Wednesday, July 25, 2007

Lirik "kampungan" Kangen Band

----- Original Message -----
From: GF Sim
To: pepicek-post@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, July 24, 2007 5:35 AM
Subject: [pepicek-post] Anak Tukang Becak jadi Pemimpin Band

Sabtu, 21 Juli 2007


Kangen Suara Jelata

Frans Sartono

Suatu siang di Kantor Warner Music, Jakarta, enam awak band melahap nasi bungkus sambil duduk lesehan di lantai atau duduk bersila di sofa. Mereka adalah personel Kangen Band, kelompok dari Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung, yang belakangan naik daun.
"Pacarku cintailah aku/ Seperti aku cinta kamu/ Tapi kamu kok selingkuh."
Itu penggalan lirik lagu Selingkuh dari Kangen Band, yang menurut seorang produser terkesan agak "kampungan". Akan tetapi, justru nuansa kampungan itulah yang menjadikan perusahaan rekaman Warner mengambil Kangen Band.
Band bentukan 4 Juli 2005 itu kini tengah mencicipi ujung dari sebuah popularitas. Album pertama Aku, Kau & Dia yang dirilis Warner Music Indonesia (WMI) pada Februari 2007 terjual sekitar 300.000 keping. Ini termasuk angka cukup tinggi mengingat artis terkenal pun saat ini cukup sulit untuk meraih angka penjualan 50.000 kopi.
Jadwal konser keliling mereka padat. Bulan Juni lalu mereka tur ke belasan kota di Jawa Tengah, seperti Cilacap, Klaten, Jember, Tuban, Sidorajo, sampai Banyuwangi, dan Kalimantan. Di Sampit, Kalimantan, mereka tampil di hadapan sekitar 19.000 penonton. Kangen bahkan akan tampil pada konser akbar Soundrenalin 2007. Mereka kebagian tampil di Palembang (22 Juli) dan Surabaya (5 Agustus).
Kangen tengah mencicipi rezeki. Meski relatif "kecil" dibandingkan dengan perolehan band penghasil album sampai di atas satu juta kopi, awak Kangen sudah sangat bersyukur. Dodhy, sang gitaris, vokalis, dan penggubah lagu, bisa membeli sepeda motor, pesawat televisi, dan meja-kursi, serta membantu ayahnya yang bekerja sebagai penarik becak.
"Aku sudah meminta bapak untuk berhenti narik becak, tapi enggak mau. Katanya, baik untuk jantung," kata Dodhy Hardiyanto (23) tentang ayahnya yang bernama Paijo.
Setakat, itulah pengalaman paling dramatik dalam perjalanan hidup Kangen sebagai band. Kangen berawak Dodhy pada gitar dan vokal, Andika (vokal), Thama (gitar 2), Bebe (bas), Iim (drum), dan Izzy (keyboards). Mereka sama sekali tak menyangka akan diambil oleh Warner, perusahaan rekaman besar yang juga menaungi Jikustik sampai Maliq & D'Essential. Warner sebagai bagian dari perusahaan rekaman raksasa Warner Group juga mengedarkan album dari sederet nama terkenal, mulai Phil Collins, MUSE, My Chemical Romance, sampai Linkin Park.
"Ketika tiba di Jakarta, kami ketemu Pak Jusak (Produser WMI). Kami diajak makan. Meja makannya gede banget. Kami kaget saat diajak melihat studio rekaman. Kami peluk-pelukan dan menangis," kenang Dodhy saat berkunjung ke WMI, Agustus 2006.
Jelata
Mereka lahir dari realitas kehidupan rakyat jelata, bukan produk reality show. Dodhy pernah menjadi kuli bangunan. Bebe yang bernama lengkap Novri Azwat (18) membantu orangtua jualan nasi uduk di depan Rumah Sakit Abdul Muluk, Bandar Lampung. Rustam Wijaya (22) alias Tama adalah penjual sandal jepit. Iim bekerja di bengkel motor, sedangkan Andika (23), sang vokalis, adalah penjual cendol keliling.
"Makanya suara keras karena biasa teriak-teriak jualan cendol," seloroh rekannya.
Dodhy dan kawan-kawan biasa nongkrong menghibur diri sambil nyanyi di jembatan di Jalan Dr Sutomo. Sesekali, mereka berpatungan agar bisa berlatih band di studio rental. Mereka sering harus menjaminkan sepeda motor sebagai jaminan kekurangan biaya sewa studio.
Pada Juli 2005 Kangen membuat CD demo dan mengirimnya ke stasiun radio di Bandar Lampung. Mereka mengirim demo lagu Penantian yang Tertunda dan kemudian Tentang Aku, Kau & Dia. Karena jarang diputar, awak Kangen sengaja menelepon ke radio tersebut dengan berpura-pura sebagai pendengar yang meminta lagu itu untuk diperdengarkan.
Belakangan Tentang Aku, Kau & Dia sering diputar oleh radio tersebut. Sekitar empat minggu kemudian Dodhy mendengar lagu Kangen diputar oleh penjual CD di kaki lima di Pasar Tengah, Tanjung Karang.
"Waktu itu kami seneng banget denger lagu kami dibajak," kenang Dhody.
Lagu Kangen versi bajakan itu semakin populer pada pertengahan tahun 2006. Di radio, pasar, angkot-angkot di Lampung, sampai sejumlah mal di Jakarta sering memutar lagu Tentang Aku, Kau & Dia versi bajakan. Dari popularitas ala bajakan itu, Kangen banyak mendapat undangan manggung. Mereka pertama kali manggung di Pringsewu, Lampung, dengan honor Rp 800.000.
Popularitas Kangen itu kemudian terendus oleh semacam agen bernama Positif Art Management. Bulan Agutus 2006 Kangen mendapat panggilan untuk tampil di Jakarta. Bermodal uang pinjaman mereka berangkat ke Jakarta.
"Kami ketemu mereka dalam keadaan nganggur. Kami tawari mereka untuk main di Jakarta," kenang Sujana dari Positif Art Management.
"Kampungan"
Mengapa Kangen Band?
"Kami menyukai mass market (pasar massal) selain juga yang segmented-tersegmentasi. Yang segmented ini juga penting," kata Jusak Sutiono, Managing Director WMI yang ditemui di Kantor WMI, Jakarta.
Pasar massal dalam dunia dagang adalah kelompok konsumen paling besar untuk produk tertentu. Lebih spesifik lagi pasar massal untuk Kangen Band tersebut adalah kelompok C dan D. Mereka, dari parameter daya beli, adalah kelompok masyarakat menengah ke bawah.
"Mass market, kelas C dan D, kini dilupakan orang," kata Jusak.
Jusak menengarai, pasar massal cenderung menyukai lagu dengan melodi yang didominasi nada minor serta aransemen sederhana. Di telinga Jusak, Kangen Band menawarkan materi dengaran yang agak berbeda, yaitu adanya sentuhan Melayu dan Mandarin pada beberapa lagu mereka, seperti pada lagu Tentang Bintang atau juga Adakah Jawabnya.
"Dan lirik lagu agak kampungan itu tadi ha-ha-ha...." kata Jusak.
Lirik "kampungan" bisa diartikan sebagai penyampaian dengan kata-kata lugas, tanpa basa-basi atau dirangkai-rangkai agar terkesan indah atau puitis seperti terdengar pada lagu Selingkuh di atas.

1 comment:

Kreshna Iceheart said...

Kangen Band here. Kangen Band there. Kangen Band, Kangen Band, Kangen Band. Well, sepertinya sudah cukup banyak heboh di internet mengenai Kangen Band, dari mulai yang mencaci-maki sampai dengan yang membela dengan penuh semangat.



Secara subyektif, menurut saya musik genjreng-genjreng semacam itu JELEK. Ya, dan ini termasuk band-band seperti Peter Pan, Ungu, The Rock, dan sejenisnya (Heh). Sayangnya band-band yang bagus seperti Warna, The Groove, dan T-Five semakin menghilang, sehingga saya semakin jarang mendengarkan musik-musik lokal. By the way, haven't I warned you I'm being subjective here?



Tapi secara obyektif, Kangen Band itu adalah fenomena marketing yang luar biasa, dan cukup menarik untuk diamati.



Salah satu fenomena yang terjadi di Indonesia adalah "peningkatan kemakmuran" untuk lapisan masyarakat tertentu. Memang secara umum kondisi ekonomi Indonesia bertambah buruk (this country is going down to hell, really), tetapi beberapa produk tertentu malah semakin murah dan semakin mudah diperoleh. Sepeda motor semakin murah, barang-barang elektronik semakin murah, dan hampir tidak ada orang yang TIDAK memiliki cellular phone. Kemakmuran semu? You bet.



Nonetheless, lapisan masyarakat yang dulunya hanya bisa puas dengan radio AM sekarang bisa dengan mudah membeli DVD player, boombox, dan portable media player. Dan jangan bother membahas tentang walkman karena saya pernah melihat walkman yang harganya lebih murah dari segelas (yep, segelas!) Johnnie Walker Red Label. RRC memang negara yang ajaib, bisa memproduksi barang-barang semurah itu.



Tapi perangkat pemutar media saja tidak cukup tanpa content media yang dimainkan. Percuma memiliki MP3 player atau walkman kalau tidak ada lagu-lagu untuk diputar. Maka terjadi suatu gap. Suatu peluang pasar.



Dan Kangen Band berhasil mengisi gap ini dengan sukses. Tentunya ini terlepas dari bagus atau tidaknya musik yang dimainkan.



Dan ini adalah pasar yang sangat BESAR. Kalau mau jujur, baru berapa persen sih masyarakat Indonesia yang sudah bisa menikmati indahnya gamelan Bali? Berapa banyak yang sudah bisa mengapresiasi kreativitas Claude Challe (Buddha Bar) dalam memadukan elemen-elemen musik elektronik dengan musik Oriental? Berapa banyak yang sudah pernah mendengaran Smoma atau Cafe del Mar? Sekarang bandingkan dengan "musik genjreng-genjreng" yang gampang dicerna itu. Sekarang ini dari mulai pengamen sampai warnet sampai supermarket, semuanya memutar musik-musik semacam itu. Mungkin penggemarnya ada puluhan juta. Suatu pasar yang sangat Besar dengan B kapital.



Seperti sinetron-sinetron Raam Punjabi, Kangen Band adalah "marketing product", suatu komoditi untuk memuaskan pasar yang sangat besar itu.



Image kampungan yang ditampilkan oleh Kangen Band bisa jadi merupakan selling point mereka. Saya pernah melihat iklan dari suatu acara reality show berjudul "Fans Kangen Band", disertai dengan cuplikan-cuplikan dari reality show tersebut. Pada cuplikan itu ditampilkan profil para penggemar Kangen Band, yang ditampilkan secara blak-blakan bahwa mereka berasal dari lapisan masyarakat yang sama dengan para personil Kangen Band.



Tanpa pretensi dan tanpa malu-malu, Kangen Band mengakui bahwa mereka memang kampungan, dan mereka berhasil menerapkan strategi marketing yang sangat efektif dengan cara merangkul para penggemar mereka yang juga, for lack of better term, kampungan (kalau ada terminologi yang lebih sopan tolong sebutkan). Dengan demikian, penggemar akan "merasa dekat" dengan mereka.



Pendekatan marketing semacam ini belum pernah dilakukan band-band lokal lainnya seperti The Rock, Ungu, Samsons, atau Peter Pan. Dan dalam hal ini Kangen Band sudah unggul satu langkah. Para pengamen yang sering memainkan lagu-lagu Samsons akan susah untuk "merasa dekat" dengan band idola mereka. Pembantu rumah tangga di rumah orangtua saya sangat suka Ungu, tetapi dengan pendekatan marketing semacam ini, dia mungkin akan segera beralih ke Kangen Band.



Saya memang benci kepada musik Kangen Band, tapi saya harus mengakui kejeniusan tim marketing mereka.



Tapi bagaimanapun juga, eksploitasi pasar semacam ini tidak akan bertahan lama, apalagi strategi marketing di Indonesia cenderung mengikuti "budaya latah". Saya tidak akan heran kalau nantinya akan banyak tiruan-tiruan Kangen Band (atau mungkin sudah? Like I said, I don't listen to local bands anymore). Pasar adalah medan perang, dan dalam hal ini tim marketing Kangen Band harus bisa mempertahankan teritori mereka.



Pada akhirnya, terlepas dari kesuksesan marketing Kangen Band, secara subyektif saya tetap menganggap bahwa band itu JELEK. Now excuse me, I'm going to listen to a Cafe del Mar album to clear out my mind.