Tuesday, July 26, 2005

SDM IT : Terjebak dalam paradigma tradisional

Ada seorang rekan yang menulis:

>From: Harry Surjadi , wrote:

>Mas Bagus,
>Rasanya bukan hanya perlu penguasaan piranti open source-nya. Saya pikir
>yang paling susah adalah mental dari orang Indonesia. Misalnya, banyak
>peneliti (kalau bicara perguruan tinggi dan lembaga penelitian) "tidak mau"
>berbagi hasil penelitian secara online. Saya bilang tidak mau karena mereka
>sangat ketinggalan dalam menggunakan internet. Coba saja masuk ke website
>mereka.

>Menguasai teknologinya saya pikir lebih mudah dibandingkan mengubah mental
>menjadi mental yang sadar akan pentingnya menguasai teknolog dan
>memanfaatkan teknologi itu.

>Salam,
>Harry Surjadi

>-----------

Sepertinya memang SDM IT kita terlalu sibuk untuk meluangkan sedikit
waktu membangun demi bangsa dan negara, artinya masih berat pada
kepentingan pribadi maupun golongan (atau perusahaan).

Masyarakat IT saat ini juga masih berkutat pada pemikiran tradisional,
dalam konteks teknologi yang dikembangkan saat ini, terutama di bidang
software, karena itu ikut menjadi fundamen dari IT itu sendiri.

Tradisional ini adalah masih pada pemikiran Gates tentang adanya
komputer di setiap rumah, yang akhirnya banyak bertumpu pada sistem
Desktop. Contoh : Windows, KDE, GNOME , dll.

Operating System yang dikembangkan Gates juga belum banyak berubah,
kalau dulu bertumpu pada Interrupt Service Routine, di replace dengan
model Registry, hanya dikembangkan dengan penambahan model profile
keamanan. Model registry ini menghasilkan pemikiran tentang COM.
Selanjutnya dikenal istilah platform, sejak adanya Gosling "Java".
.Net itu sendiri secara layer mesin juga dibangun di atas model COM [
Lihat referensi level 3, tentang CLR]
Sehingga .Net hanya merupakan semacam "perbaikan" dari pemikiran
Gosling, dari model interpreter – byte code menjadi Just In Time
compilation,
Sehingga performanya lebih cepat. Dari model deploy ke multi platform
/ mesin menjadi development multi language karena adanya Microsoft
Intermediate Language. Dari pemikiran object terdistribusi yang
sebelumnya berkomunikasi memakai non 80 port ke 80 port (COM /CORBA ke
SOAP WebService).
Linux juga hanya berkutat untuk mengejar ketinggalannya terhadap
Windows Desktop dengan kecepatan tinggi.

Pertanyaannya adalah mengapa masih berpikir ala Gates ? [Komputer ada
di rumah rumah] Dimana pemikiran ini adalah hanya mempercanggih
komputer di rumah rumah (yaitu komputer desktop). Memang Sudah ada
Layanan layanan di Cyber, tapi masih dengan susah payah dan repot
harus di execute dari rumah rumah ( termasuk kantor tentunya).

Mengapa tidak ada pemikiran untuk pendelegasian pekerjaan, sehingga
terminal terminal tidak perlu canggih. Ingat, saat ini kita masih
harus melakukan pencarian ke internet langsung untuk mencari
informasi, ataupun untuk melakukan auction, pembelian, penjualan. Pada
saat itu harus juga ada orang lain di belahan dunia yang lain atau di
sisi yang lain. Sangat merepotkan proses pekerjaan ini. Padahal kita
telah mengenal apa itu "AGENT".

Mengapa tidak ada / jarang yang berpikir bahwa intelligent agent
tersebut bisa melakukan perkerjaan kita? Mengapa belum ada yang
membangun Platform khusus untuk "AGENT" ?

Cobalah kita membayangkan suatu "AGENT" kita delegasikan pekerjaan
kita, kita kirim lewat terminal sederhana, tidak perlu secanggih
Desktop saat ini, mungkin hanya OS pada Handphone kita. Kita "upload"
AGENT ini untuk berkolaborasi dengan AGENT lainnya, dan bekerja
mewakili kita di Cyber. Selanjutnya kita tinggal menunggu dalam waktu
tertentu. Bukankah hal ini lebih menghemat kita dalam berlayar di duia
maya? Berapa waktu bisa di hemat?

Kita jarang berpikir tentang suatu Platform atau Protokol masa depan,
bahkan bangsa ini hanya menghasilkan sedikit karya protokol, yang
orang jarang mengetahuinya, sehingga pemanfaatannya ke masyarakat luas
kurang. Kita masih mementingkan perut kita sendiri daripada membangun
negeri ini untuk melakukan penelitian, karena biasanya hasil
penelitian hanya untuk memperkaya lembaga atau orang itu. Mengapa
tidak mengambil cara pandang suatu community yang mengatakan
"Knowledge is belong to everyone [ or human being] ?

Lihatlah perkembangan teknologi Microsoft, yang hanya berpikir
tradisional, konputer ada di semua rumah? Atau juga pemikiran jamannya
Marc Andressen – Mosaic, yang hanya berpikir melihat dokumen di dunia
maya dengan tampilan bagus? Atau juga pemikiran tentang object
terdistribusi yang menjadi Layanan – layanan dunia maya?

Ayo bangkitlah SDM IT kita membangun negeri ini dengan terobosan yang
belom dipikirkan Gates [karena Gates itu sebenarnya bisa besar dengan
model kulakannya]. Apakah dengan mengembangkan model mirip community
"Knowledge is belong to everyone" kita masih trauma dengan era
Sosialis jaman 1965, meskipun banyak teori sosialis menentang Karl
Max?

Beratkah untuk mengambangakan sistem yang sama sekali baru ? Jalan
kesana adalah menyakitkan dan membosankan, namun bantulah negeri ini,
bangun bangsa ini untuk mencapai lompatan IT ke masa depan.

1 comment:

hatmoko said...

Pak dhe, tulisan yang ini sangat menyentuh ............!

semoga impian jadi menjadi kenyataan, lebih banyak dan banyak yg tergugah.