Saturday, October 24, 2009

Perenungn Part 1

Hari ini ada suatu topik di televisi yang acaranya dibawakan oleh Ulfa Dwiyanti dan Bella Saphira. Tamu dari acara ini adalah mereka yang sering disebut "From Hero To Zero". Ada yang bermula dari penjual ikan bakar, roti bakar dan Tukang Pijit di Jogja, menjadi semacam Crown Ambassador di KLink. Mereka adalah potret dari orang yang memulai dari nol (katakanlah begitu) sampai bergelimang harta (mercedes, honda crv) dalam waktu 4 tahun atau kurang.

Salah satu dari mereka menyebutkan bahwa:
Banyak yang berusaha / terjun ke dunia usaha namun fokus pada proses. Padahal mustinya fokus pada hasil dan impian.

Point penting lainnya adalah: tidak ada satu usahapun yang tanpa tantangan. Keberhasilan hampir pasti dicapai dengan penuh tantangan berat (selain kerja keras).

Apa yang dapat kali ini, adalah mengingatkan saya bahwa apapun bidang yang kita geluti pasti situasinya penuh kompetisi, keras. Mungkin kita sering melihat pada orang lain yang berhasil, kemudian kita ingin terjun ke bidang bisnis dia. Suatu hal yang normal, namuan kita bisa kecewa karena begitu kita terjun ke dunianya, sama saja, tantangan berat langsung menghadang.

Bisnis bisa laksana medan perang dahsyat yang menyakitkan sekaligus membosankan. Itu kalau kita fokus pada proses. Bila kita fokus pada hasil / impian, maka kita perlu optimis membayangkan kita duduk di atas mobil sport berharga milyaran rupiah.

---
Saya masih beruntung, bahwa dilahirkan dalam keadaan goblok dalam bidang bisnis. Sehingga hambatan untuk itupun tidak hanya besar, namun sangat dahsyat. Mengingat problem utamanya terletak pada diri saya sendiri. Bertahun-tahun bertempur dengan diri saya sendiri, sampai saat ini pertempuran belum usai, namun saya tetap yakin dan optimis.

Saya melihat sebenarnya banyak sekali orang yang seperti ini. Mungkin salah satu cirinya adalah ketika saya berkata kepada mereka, yuk jualan, kenapa dirimu gak jualan? Jawabnya sangat klasik: Mau jualan apa? Trus modalnya gimana?

Saya berusaha merenung dan mencari problem dalam diri saya, karena kebetulan saya mewakili mereka. Saya mau jualan apa? Bagaimana memulai? Ketakutan yang teramat besar membentengi diri saya.

Sebenarnya secara umum, bisnis adalah kulakan, dijual lagi dengan mengambil margin, maka kita akan mendapatkan laba. Okay, kita cek. Bila kita mengambil pada harga pasar, lalu kita akan menjual harga berapa? Jika kita mengambil margin, maka harga setelah itu akan menjadi relatif mahal, mungkin orang akan malas beli, karena mencari yang murah (sementara .. asumsinya begitu, padahal ini bisa jadi merupakan bayang2 setan yang menakut2i diri saya saja).
Bila saya ingin menjual setara harga pasar, saya musti kulakan / mendapatkan pasokan lebih murah, dimana saya akan mendapatkan pemasok? Terjadi lingkaran setan.

Andaipun semuanya ada, dimana saya akan menjualnya? Meskipun saya mengerti bahwa hal ini ada logiknya. Begini, jika kita punya barang dulu maka kita lihat sasaran pelanggan, baru kita cari tempat dimana banyak pelanggan tersebut berkumpul.Atau kita mulai dari tempat, kita analisa banyaknya calon pelanggan yang lewat, kita analisa kebutuhannya, baru kita menjual barang yang sesuai. Selain itu, best practise nya adalah kita langsung mencari tempat super strategis, pasar. Namun ada hambatan lain datang, yaitu: modal untuk membuka kios. Masa kita akan membuka lapak lesehan sih. Perhatikan. Ada manusia yang berbakat looser dan winner. Untuk mereka yang winner, pasti mau berjualan di tempat lesehan, panas, berdebu dan memalukan. Namun bagi mereka yang looser type, mereka gak mau hal demikian. Ini juga merupakan problem.

Saya menemukan banyak sekali permasalahan dan pertempuran di dalam diri saya ini. Kemudian saya melihat orang yang berhasil. Ada beberapa methode dalam setup awal jualan, yaitu ATP (Amati Tiru Persis), ATM (Amati Tiru modifikasi). Ternyata jika kita hanya mengkloning suatu usaha (kita membuka usaha mirip orang lain) maka pertumbuhan usaha kita akan sulit / seret. Satu-satunya jalan adalah menemukan titik patah dari Lingkaran Setan (kulakan - jual kembali) seperti pernah saya tulisa di paragraf atas. Bahasa lainya adalah menemukan inovasi, inovasi dan inovasi. Hal ini sebenarnya tercantum dalam sifat2 Fisika Pemasaran. Namuan bayangkan saja kesulitan yang musti dihadapi untuk menemukan inovasi bisnis yang tepat. Belum selalu dhadapkan lingkaran setan lain , yaitu : mau jualan apa? modal gimana? Meskipun jika kita sudah mantap dengan bidang usaha yang digeluti maka modal akan datang. Problem lain lagi adalah Apakah kita mampu mengembalikan modal? Apakah bisnis akan jalan? Bila gak laku gimana mengembalikan modal, begitu muncul setan yang seperti tersebut.

Okelah orang bilang, jalan saja dulu, Action. Problemnya adalah: mau jualan apa? Modalnya gimana? Jadi mau nekat nih, kulakan kemudian langsung jual?Banyak usaha yang stagnan, atau bahkan bangkrut. BErapa banyak orang terjun ke dunia usaha tiap harinya, berapa banyak yang bangkrut.

Jadi memang pada intinya adalah benar, ini masalah kejiwaan, yaitu bagaimana untuk positif thinking. Bagaimana untuk menata mindset kita.

Saya melihat banyak orang yang menjalankan usaha sebagai punya kecerdasan bisnis, meskipu terpendam. Banyak guru-guru bisnis bisa mengajarkan muridnya, karena saya pikir muridnya sebenarnya sudah punya potensi.
Mirp seperti ketika kita bertanya, mengapa lulusan ITB itu pinter2? PAdahal jawabannya sangat natural, yaitu karena muridnya yang diterima itu sudah pinter.

Hampir semua pendidik di sini (bisnis maksudnya) bisa berhasil karena memang muridnya sudah punya potensi pinter, tinggal dipoles. Bila murid telah siap, maka guru akan muncul. Kesempatan akan menguntungkan untuk pikiran yang telah siap.
Jadi lembaga pendidik itu gak hebat2 amat, karena hanya mendidik orang pinter menjadi pinter. Lalu bagaimana orang goblok? Gak bisakah menjadi pinter.

Alhamdulillah saya dlahirkan sebagai orang goblok di bisnis sehingga mengalami situasi seperti ini langsung, dan saya melihat buanyak sekali rekan2 saya miskin, juga karena goblok di bisnis. Lalu apakah orang seperti ini dimusnahkan saja atau bagaimana? Saya akan mengajak sesama goblok-ers seperti saya untuk bisa bangkit. Marilah menjalani mission impossible: Merubah orang goblok menjadi pinter.
Satu-satunya kecerdasanku di sini adalah bisa melihat bahwa diriku adalah orang goblok.


To be continued .....

No comments: