan masih terjadi," ujar peneliti yang akan melanjutkan studi S3-nya di Tokyo Technology Institute di Jepang itu.
Memang, kata dia, awan aneh ini masih menjadi perdebatan di antara para ilmuwan. Tapi, kata dia, sebaiknya BMG merespons dengan baik munculnya awan aneh ini. "Apakah awan aneh itu terkait atau tidak dengan gempa, sama-sama perlu dibuktikan dan perlu dilakukan penelitian mendalam," kata alumnus ITB jurusan meteorologi itu.
Kadarsah termasuk pihak yang berpendapat bahwa awan aneh ini kemungkinan terkait dengan gempa. Apalagi, munculnya awan aneh ini juga muncul di banyak negara-negara yang pernah diguncang gempa. Karena itu, munculnya awan aneh ini perlu diwaspadai.
Ada teori sederhana yang dikemukakan Kadarsah. "Coba amati air yang keluar dari kran. Bandingkan antara air kran yang didekatkan dengan magnet dan tanpa magnet. Itu keluarnya akan berbeda," kata dia. Hal yang sama akan terjadi antara gempa dengan awan.
Dalam berbagai referensi, masalah ini sebenarnya sudah banyak dibahas. Bahkan, ada ilmuwan Cina dan Turki yang telah melakukan observasi mengenai awan aneh ini dalam waktu yang lama, sekitar 20 tahun.
"Kesimpulan observasi, dari 39 gempa yang diamati, ada 29 gempa yang terjadi setelah sebelumnya terlihat awan aneh itu," kata dia.
Setelah melakukan observasi mengenai hal ini, meteorolog Cina dan Turki itu kini sedang meneliti secara ilmiah tentang kaitan awan aneh dengan gempa ini. Hingga sekarang, belum diketahui hasil penelitiannya. Mereka pun sudah mengenalkan mengenai kejadian ini dengan istilah 'meteoseisme' atau 'meteoquake'.
Sementara itu, salah seorang pembaca detikcom, Munab, memberikan kesaksian yang memperkuat pandangan ini. Alumnus ITB pernah melihat awan aneh di utara Singaraja, Bali, pada 22 Juli 2006. Dua hari kemudian, 24 Juli, muncul gempa di Singaraja, meski berkekuatan kecil. (asy)
-------------------------------------------------
Dari: sri d
Tanggal: 2006 Agu 1 15:44
Judul: [Itb75] Peneliti LAPAN: Awan Aneh Sebaiknya Perlu Diwaspadai
Wednesday, July 26, 2006
"Niteni", "Niroake," dan "Nambahake"
Oleh Kusmayanto Kadiman
Menteri Negara Riset dan Teknologi
======================================
Indonesia yang dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia,
terbentang sepanjang tidak kurang dari 5.000 kilometer dari Sabang
sampai Merauke dan tepat di garis khatulistiwa, memiliki berbagai
keunikan alam.
Keanekaragaman hayati di darat dan di air hanya dapat disaingi oleh
Brasil. Begitu juga dengan keanekaragaman kekayaan alam lain, seperti
sumber daya mineral dan sumber energi. Sering kita menerima dan
menikmati kekayaan alam ini sebagai rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa
belaka.
Bahkan, tidak jarang dalam kita menerima kekayaan alam ini kita
memperlakukannya sebagai warisan nenek moyang dan kita lupa bahwa
kekayaan alam ini adalah sesungguhnya titipan anak-cucu yang mesti
kita pertahankan kelestariannya.
Dari berbagai sumber pengetahuan kita dapat memahami bahwa kekayaan
berupa keanekaragaman hayati dan sumber daya alam kita ini
dianugerahkan kepada kita melalui berbagai kejadian alam yang sering
kita kategorikan sebagai bencana alam karena menimbulkan kerugian
jangka pendek bagi umat manusia, seperti kematian, kehilangan rumah,
ternak, kebun, serta kerugian aset fisik lainnya dan juga kerugian
akses ke berbagai layanan pemerintahan, pendidikan, kesehatan,
spiritual, dan kenikmatan transaksional lain.
Padahal, jika kita dengan kepala dingin dan hati terbuka mau
menggunakan anugerah lain yang diberikan kepada kita, yaitu
keingintahuan (titen dalam bahasa Jawa atau iqra dalam bahasa Arab)
akan kejadian alam, maka kita tidak akan selalu bersifat negatif
menilai kejadian alam yang kita sebut bencana tersebut.
Niteni (dengan kata dasar titen) adalah perilaku yang menjadi ciri
kaum terdidik yang dapat diperoleh melalui bangku sekolah atau
melalui pengetahuan turun-temurun untuk selalu ingin tahu dan
mengenali alam. Dengan bekal niteni ini, kita ketahui bahwa tanah
kita menjadi subur dan laut kita begitu kaya akibat meletusnya gunung
api di darat ataupun di dasar laut yang memuntahkan berbagai unsur
alam yang lengkap dan setelah beberapa lama akan melengkapi unsur
hara dalam tanah dan berbagai mineral yang memperkaya kandungan air
laut. Jika kita hanya menggunakan kacamata miopik, maka kita akan
terjebak pada penilaian letusan gunung api ini sebagai bencana alam.
Serupa dengan berkah ketersediaan minyak bumi, gas alam, batu bara,
dan berbagai sumber daya mineral.
NKRI terbentang dan berada di perbatasan tiga lempengan bumi: Eropa-
Asia, Asia-Pasifik, dan Australia-Asia. Ketiga lempengan besar ini
bergerak dengan arah dan laju tertentu yang menyebabkan lempengan-
lempengan ini saling bergesekan dan juga bertubrukan satu dengan yang
lain. Gesekan dan tubrukan ini yang membuat satu lapisan menumpuk di
lapisan lain, menciptakan ruang-ruang kosong dan jadi jebakan bagi
gas, minyak bumi, batu bara, dan bahan galian lain.
Di sisi lain, gesekan dan tubrukan dua atau lebih massa besar ini
menimbulkan getaran besar dan dislokasi massa yang jika terjadi di
dasar laut akan mengubah perilaku laut secara mendadak, tsunami (tsu
dan nami bahasa Jepang yang berarti gelombang menuju darat atau
pelabuhan) adalah salah satu contoh. Kekuatan tsunami mampu membawa
berbagai unsur laut yang subur dan kaya akan mineral ke daratan.
Sekali lagi, dengan kriteria jangka pendek yang membuat kita
terperangkap dalam menilai tsunami sebagai bencana alam.
Tantangan bagi kita semua adalah bagaimana kita dengan sepenuhnya
dapat menikmati dan mensyukuri kekayaan alam dan secara simultan
dapat menyikapi dan menghindarkan dampak negatif dari kejadian alam
yang kita sebut bencana alam itu? Ki Hadjar Dewantara mewariskan pada
kita ilmu dan pengetahuan pamungkas, yaitu N3: Niteni, Niroake, dan
Nambahake. Jika niteni fokus pada upaya mengetahui dan mengenali
berbagai kejadian alam. Niroake atau menirukan adalah langkah
selanjutnya dari hasil kita niteni, yaitu berupaya menirukan kejadian
alam yang telah kita ketahui dan pahami untuk tujuan memenuhi
kebutuhan kita. Sedangkan nambahake adalah upaya memberi nilai tambah
dari kejadian alam yang telah kita kuasai dan bisa tirukan tersebut.
Mari kita lihat bagaimana niteni, niroake, dan nambahake kita
terapkan dalam menyikapi "bencana alam", khususnya letusan gunung
api, gempa tektonik, dan tsunami.
Peringatan dini
Iptek yang diperoleh dari bangku sekolah, seperti geologi dan
geofisika, maupun pengetahuan turun-temurun yang mengajarkan untuk
mengenali peristiwa-peristiwa alam, baik dengan mengamati perubahan-
perubahan perilaku alam yang besar sampai terkecil selalu berbasis
pada niteni, yaitu mengenali perilaku alam.
Gerakan ketiga lempengan besar yang telah disebutkan terdahulu selalu
diikuti dengan tanda-tanda alam. Getaran-getaran seismik, turun-
naiknya temperatur, tekanan udara dan tinggi permukaan laut,
pergeseran pola magnetik, perubahan perilaku binatang, adalah
beberapa contoh dari tanda-tanda alam yang boleh jadi disebabkan oleh
gesekan dan tubrukan lempengan bumi. Istilah smong yang dikenal baik
dalam kultur Simeulue adalah suatu contoh konkret dari niteni
perilaku alam, yaitu turunnya muka laut secara tiba-tiba yang diikuti
dengan aksi lari ke tempat tinggi dalam upaya meminimumkan korban
dari bencana tsunami.
Dengan mengenali perilaku alam ini, kemudian kita bisa menirukannya,
tentu tidak dengan sempurna karena berbagai keterbatasan yang ada.
Dalam ilmu logis, upaya niroake (menirukan) ini kemudian dikenal
dengan istilah simulasi yang banyak digunakan sebagai upaya memenuhi
kebutuhan kita. Simulasi gunung api dan gempa tektonik yang menjadi
bekal kita untuk melakukan prakiraan akan munculnya bencana. Sistem
Peringatan Dini Tsunami (Tsunami Early Warning System/T-EWS) dibangun
dengan modal dasar niteni dan niroake.
Data yang dihasilkan oleh perlengkapan dan peralatan mendeteksi
getaran bumi, baik di darat maupun di laut, dipasang di titik-titik
yang diperkirakan akan mampu memberi sinyal akan kejadian gempa
tektonik yang kemudian menjadi bekal dalam upaya niroake (kata lain
dari simulasi) yang kemudian akan memberi tahu tentang kemungkinan
suatu gempa tektonik di dasar laut akan menimbulkan tsunami. Ini yang
kita sebut sebagai peringatan dini tsunami.
Idem dengan gunung api, beragam peralatan yang terpasang tepat di
lokasi puncak gunung api ataupun pemantauan yang dilakukan dari jarak
jauh sampai pada pemanfaatan citra satelit akan memberi masukan bagi
simulasi gunung api.
Melalui simulasi ini kita bisa memberi peringatan dini letusan gunung
api. Titen yang dipraktikkan Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi,
adalah pendekatan holistik yang sebetulnya merupakan N3 yang
komplementer dari iptek logis: geologi, geofisik, dan biofisik.
Sistem peringatan dini tsunami dan gunung api yang dijadikan cikal
bakal pembangunan Sistem Peringatan Dini Bencana (Multi Hazard Early
Warning System/MH-EWS). Longsor, banjir, dan kebakaran kebun-hutan
adalah jenis bencana yang perlu juga kita upayakan bersama
penanggulangannya.
Untaian sepanjang 1.200 km dari barat sampai ke timur Indonesia yang
merupakan batas-batas ketiga lempengan besar berpotensi memicu
berbagai kejadian alam besar. Untaian ini dikenal sebagai Ring of
Fire. Upaya yang paling konservatif dalam menghindarkan dari dampak
bencana alam adalah menjauhinya. Ini tentu mudah dikatakan, tapi
muskil untuk dilakukan. Membangun MH-EWS dan melakukan pembelajaran
publik akan berbagai potensi bencana adalah langkah yang akan efektif
dalam mitigasi atau mengurangi dampak bencana.
Pembelajaran publik
Mengajarkan pengetahuan kejadian alam melalui bangku sekolah adalah
salah satu cara, baik melalui kurikulum formal maupun memanfaatkan
berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Khotbah di masjid, gereja, pura,
vihara, kelenteng, dan rumah ibadah lain adalah juga cara yang
terbukti ampuh. Tulisan-tulisan ilmiah populer dan komik juga upaya
yang luhur. Masyarakat Jepang dapat kita jadikan sebagai model
panutan dalam pembelajaran publik dalam menyikapi bencana alam,
mengingat deretan pulau dan lautnya menyimpan potensi besar berbagai
bencana alam.
Komik Api Inamura (Inamura Nori) telah dikenal masyarakat Jepang
sejak abad ke-18 sebagai upaya pembelajaran publik dalam mengenali
dan menyikapi tsunami. Kemajemukan kultur dan struktur komunitas
Indonesia yang memiliki pengetahuan turun temurun dan menjunjung
kearifan lokal, seperti smong di masyarakat Simeulue, perlu terus
digalang, didorong, dan ditumbuhkembangkan sebagai upaya memperkaya
iptek logis yang masih jauh dari merata dan mencukupi, mengingat
pendidikan formal masih juga belum berhasil dijadikan sebagai
komponen utama pembangunan Indonesia.
Dengan membaiknya pengetahuan masyarakat tentang bencana tentu
berbagai adaptasi akan segera dilakukan. Bangunan tahan gempa dan
siaga terhadap bencana adalah dua hal penting dalam upaya mitigasi
bencana.
Bangunan tahan gempa?
Dengan mengenali beragam potensi bencana alam, tentu masyarakat
dengan pengetahuan dan kemampuan yang ada akan melakukan penyesuaian.
Ini merupakan sifat natural dari manusia untuk tetap bisa hidup (to
learn dan to survive).
Rumah-rumah adat yang kita kategorikan sebagai bangunan dengan
arsitektur tradisional sebetulnya sudah secara intrinsik
memperhitungkan potensi bencana alam. Pembangunan rumah menggunakan
fondasi pasir, kayu, dan tali pada rumah-rumah adat dan tradisional
seperti bangunan rumah kaum Badui di Banten Dalam adalah jenis rumah
tahan gempa karena bangunannya yang fleksibel alias lentur dan dapat
beradaptasi terhadap gerakan lateral dan vertikal akibat getaran dan
gempa.
Tawaran menarik dari arsitektur modern dengan komponen cepat pasang
berbasis semen, batu, dan besi membuat rumah kaku dan rentan terhadap
bencana alam.
Tentu tidak arif memberi penilaian bahwa pendekatan modern ini buruk
jika dibandingkan dengan arsitektur bangunan tradisional. Kita wajib
menggunakan prinsip nambahake (menambahkan) rancangan yang menjadikan
arsitektur cepat bangun memiliki sifat lentur, khususnya pada fondasi
dan komponen-komponen sambungan.
Ini yang kemudian diperkenalkan sebagai struktur bangunan tahan
gempa. Hal ini berlaku juga pada pembangunan bangunan-bangunan lain
di darat dan di pesisir, baik untuk rumah, bangunan publik, maupun
industri. Merupakan kewajiban bagi pemerintah untuk menetapkan
persyaratan bangunan (yang dikenal dengan istilah building code &
standard) dan melakukan pengawasan dengan saksama dalam pemenuhan
persyaratan tersebut.
Agar masyarakat siaga?
Mengenali potensi bencana merupakan prasyarat dalam mitigasi bencana.
Pelajaran dari pengetahuan turun temurun, kearifan lokal dan
memadukannya dengan pengetahuan dan pengalaman logis yang
ditumbuhkembangkan oleh kaum intelek di kampus, laboratorium, studio,
atau kelompok ormas dan LSM domestik serta internasional akan menjadi
ciri khas alias keunikan pendekatan ala Indonesia. Niteni, niroake,
dan nambahake akan menambah koleksi solusi anak negeri sebagai
perwujudan moto Bhinneka Tunggal Ika.
Kombinasi bangun dan sebarluaskan merupakan cara efektif dalam upaya
menjadikan masyarakat kita siaga terhadap bencana. Inisiatif
masyarakat Padang, Sumatera Barat, melakukan simulasi gempa dan
tsunami yang dipimpin langsung Wali Kota Padang beberapa bulan lalu
merupakan contoh yang bukan cuma patut diacungi jempol, melainkan
ditiru, khususnya bagi masyarakat-masyarakat di pesisir Sumatera,
Jawa, NTB, NTT, Sulawesi, Maluku, dan pulau-pulau lain. Paket-paket
pendidikan dan pelatihan menghadapi bencana tsunami, gempa tektonik,
dan letusan gunung api mesti terus dibangun, disebarluaskan, dan
diterapkan melalui berbagai peluang pembelajaran publik, baik dengan
prinsip wajib atau sukarela.
Bayangkan seandainya kiat smong masyarakat Simeulue sempat kita
budayakan di Aceh, pembelajaran dan simulasi tsunami ala Pemkot
Padang dengan sungguh-sungguh kita lakukan dan T-EWS telah efektif…
tentu tragedi tsunami 26 Desember 2004 tidak memakan korban sebesar
yang kita alami.
Seandainya budaya membangun rumah kaum Badui, Banten Dalam, telah
menjadi kebiasaan masyarakat Yogyakarta, paket pelatihan menghadapi
gempa telah kita terus bangun, sebar luaskan, dan terapkan dan MH-EWS
telah terbangun dan berfungsi… tentu kehancuran dan korban gempa
tektonik 27 Mei 2006 akan minimal.
Terlambat? Mengapa tidak… karena itu lebih baik dari tidak
melakukannya sama sekali.
-----------------------------------------
Dari: Fernando Glenn
Tanggal: 2006 Jul 26 13:31
Judul: [hobby_club] "Niteni", "Niroake," dan "Nambahake"
Menteri Negara Riset dan Teknologi
======================================
Indonesia yang dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia,
terbentang sepanjang tidak kurang dari 5.000 kilometer dari Sabang
sampai Merauke dan tepat di garis khatulistiwa, memiliki berbagai
keunikan alam.
Keanekaragaman hayati di darat dan di air hanya dapat disaingi oleh
Brasil. Begitu juga dengan keanekaragaman kekayaan alam lain, seperti
sumber daya mineral dan sumber energi. Sering kita menerima dan
menikmati kekayaan alam ini sebagai rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa
belaka.
Bahkan, tidak jarang dalam kita menerima kekayaan alam ini kita
memperlakukannya sebagai warisan nenek moyang dan kita lupa bahwa
kekayaan alam ini adalah sesungguhnya titipan anak-cucu yang mesti
kita pertahankan kelestariannya.
Dari berbagai sumber pengetahuan kita dapat memahami bahwa kekayaan
berupa keanekaragaman hayati dan sumber daya alam kita ini
dianugerahkan kepada kita melalui berbagai kejadian alam yang sering
kita kategorikan sebagai bencana alam karena menimbulkan kerugian
jangka pendek bagi umat manusia, seperti kematian, kehilangan rumah,
ternak, kebun, serta kerugian aset fisik lainnya dan juga kerugian
akses ke berbagai layanan pemerintahan, pendidikan, kesehatan,
spiritual, dan kenikmatan transaksional lain.
Padahal, jika kita dengan kepala dingin dan hati terbuka mau
menggunakan anugerah lain yang diberikan kepada kita, yaitu
keingintahuan (titen dalam bahasa Jawa atau iqra dalam bahasa Arab)
akan kejadian alam, maka kita tidak akan selalu bersifat negatif
menilai kejadian alam yang kita sebut bencana tersebut.
Niteni (dengan kata dasar titen) adalah perilaku yang menjadi ciri
kaum terdidik yang dapat diperoleh melalui bangku sekolah atau
melalui pengetahuan turun-temurun untuk selalu ingin tahu dan
mengenali alam. Dengan bekal niteni ini, kita ketahui bahwa tanah
kita menjadi subur dan laut kita begitu kaya akibat meletusnya gunung
api di darat ataupun di dasar laut yang memuntahkan berbagai unsur
alam yang lengkap dan setelah beberapa lama akan melengkapi unsur
hara dalam tanah dan berbagai mineral yang memperkaya kandungan air
laut. Jika kita hanya menggunakan kacamata miopik, maka kita akan
terjebak pada penilaian letusan gunung api ini sebagai bencana alam.
Serupa dengan berkah ketersediaan minyak bumi, gas alam, batu bara,
dan berbagai sumber daya mineral.
NKRI terbentang dan berada di perbatasan tiga lempengan bumi: Eropa-
Asia, Asia-Pasifik, dan Australia-Asia. Ketiga lempengan besar ini
bergerak dengan arah dan laju tertentu yang menyebabkan lempengan-
lempengan ini saling bergesekan dan juga bertubrukan satu dengan yang
lain. Gesekan dan tubrukan ini yang membuat satu lapisan menumpuk di
lapisan lain, menciptakan ruang-ruang kosong dan jadi jebakan bagi
gas, minyak bumi, batu bara, dan bahan galian lain.
Di sisi lain, gesekan dan tubrukan dua atau lebih massa besar ini
menimbulkan getaran besar dan dislokasi massa yang jika terjadi di
dasar laut akan mengubah perilaku laut secara mendadak, tsunami (tsu
dan nami bahasa Jepang yang berarti gelombang menuju darat atau
pelabuhan) adalah salah satu contoh. Kekuatan tsunami mampu membawa
berbagai unsur laut yang subur dan kaya akan mineral ke daratan.
Sekali lagi, dengan kriteria jangka pendek yang membuat kita
terperangkap dalam menilai tsunami sebagai bencana alam.
Tantangan bagi kita semua adalah bagaimana kita dengan sepenuhnya
dapat menikmati dan mensyukuri kekayaan alam dan secara simultan
dapat menyikapi dan menghindarkan dampak negatif dari kejadian alam
yang kita sebut bencana alam itu? Ki Hadjar Dewantara mewariskan pada
kita ilmu dan pengetahuan pamungkas, yaitu N3: Niteni, Niroake, dan
Nambahake. Jika niteni fokus pada upaya mengetahui dan mengenali
berbagai kejadian alam. Niroake atau menirukan adalah langkah
selanjutnya dari hasil kita niteni, yaitu berupaya menirukan kejadian
alam yang telah kita ketahui dan pahami untuk tujuan memenuhi
kebutuhan kita. Sedangkan nambahake adalah upaya memberi nilai tambah
dari kejadian alam yang telah kita kuasai dan bisa tirukan tersebut.
Mari kita lihat bagaimana niteni, niroake, dan nambahake kita
terapkan dalam menyikapi "bencana alam", khususnya letusan gunung
api, gempa tektonik, dan tsunami.
Peringatan dini
Iptek yang diperoleh dari bangku sekolah, seperti geologi dan
geofisika, maupun pengetahuan turun-temurun yang mengajarkan untuk
mengenali peristiwa-peristiwa alam, baik dengan mengamati perubahan-
perubahan perilaku alam yang besar sampai terkecil selalu berbasis
pada niteni, yaitu mengenali perilaku alam.
Gerakan ketiga lempengan besar yang telah disebutkan terdahulu selalu
diikuti dengan tanda-tanda alam. Getaran-getaran seismik, turun-
naiknya temperatur, tekanan udara dan tinggi permukaan laut,
pergeseran pola magnetik, perubahan perilaku binatang, adalah
beberapa contoh dari tanda-tanda alam yang boleh jadi disebabkan oleh
gesekan dan tubrukan lempengan bumi. Istilah smong yang dikenal baik
dalam kultur Simeulue adalah suatu contoh konkret dari niteni
perilaku alam, yaitu turunnya muka laut secara tiba-tiba yang diikuti
dengan aksi lari ke tempat tinggi dalam upaya meminimumkan korban
dari bencana tsunami.
Dengan mengenali perilaku alam ini, kemudian kita bisa menirukannya,
tentu tidak dengan sempurna karena berbagai keterbatasan yang ada.
Dalam ilmu logis, upaya niroake (menirukan) ini kemudian dikenal
dengan istilah simulasi yang banyak digunakan sebagai upaya memenuhi
kebutuhan kita. Simulasi gunung api dan gempa tektonik yang menjadi
bekal kita untuk melakukan prakiraan akan munculnya bencana. Sistem
Peringatan Dini Tsunami (Tsunami Early Warning System/T-EWS) dibangun
dengan modal dasar niteni dan niroake.
Data yang dihasilkan oleh perlengkapan dan peralatan mendeteksi
getaran bumi, baik di darat maupun di laut, dipasang di titik-titik
yang diperkirakan akan mampu memberi sinyal akan kejadian gempa
tektonik yang kemudian menjadi bekal dalam upaya niroake (kata lain
dari simulasi) yang kemudian akan memberi tahu tentang kemungkinan
suatu gempa tektonik di dasar laut akan menimbulkan tsunami. Ini yang
kita sebut sebagai peringatan dini tsunami.
Idem dengan gunung api, beragam peralatan yang terpasang tepat di
lokasi puncak gunung api ataupun pemantauan yang dilakukan dari jarak
jauh sampai pada pemanfaatan citra satelit akan memberi masukan bagi
simulasi gunung api.
Melalui simulasi ini kita bisa memberi peringatan dini letusan gunung
api. Titen yang dipraktikkan Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi,
adalah pendekatan holistik yang sebetulnya merupakan N3 yang
komplementer dari iptek logis: geologi, geofisik, dan biofisik.
Sistem peringatan dini tsunami dan gunung api yang dijadikan cikal
bakal pembangunan Sistem Peringatan Dini Bencana (Multi Hazard Early
Warning System/MH-EWS). Longsor, banjir, dan kebakaran kebun-hutan
adalah jenis bencana yang perlu juga kita upayakan bersama
penanggulangannya.
Untaian sepanjang 1.200 km dari barat sampai ke timur Indonesia yang
merupakan batas-batas ketiga lempengan besar berpotensi memicu
berbagai kejadian alam besar. Untaian ini dikenal sebagai Ring of
Fire. Upaya yang paling konservatif dalam menghindarkan dari dampak
bencana alam adalah menjauhinya. Ini tentu mudah dikatakan, tapi
muskil untuk dilakukan. Membangun MH-EWS dan melakukan pembelajaran
publik akan berbagai potensi bencana adalah langkah yang akan efektif
dalam mitigasi atau mengurangi dampak bencana.
Pembelajaran publik
Mengajarkan pengetahuan kejadian alam melalui bangku sekolah adalah
salah satu cara, baik melalui kurikulum formal maupun memanfaatkan
berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Khotbah di masjid, gereja, pura,
vihara, kelenteng, dan rumah ibadah lain adalah juga cara yang
terbukti ampuh. Tulisan-tulisan ilmiah populer dan komik juga upaya
yang luhur. Masyarakat Jepang dapat kita jadikan sebagai model
panutan dalam pembelajaran publik dalam menyikapi bencana alam,
mengingat deretan pulau dan lautnya menyimpan potensi besar berbagai
bencana alam.
Komik Api Inamura (Inamura Nori) telah dikenal masyarakat Jepang
sejak abad ke-18 sebagai upaya pembelajaran publik dalam mengenali
dan menyikapi tsunami. Kemajemukan kultur dan struktur komunitas
Indonesia yang memiliki pengetahuan turun temurun dan menjunjung
kearifan lokal, seperti smong di masyarakat Simeulue, perlu terus
digalang, didorong, dan ditumbuhkembangkan sebagai upaya memperkaya
iptek logis yang masih jauh dari merata dan mencukupi, mengingat
pendidikan formal masih juga belum berhasil dijadikan sebagai
komponen utama pembangunan Indonesia.
Dengan membaiknya pengetahuan masyarakat tentang bencana tentu
berbagai adaptasi akan segera dilakukan. Bangunan tahan gempa dan
siaga terhadap bencana adalah dua hal penting dalam upaya mitigasi
bencana.
Bangunan tahan gempa?
Dengan mengenali beragam potensi bencana alam, tentu masyarakat
dengan pengetahuan dan kemampuan yang ada akan melakukan penyesuaian.
Ini merupakan sifat natural dari manusia untuk tetap bisa hidup (to
learn dan to survive).
Rumah-rumah adat yang kita kategorikan sebagai bangunan dengan
arsitektur tradisional sebetulnya sudah secara intrinsik
memperhitungkan potensi bencana alam. Pembangunan rumah menggunakan
fondasi pasir, kayu, dan tali pada rumah-rumah adat dan tradisional
seperti bangunan rumah kaum Badui di Banten Dalam adalah jenis rumah
tahan gempa karena bangunannya yang fleksibel alias lentur dan dapat
beradaptasi terhadap gerakan lateral dan vertikal akibat getaran dan
gempa.
Tawaran menarik dari arsitektur modern dengan komponen cepat pasang
berbasis semen, batu, dan besi membuat rumah kaku dan rentan terhadap
bencana alam.
Tentu tidak arif memberi penilaian bahwa pendekatan modern ini buruk
jika dibandingkan dengan arsitektur bangunan tradisional. Kita wajib
menggunakan prinsip nambahake (menambahkan) rancangan yang menjadikan
arsitektur cepat bangun memiliki sifat lentur, khususnya pada fondasi
dan komponen-komponen sambungan.
Ini yang kemudian diperkenalkan sebagai struktur bangunan tahan
gempa. Hal ini berlaku juga pada pembangunan bangunan-bangunan lain
di darat dan di pesisir, baik untuk rumah, bangunan publik, maupun
industri. Merupakan kewajiban bagi pemerintah untuk menetapkan
persyaratan bangunan (yang dikenal dengan istilah building code &
standard) dan melakukan pengawasan dengan saksama dalam pemenuhan
persyaratan tersebut.
Agar masyarakat siaga?
Mengenali potensi bencana merupakan prasyarat dalam mitigasi bencana.
Pelajaran dari pengetahuan turun temurun, kearifan lokal dan
memadukannya dengan pengetahuan dan pengalaman logis yang
ditumbuhkembangkan oleh kaum intelek di kampus, laboratorium, studio,
atau kelompok ormas dan LSM domestik serta internasional akan menjadi
ciri khas alias keunikan pendekatan ala Indonesia. Niteni, niroake,
dan nambahake akan menambah koleksi solusi anak negeri sebagai
perwujudan moto Bhinneka Tunggal Ika.
Kombinasi bangun dan sebarluaskan merupakan cara efektif dalam upaya
menjadikan masyarakat kita siaga terhadap bencana. Inisiatif
masyarakat Padang, Sumatera Barat, melakukan simulasi gempa dan
tsunami yang dipimpin langsung Wali Kota Padang beberapa bulan lalu
merupakan contoh yang bukan cuma patut diacungi jempol, melainkan
ditiru, khususnya bagi masyarakat-masyarakat di pesisir Sumatera,
Jawa, NTB, NTT, Sulawesi, Maluku, dan pulau-pulau lain. Paket-paket
pendidikan dan pelatihan menghadapi bencana tsunami, gempa tektonik,
dan letusan gunung api mesti terus dibangun, disebarluaskan, dan
diterapkan melalui berbagai peluang pembelajaran publik, baik dengan
prinsip wajib atau sukarela.
Bayangkan seandainya kiat smong masyarakat Simeulue sempat kita
budayakan di Aceh, pembelajaran dan simulasi tsunami ala Pemkot
Padang dengan sungguh-sungguh kita lakukan dan T-EWS telah efektif…
tentu tragedi tsunami 26 Desember 2004 tidak memakan korban sebesar
yang kita alami.
Seandainya budaya membangun rumah kaum Badui, Banten Dalam, telah
menjadi kebiasaan masyarakat Yogyakarta, paket pelatihan menghadapi
gempa telah kita terus bangun, sebar luaskan, dan terapkan dan MH-EWS
telah terbangun dan berfungsi… tentu kehancuran dan korban gempa
tektonik 27 Mei 2006 akan minimal.
Terlambat? Mengapa tidak… karena itu lebih baik dari tidak
melakukannya sama sekali.
-----------------------------------------
Dari: Fernando Glenn
Tanggal: 2006 Jul 26 13:31
Judul: [hobby_club] "Niteni", "Niroake," dan "Nambahake"
Insiden dan temuan ilmiah terakhir: tanpa protokol pengujian, pangan transgenik bermasalah pada kesehatan
Hira Jhamtani - 20 Jul 2006 17:52
Pengamatan dan pencatatan tentang keamanan pangan transgenik telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai kejadian dan temuan ilmiah yang menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan pangan dan pakan transgenik semakin banyak. Namun sejauh ini pihak berwewenang masih mengabaikan atau menegasikan temuan tersebut.
Laporan terakhir dari India menyatakan bahwa ratusan petani di negara bagian Madhya Pradesh yang menangani kapas transgenik Bt jatuh sakit dengan gejala alergi. Sementara paling tidak 1.800 domba mati karena reaksi toksik saat makan sisa-sisa tanaman kapas Bt di empat desa di negara bagian Andhra Pradesh.
Belum lama sebelumnya, penulis juga telah melaporkan kepada pihak berwewenang tentang adanya penyakit serupa dan bahkan kematian penduduk desa di Mindanao Selatan, Filipina, yang dikaitkan dengan pemaparan pada jagung Bt sejak 2003.
Demikian pula sebelum kejadian itu, Dr Irina Ermakova dari Academy of Sciences Rusia melaporkan pada sebuah konferensi ilmiah bahwa 36 persen tikus yang lahir dari ibu yang diberi makan kedelai transgenik, pertumbuhannya amat terhambat dibandingkan dengan 6 persen tikus yang lahir dari ibu yang diberi makan kedelai non-transgenik.
Dalam tiga minggu, 55,6 persen anak dari tikus yang diberi makan kedelai transgenik mati. Tingkat kematian ini adalah enam hingga delapan kali kematian anak dari tikus yang diberi makan kedelai non-transgenik atau makanan tanpa kedelai tambahan.
Ermakova dan tim penelitinya telah melakukan eksperimen ini tiga kali dan selalu mendapatkan hasil yang amat mirip.
Sementara itu, penelitian di Canberra, Australia melaporkan bahwa sebuah protein yang tidak berbahaya dalam kacang ketika ditransfer atau disisipkan ke kacang kapri, menyebabkan inflamasi pada paru-paru tikus dan merangsang reaksi pada protein lain di dalam. Mereka menunjukkan bahwa protein transgenik diolah secara berbeda di dalam spesies asing, sehingga mengubah protein biasa menjadi imunogen yang kuat.
Selain itu, protein transgenik meningkatkan reaksi imunologis terhadap protein berganda lain di dalam makanan. Dengan kata lain, protein transgenik merangsang kepekaan terhadap makanan yang bisa membahayakan.
Hampir semua protein transgenik melibatkan transfer gen ke spesies asing, maka protein itu akan mengalami pengolahan yang berbeda. Oleh karena itu, semua protein transgenik bisa menimbulkan reaksi kekebalan yang serius termasuk alergi. Hal ini tentu relevan dengan kejadian sakit dan kematian yang terkait dengan tanaman Bt.
Meski demikian, tidak satu pun protein transgenik yang diloloskan secara komersial untuk pangan dan pakan diperiksa melalui protokol pengujian seperti yang dilakukan pada protein kacang kapri. Pengabaian ini adalah masalah kesehatan masyarakat yang serius. Seharusnya, pangan dan pakan transgenik segera dilarang sampai penilaian yang benar terhadap potensi imunologis dari semua protein transgenik sudah dilakukan.
Penulis juga perlu menyebutkan serangkaian kajian yang dilakukan oleh para ilmuwan dari Universitas Urbino, Perugia dan Pavia di Italia. Mereka mendokumentasikan perubahan signifikan dalam sel pankreas dan hati tikus yang diberi makan kedelai transgenik. Kemudian mereka membandingkannya dengan kontrol. Beberapa kontrol dibalik, yaitu makanannya diubah dari kedelai transgenik ke kedelai non-transgenik. Hasilnya juga terjadi penurunan dalam transkripsi pada sel-sel testis (organ kelamin jantan) dalam tikus muda yang diberi makan kedelai transgenik dibandingkan dengan yang makan kedelai non-transgenik.
Berikut ringkasan daftar temuan yang menunjukkan bahwa pakan dan pangan transgenik tidak aman.
Penulis adalah Dewan Penyantun Konphalindo.
------------------------------------------
Sumber : http://beritabumi.or.id/artikel3.php?idartikel=190
Pengamatan dan pencatatan tentang keamanan pangan transgenik telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai kejadian dan temuan ilmiah yang menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan pangan dan pakan transgenik semakin banyak. Namun sejauh ini pihak berwewenang masih mengabaikan atau menegasikan temuan tersebut.
Laporan terakhir dari India menyatakan bahwa ratusan petani di negara bagian Madhya Pradesh yang menangani kapas transgenik Bt jatuh sakit dengan gejala alergi. Sementara paling tidak 1.800 domba mati karena reaksi toksik saat makan sisa-sisa tanaman kapas Bt di empat desa di negara bagian Andhra Pradesh.
Belum lama sebelumnya, penulis juga telah melaporkan kepada pihak berwewenang tentang adanya penyakit serupa dan bahkan kematian penduduk desa di Mindanao Selatan, Filipina, yang dikaitkan dengan pemaparan pada jagung Bt sejak 2003.
Demikian pula sebelum kejadian itu, Dr Irina Ermakova dari Academy of Sciences Rusia melaporkan pada sebuah konferensi ilmiah bahwa 36 persen tikus yang lahir dari ibu yang diberi makan kedelai transgenik, pertumbuhannya amat terhambat dibandingkan dengan 6 persen tikus yang lahir dari ibu yang diberi makan kedelai non-transgenik.
Dalam tiga minggu, 55,6 persen anak dari tikus yang diberi makan kedelai transgenik mati. Tingkat kematian ini adalah enam hingga delapan kali kematian anak dari tikus yang diberi makan kedelai non-transgenik atau makanan tanpa kedelai tambahan.
Ermakova dan tim penelitinya telah melakukan eksperimen ini tiga kali dan selalu mendapatkan hasil yang amat mirip.
Sementara itu, penelitian di Canberra, Australia melaporkan bahwa sebuah protein yang tidak berbahaya dalam kacang ketika ditransfer atau disisipkan ke kacang kapri, menyebabkan inflamasi pada paru-paru tikus dan merangsang reaksi pada protein lain di dalam. Mereka menunjukkan bahwa protein transgenik diolah secara berbeda di dalam spesies asing, sehingga mengubah protein biasa menjadi imunogen yang kuat.
Selain itu, protein transgenik meningkatkan reaksi imunologis terhadap protein berganda lain di dalam makanan. Dengan kata lain, protein transgenik merangsang kepekaan terhadap makanan yang bisa membahayakan.
Hampir semua protein transgenik melibatkan transfer gen ke spesies asing, maka protein itu akan mengalami pengolahan yang berbeda. Oleh karena itu, semua protein transgenik bisa menimbulkan reaksi kekebalan yang serius termasuk alergi. Hal ini tentu relevan dengan kejadian sakit dan kematian yang terkait dengan tanaman Bt.
Meski demikian, tidak satu pun protein transgenik yang diloloskan secara komersial untuk pangan dan pakan diperiksa melalui protokol pengujian seperti yang dilakukan pada protein kacang kapri. Pengabaian ini adalah masalah kesehatan masyarakat yang serius. Seharusnya, pangan dan pakan transgenik segera dilarang sampai penilaian yang benar terhadap potensi imunologis dari semua protein transgenik sudah dilakukan.
Penulis juga perlu menyebutkan serangkaian kajian yang dilakukan oleh para ilmuwan dari Universitas Urbino, Perugia dan Pavia di Italia. Mereka mendokumentasikan perubahan signifikan dalam sel pankreas dan hati tikus yang diberi makan kedelai transgenik. Kemudian mereka membandingkannya dengan kontrol. Beberapa kontrol dibalik, yaitu makanannya diubah dari kedelai transgenik ke kedelai non-transgenik. Hasilnya juga terjadi penurunan dalam transkripsi pada sel-sel testis (organ kelamin jantan) dalam tikus muda yang diberi makan kedelai transgenik dibandingkan dengan yang makan kedelai non-transgenik.
Berikut ringkasan daftar temuan yang menunjukkan bahwa pakan dan pangan transgenik tidak aman.
Penulis adalah Dewan Penyantun Konphalindo.
------------------------------------------
Sumber : http://beritabumi.or.id/artikel3.php?idartikel=190
Saturday, July 22, 2006
Humor biar tetep segar dan semangat
Ada 3 drakula, mereka bikin kompetisi siapa yang paling kejam dan sadis.
Drakula yang paling muda dapet kesempatan duluan. Tiba-tiba dia lari secepat kilat, terus 2 menit udah balik lagi. Mukanya penuh lumuran darah, seringainya serem. Terus dia ngomong : "Lu pade liat Desa di seberang bukit itu?" Yang dua ngangguk, "Iya, liat" .. "Desa itu .. habiissss !!!!"
Yang paling tua panas juga .. dia juga pergi sekelebat, terus 1 menit udah balik, mukanya juga penuh sama cucuran darah. "Lu liat Kota yang itu ?", katanya sambil mukanya nunjukin kalo dia bangga bener. "Iya, liat", yang dua ngangguk juga. "Kota itu juga habiiissssss !!!", kata yang paling tua sambil ketawa serem,"ha ha ha hah".
Drakula yang satunya lagi tambah panas, dia juga pengen show off. Akhirnya dia juga lari sekelebat. Temennya yang dua terperanjat, soalnya belum sampe setengah menit dianya udah balik, dengan penuh cucuran darah di mukanya ...
Temennya yang dua membatin, "Gila ni drakula, sangar amat, ternyata dia yang paling jago". Sambil ngos-ngosan dia teriak, "Lu pade liat nggak Tiang Listrik di pas belokan sana ?"
"Liat! liat!", kata yang laen ..
"Sialan, gua kagak liat !!"
-----------------------------------
Dari: Mokhamad Unggul Juwana
Tanggal: 2006 Jul 22 06:30
Judul: [forumpolines] Humor biar tetep segar dan semangat
Drakula yang paling muda dapet kesempatan duluan. Tiba-tiba dia lari secepat kilat, terus 2 menit udah balik lagi. Mukanya penuh lumuran darah, seringainya serem. Terus dia ngomong : "Lu pade liat Desa di seberang bukit itu?" Yang dua ngangguk, "Iya, liat" .. "Desa itu .. habiissss !!!!"
Yang paling tua panas juga .. dia juga pergi sekelebat, terus 1 menit udah balik, mukanya juga penuh sama cucuran darah. "Lu liat Kota yang itu ?", katanya sambil mukanya nunjukin kalo dia bangga bener. "Iya, liat", yang dua ngangguk juga. "Kota itu juga habiiissssss !!!", kata yang paling tua sambil ketawa serem,"ha ha ha hah".
Drakula yang satunya lagi tambah panas, dia juga pengen show off. Akhirnya dia juga lari sekelebat. Temennya yang dua terperanjat, soalnya belum sampe setengah menit dianya udah balik, dengan penuh cucuran darah di mukanya ...
Temennya yang dua membatin, "Gila ni drakula, sangar amat, ternyata dia yang paling jago". Sambil ngos-ngosan dia teriak, "Lu pade liat nggak Tiang Listrik di pas belokan sana ?"
"Liat! liat!", kata yang laen ..
"Sialan, gua kagak liat !!"
-----------------------------------
Dari: Mokhamad Unggul Juwana
Tanggal: 2006 Jul 22 06:30
Judul: [forumpolines] Humor biar tetep segar dan semangat
Tuesday, July 11, 2006
MENGENAL PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR (PLTN)
Prinsip kerja PLTN, pada dasarnya sama dengan pembangkit listrik konvensional, yaitu : air diuapkan di dalam suatu ketel melalui pembakaran. Uang yang dihasilkan dialirkan ke turbin yang akan bergerak apabila ada tekanan uap. Perputaran turbin digunakan untuk menggerakkan generator, sehingga menghasilkan tenaga listrik. Perbedaannya pada pembangkit listrik konvensional bahan bakar untuk menghasilkan panas menggunakan bahan bakar fosil seperti : batu bara, minyak dan gas. Dampak dari pembakaran bahan bakar fosil ini, akan mengeluarkan karbon dioksida (CO2), sulfur dioksida (S02) dan nitrogen oksida (Nox), serta debu yang mengandung logam berat. Sisa pembakaran tersebut akan teremisikan ke udara dan berpotensi mencemari lingkungan hidup, yang bias menimbulkan hujan asam dan peningkatan suhu global. Sedangkan pada PLTN panas yang akan digunakan untuk menghasilkan uap yang sama, dihasilkan dari reaksi pembelahan inti bahan fisil (uranium) dalam reaktor nuklir.
Sebagai pemindah panas biasa digunakan air yang disalurkan secara terus menerus selama PLTN beroperasi. Proses pembangkit yang menggunakan bahan bakar uranium ini tidak melepaskan partikel sperti C02, S02, atau Nox, juga tidak mengeluarkan asap atau debu yang mengandung logam berat yang dilepas ke lingkungan. Oleh karena itu PLTN merupakan pembangkit listrik yang ramah lingkungan. Limbah radioaktif yang dihasilkan dari pengoperasian LTN, adalah berupa elemen bakar bekas dalam bentuk padat. Elemen bakar bekas ini untuk sementara bias disimpan di lokasi PLTN, sebelum dilakukan penyimpanan secara lestari.
Keselamatan Terpasang :
Keselamatan terpasang dirancang berdasarkan sifat-sifat alamiah air dan uranium. Bila suhu dalam teras reaktor naik, jumlah neutron yang tidak tertangkap maupun yang tidak mengalami proses perlambatan akan bertambah, sehingga reaksi pembelahan berkurang. Akibatnya panas yang dihasilkan juga berkurang. Sifat ini akan menjamin bahwa teras reaktor tidak akan rusak walaupun sistem kendali gagal beroperasi.
Penghalang Ganda :
PLTN mempunyai sistem pengamanan yang ketat dan berlapis-lapis, sehingga kemungkinan terjadi kecelakaan maupun akibat yang ditimbulkan sangat kecil. Sebagai contoh, zat radioaktif yang dihasilkan selama reaksi pembelahan inti uranium sebagian besar (>90%) akan tetap tersimpan di dalam matriks bahan bakar, yang berfungsi sebagai penghalang pertama. Selama operasi maupun jika terjadi kecelakaan, selongsong bahan bakar, akan berperan sebagai penghalang kedua untuk mencegah terlepasnya zat radioaktif tersebut keluar kelongsong. Kalau zat radioaktif masih dapat keluar dari dalam kelongsong, masih ada penghalang ketiga yaitu sistem pendingin. Lepas dari sistem pendingin, masih ada penghalang keempat berupa bejana tekan terbuat dari baja dengan tebal + 20cm. Penghalang kelima adalah perisai beton dengan tebal 1,5 - 2m. Bila saja zat radioaktif itu masih ada yg lolos dari perisai beton, masih ada penghalang keenam, yaitu sistim pengukung yang terdiri dari pelat baja setebal + 7cm
dan beton setebal 1.5 – 2m yang kedap udara.
Pertahanan Berlapis :
Disain keselamatan suatu PLTN menganut falsafah pertahanan berlapis (defence in depth). Pertahanan berlapis ini meliputi :
Lapisan keselamatan pertama, PLTN dirancang, dibangun dan diperasikan sesuai dengan ketentuan yang sangat ketat, mutu yg tinggi dan teknologi mutakhir.
Lapisan keselamatan kedua, PLTN dilengkapi dengan sistem pengamanan/ keselamatan yang digunakan untuk mencegah dan mengatasi akibat-akibat dari kecelakaan yang mungkin dapat terjadi selama umur PLTN.
Keselamatan ketiga, PLTN dilengkapi dengan sistim pengamanan tambahan, yang dapat diandalkan untuk dapat mengatasi kecelakaan hipotesis, atau kecelakaan terparah yang diperkirakan dapat terjadi pada suatu PLTN. Namun kecelakaan tersebut kemungkinannya tidak akan pernah terjadi selama umur PLTN.
Limbah Radioaktif :
Selama operasi PLTN, pencemaran yang disebabkan oleh zat radioaktif terhadap lingkungan dapat dikatakan tidak ada. Air laut atau sungai yang dipergunakan untuk membawa panas dari kondensor sama sekali tidak mengandung zat radioaktif, karena tidak bercampur dengan air pendingin yang bersirkulasi di dalam reaktor. Sedangkan gas radioaktif yang dapat keluar dari sistem reaktor tetap terkungkung di dalam sistem pengungkung PLTN dan sudah melalui sistem ventilasi dengan filter yang berlapis-lapis. Gas yang dilepas melalui cerobong aktivitasnya sangat kecil (sekitar 2 milicurie/tahun) sehingga tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan.
====>>>
Sumber : Bidang promosi
Pusat Diseminasi Iptek Nuklir-BATAN
Diambil dari Majalah Pengetahuan Teknologi Populer MEDIA KITA-BATAN
===========================
Dari: suhana hana
Tanggal: 2006 Jul 6 12:33
Judul: CiKEAS MENGENAL PLTN
Sebagai pemindah panas biasa digunakan air yang disalurkan secara terus menerus selama PLTN beroperasi. Proses pembangkit yang menggunakan bahan bakar uranium ini tidak melepaskan partikel sperti C02, S02, atau Nox, juga tidak mengeluarkan asap atau debu yang mengandung logam berat yang dilepas ke lingkungan. Oleh karena itu PLTN merupakan pembangkit listrik yang ramah lingkungan. Limbah radioaktif yang dihasilkan dari pengoperasian LTN, adalah berupa elemen bakar bekas dalam bentuk padat. Elemen bakar bekas ini untuk sementara bias disimpan di lokasi PLTN, sebelum dilakukan penyimpanan secara lestari.
Keselamatan Terpasang :
Keselamatan terpasang dirancang berdasarkan sifat-sifat alamiah air dan uranium. Bila suhu dalam teras reaktor naik, jumlah neutron yang tidak tertangkap maupun yang tidak mengalami proses perlambatan akan bertambah, sehingga reaksi pembelahan berkurang. Akibatnya panas yang dihasilkan juga berkurang. Sifat ini akan menjamin bahwa teras reaktor tidak akan rusak walaupun sistem kendali gagal beroperasi.
Penghalang Ganda :
PLTN mempunyai sistem pengamanan yang ketat dan berlapis-lapis, sehingga kemungkinan terjadi kecelakaan maupun akibat yang ditimbulkan sangat kecil. Sebagai contoh, zat radioaktif yang dihasilkan selama reaksi pembelahan inti uranium sebagian besar (>90%) akan tetap tersimpan di dalam matriks bahan bakar, yang berfungsi sebagai penghalang pertama. Selama operasi maupun jika terjadi kecelakaan, selongsong bahan bakar, akan berperan sebagai penghalang kedua untuk mencegah terlepasnya zat radioaktif tersebut keluar kelongsong. Kalau zat radioaktif masih dapat keluar dari dalam kelongsong, masih ada penghalang ketiga yaitu sistem pendingin. Lepas dari sistem pendingin, masih ada penghalang keempat berupa bejana tekan terbuat dari baja dengan tebal + 20cm. Penghalang kelima adalah perisai beton dengan tebal 1,5 - 2m. Bila saja zat radioaktif itu masih ada yg lolos dari perisai beton, masih ada penghalang keenam, yaitu sistim pengukung yang terdiri dari pelat baja setebal + 7cm
dan beton setebal 1.5 – 2m yang kedap udara.
Pertahanan Berlapis :
Disain keselamatan suatu PLTN menganut falsafah pertahanan berlapis (defence in depth). Pertahanan berlapis ini meliputi :
Lapisan keselamatan pertama, PLTN dirancang, dibangun dan diperasikan sesuai dengan ketentuan yang sangat ketat, mutu yg tinggi dan teknologi mutakhir.
Lapisan keselamatan kedua, PLTN dilengkapi dengan sistem pengamanan/ keselamatan yang digunakan untuk mencegah dan mengatasi akibat-akibat dari kecelakaan yang mungkin dapat terjadi selama umur PLTN.
Keselamatan ketiga, PLTN dilengkapi dengan sistim pengamanan tambahan, yang dapat diandalkan untuk dapat mengatasi kecelakaan hipotesis, atau kecelakaan terparah yang diperkirakan dapat terjadi pada suatu PLTN. Namun kecelakaan tersebut kemungkinannya tidak akan pernah terjadi selama umur PLTN.
Limbah Radioaktif :
Selama operasi PLTN, pencemaran yang disebabkan oleh zat radioaktif terhadap lingkungan dapat dikatakan tidak ada. Air laut atau sungai yang dipergunakan untuk membawa panas dari kondensor sama sekali tidak mengandung zat radioaktif, karena tidak bercampur dengan air pendingin yang bersirkulasi di dalam reaktor. Sedangkan gas radioaktif yang dapat keluar dari sistem reaktor tetap terkungkung di dalam sistem pengungkung PLTN dan sudah melalui sistem ventilasi dengan filter yang berlapis-lapis. Gas yang dilepas melalui cerobong aktivitasnya sangat kecil (sekitar 2 milicurie/tahun) sehingga tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan.
====>>>
Sumber : Bidang promosi
Pusat Diseminasi Iptek Nuklir-BATAN
Diambil dari Majalah Pengetahuan Teknologi Populer MEDIA KITA-BATAN
===========================
Dari: suhana hana
Tanggal: 2006 Jul 6 12:33
Judul: CiKEAS MENGENAL PLTN
Subscribe to:
Posts (Atom)
-
“Ki sanak, siapakah nama Ki Sanak? Dari manakah asal Ki Sanak? Sebab dari pengamatan kami, Ki Sanak bukanlah orang daerah kami…” Ia ...
-
IPDN punya tradisi pukulan setengah kancing, dimana posisinya kira-kira adalah di Ulu Hati. Apakah ada tempat lain yang mempunyai tradisi it...
-
Pada 28 Mei 2011 08:54, Ophoeng menulis: Mas Wisnu dan TTM semuwah, Hai, apakabar? Sudah makan tahu? Hehehe... pagi-pagi sudah d...