Sunday, January 11, 2009

Tentang Perjalanan di Israel dan Lebanon

From: - ekadj
Subject: [futurologi] Trs: tulisan Luthfi Assyaukanie ttg Yahudi Israel .
To: futurologi@yahoogroups.com, kebudayaan@yahoogroups.com
Date: Saturday, 10 January, 2009, 7:16 AM

Pak Mod, ini satu lagi.
Saya sebenarnya punya 2 sahabat pegawai Pemda di Gaza Strip dan Jenin West Bank. Yang di Gaza sampai sekarang belum membalas email. Yang di Jenin hanya membalas 1 kata : "Thanks", untuk segala ungkapan keprihatinan dan simpati.
Hanya 1 pintu keluar-masuk dunia luar bagi Palestina selama ini, yaitu di Gaza itu. Jadi bila Gaza jatuh, maka praktis Palestina akan terisolasi dari dunia luar, dan juga ..... genocide.
Pada masa sebelum perang ini, teman saya di Gaza itu perlu waktu 3 jam untuk melewati 10 checkpoint setiap hari dari rumah ke kantor, begitu juga pulangnya. Saya masih simpan filenya terlampir. Salam.

-ekadj

--- Pada Sel, 6/1/09, Taufik D :

> Tanggal: Selasa, 6 Januari, 2009, 11:14 AM
> Tak seharusnya kita kaget dengan tulisannya Luthfi
> Assyaukanie yang ' waton bedo lan waton suloyo',
> karena memang begitulah prototipe genrenya komunitas
> JIL. Sama dengan tidak kagetnyai kita mendengar
> statement dari Rabbi Yahudi yang mengatakan bahwa Gus
> Dur itu memang 'more jewish than me'.
>
> Wallahu'alambishsha wab.
>
> *****
>
> Di tengah keganasan tank-tank dan mesiu serdadu
> teroris Israel terhadap warga Palestina, pentolan
> Jaringan (Islam) Liberal (JIL) Dr. Luthfie Assyaukani
> kepincut dengan keindahan bumi kaum zionis Israel.
> Pengajar Universitas Paramadina ini memuji dan kagum
> terhadap 'keserakahan' penjajah dunia itu. Sayang
> seribu satu sayang, pandangan sebelah mata Luthfie itu
> dibantah Ketua Badan Kerjasama Antarparlemen (BKSAP)
> Abdillah Toha. Menurut politisi Partai Amanat Nasional
> (PAN) ini, Luthfie salah dalam melihat agresi teroris
> Israel terhadap Palestina. " Atau ia punya agenda
> dengan Israel ".
>
> *
>
> Tulisan Luthfi Assyaukanie :
>
> ' Beberapa Catatan dari Israel ' .
>
> Saya baru saja melakukan perjalanan ke Israel . Banyak
> hal berkesan yang saya dapatkan dari negeri itu, dari
> soal Kota Tua yang kecil namun penuh memori konflik
> dan darah, Tel Aviv yang cantik dan eksotis, hingga
> keramahan orang-orang Israel.
>
> Saya kira, siapapun yang menjalani pengalaman seperti
> saya akan mengubah pandangannya tentang Israel dan
> orang-orangnya.
>
> Ketika transit di Singapore, seorang diplomat Israel
> mengatakan kepada saya bahwa orang-orang Israel senang
> informalities dan cenderung rileks dalam bergaul. Saya
> tak terlalu percaya dengan promosinya itu, karena yang
> muncul di benak saya adalah tank-tank Israel yang
> melindas anak-anak Palestina (seperti kerap
> ditayangkan oleh CNN and Aljazira). Tapi, sial, ucapan
> diplomat itu benar belaka. Dia bukan sedang
> berpromosi. Puluhan orang yang saya jumpai dari
> sekitar 15 lembaga yang berbeda menunjukkan bahwa
> orang-orang Israel memang senang dengan informalities
> dan cenderung bersahabat.
>
> Saya masih ingat dalam sebuah dinner, seorang rabbi
> mengeluarkan joke-joke terbaiknya tentang kegilaan
> orang Yahudi. Dia mengaku mengoleksi beberapa joke
> tapi kalah jauh dibandingkan Gus Dur yang katanya
> 'more jewish than me'.
>
> Dalam jamuan lunch, seorang diplomat Israel
> berperilaku serupa, membuka hidangan dengan cerita
> jenaka tentang persaingan orang Yahudi dan orang Cina.
> Tentu saja, informalities adalah satu bagian saja dari
> cerita tentang Israel . Pada satu sisi, manusia di
> negeri ini tak jauh beda dengan tetangganya yang Arab
> : hangat, humorous, dan bersahabat. Atau semua budaya
> Mediteranian memang seperti itu ?.
>
> Tapi, pada sisi lain, dan ini yang membedakannya dari
> orang-orang Arab: kecerdasan orang-orang Israel di
> atas rata-rata manusia. Ini bukan sekadar mitos yang
> biasa kita dengar. Setiap 2 orang Israel yang saya
> jumpai, ada 3 yang cerdas. Mungkin ini yang
> menjelaskan kenapa bangsa Arab yang berlipat jumlahnya
> itu tak pernah bisa menandingi Israel .
>
> Kecerdasan itu seperti kecantikan. Ia memancar dengan
> sendirinya ketika kita bergaul dengan seseorang. Tidak
> yang laki-laki, tidak yang perempuan, semua orang
> Israel yang saya ajak bicara memancarkan kesan itu.
> Patutlah bahwa sebagian peraih nobel dan ilmuwan
> sosial besar adalah orang-orang Yahudi.
>
> Yang membuat saya terkesima adalah bahwa orang-orang
> Israel, paling tidak para pejabat, pemikir, budayawan,
> diplomat, penulis, dan profesional, yang saya jumpai,
> semuanya lancar dan fasih berbahasa Arab. Mereka
> senang sekali mengetahui bahwa saya bisa berbahasa
> Arab. Berbahasa Arab semakin membuat kami merasa
> akrab. Belakangan baru saya ketahui bahwa bahasa Arab
> adalah bahasa formal/resmi Israel . Orang Israel boleh
> menggunakan dua bahasa, Ibrani dan Arab, di parlemen,
> ruang pengadilan, dan tempat-tempat resmi lainnya.
>
> Kebijakan resmi pemerintah Israel ini tentu saja
> sangat cerdas, bukan sekadar mengakomodir 20 persen
> warga Arab yang bermukim di Israel.
>
> Dengan menguasai bahasa Arab, orang-orang Israel telah
> memecah sebuah barrier untuk menguasai orang-orang
> Arab. Sebaliknya, orang-orang Arab tak mengerti apa
> yang sedang dibicarakan di Israel, karena bahasa
> Ibrani adalah bahasa asing yang bukan hanya tak
> dipelajari, tapi juga dibenci dan dimusuhi.
> Orang-orang Israel bisa bebas menikmati televisi,
> radio, dan surat kabar dari Arab (semua informasi yang
> disampaikan dalam bahasa Arab), sementara tidak
> demikian dengan bangsa Arab.
>
> Bahwa Israel adalah orang-orang yang serius dan keras,
> benar, jika kita melihatnya di airport dan kantor
> imigrasi. Mereka memang harus melakukan tugasnya
> dengan benar. Di tempat2 strategis seperti itu, mereka
> memang harus serius dan tegas, kalau tidak bagaimana
> jadinya negeri mereka, yang diincar dari delapan
> penjuru angin oleh musuh-musuhnya.
>
> Saya sangat bisa memahami ketegasan mereka di airport
> dan kantor-kantor imigrasi (termasuk kedubes dan
> urusan visa). Israel dibangun dari sepotong tanah yang
> tandus.
>
> Setelah 60 tahun merdeka, negeri ini menjadi sebuah
> surga di Timur Tengah. Lihatlah Tel Aviv,
> jalan-jalannya seperti avenues di New York atau Sydney
> .. Sepanjang pantainya mengingatkan saya pada Seattle
> atau Queensland . Sistem irigasi Israel adalah yang
> terbaik di dunia, karena mampu menyuplai jumlah air
> yang terbatas ke ribuan hektar taman dan pepohonan di
> sepanjang jalan.
>
> Bangsa Israel akan membela setiap jengkal tanah
> mereka, bukan karena ada memori holocaust yang membuat
> mereka terpacu untuk memiliki sebuah negeri yang
> berdaulat, tapi karena mereka betul-betul bekerja
> keras menyulap ciptaan Tuhan yang kasar menjadi indah
> dan nyaman didiami.
>
> Mereka tak akan mudah menyerahkan begitu saja sesuatu
> yang mereka bangun dengan keringat dan darah. Setiap
> melihat keindahan di Israel , saya teringat sajak
> Iqbal :
>
> Engkau ciptakan gulita
> Aku ciptakan pelita
> Engkau ciptakan tanah
> Aku ciptakan gerabah
>
> Dalam Taurat disebutkan, Jacob (Ya'kub) adalah
> satu-satunya Nabi yang berani menantang Tuhan untuk
> bergulat. Karena bergulat dengan Tuhan itulah, nama
> Israel (Isra-EL, orang yang bergulat dengan Tuhan)
> disematkan kepada Jacob. Di Tel Aviv, saya
> menyaksikan bahwa Israel menang telak bergulat dengan
> Tuhan.
>
> Orang-orang Israel akan membela setiap jengkal tanah
> yang mereka sulap dari bumi yang tandus menjadi
> sepotong surga. Bahwa mereka punya alasan historis
> untuk melakukan itu, itu adalah hal lain.
>
> Pembangunan bangsa, seperti kata Benedict Anderson,
> tak banyak terkait dengan masa silam, ia lebih banyak
> terkait dengan kesadaran untuk menyatukan sebuah
> komunitas. Bangsa Yahudi, lewat doktrin Zionisme,
> telah melakukan itu dengan baik.
>
> Melihat indahnya Tel Aviv, teman saya dari Singapore
> membisiki saya : " orang-orang Arab itu mau enaknya
> saja. Mereka mau ambil itu Palestina, setelah disulap
> jadi sorga oleh orang-orang Yahudi. Kenapa tak mereka
> buat saja di negeri mereka sendiri surga seperti Tel
> Aviv ini ?".
>
> Problem besar orang-orang Arab, sejak 1948 adalah
> bahwa mereka tak bisa menerima 'two state
> solution', meski itu adalah satu-satunya pilihan
> yang realistik sampai sekarang.
>
> Jika saja orag-orang Palestina dulu mau menerima
> klausul itu, mungkin cerita Timur Tengah akan lain,
> mungkin tak akan ada terorisme Islam seperti kita
> lihat sekarang, mungkin tak akan ada 9/11, mungkin
> nasib umat Islam lebih baik.
>
> Bagi orang-orang Arab, Palestina adalah satu, yang tak
> bisa dipisah-pisah. Bagi orang-orang Israel ,
> orang-orang Palestina tak tahu diri dan angkuh dalam
> kelemahan.
>
> Sekarang saya mau cerita sedikit tentang Kota Tua
> Jerussalem, tentang al-Aqsa, dan pengalaman saya
> berada di sana .
>
> Percaya atau tidak, Kota Tua tidak seperti yang saya
> bayangkan. Ia hanyalah sekerat ladang yang berada
> persis di tengah lembah. Ukurannya tak lebih dari
> pasar Tanah Abang lama atau Terminal Pulo Gadung
> sebelum direnovasi.
>
> Tentu saja, sepanjang sejarahnya, ada
> perluasan-perluasan yang membentuknya seperti sekarang
> ini. Tapi, jangan bayangkan ia seperti Istanbul di
> Turki atau Muenster di Jerman yang mini namun
> memancarkan keindahan dari kontur tanahnya. Kota Tua
> Jerussalem hanyalah sebongkah tanah yang tak rata dan
> sama sekali buruk, dari sisi manapun ia dilihat.
>
> Sebelum menuruni tangga ke sana , saya sempat melihat
> Kota Tua dari atas bukit. Heran seribu heran, mengapa
> tempat kecil yang sama sekali tak menarik itu begitu
> besar gravitasinya, menjadi ajang persaingan dan
> pertikaian ribuan tahun.
>
> Saya berandai-andai, jika tak ada Golgota, jika tak
> ada Kuil Sulayman, dan jika tak ada Qubbah Sakhra,
> Kota Tua hanyalah sebuah tempat kecil yang tak
> menarik.
>
> Berada di atas Kota Tua, saya terbayang Musa, Yesus,
> Umar, Solahuddin al-Ayyubi, Richard the Lion Heart,
> the Templer, dan para penziarah Eropa yang
> berbulan-bulan menyabung nyawa hanya untuk menyaksikan
> makam, kuburan, dan salib-salib. Agama memang tidak
> masuk akal.
>
> Oleh Guide kami, saya diberitahu bahwa Kota Tua adalah
> bagian dari Jerussalem Timur yang dikuasai Kerajaan
> Yordan sebelum perang 1967. Setelah 1967, Kota Tua
> menjadi bagian dari Israel . "Dulu", katanya,
> "ada
> tembok tinggi yang membelah Jerussalem Timur dan
> Jerussalem Barat. Persis seperti Tembok Berlin .
> Namun, setelah 1967, Jerussalem menjadi satu kembali".
>
> Yang membuat saya tertegun bukan cerita itu, tapi
> pemandangan kontras beda antara Jerussalem Timur dan
> Jerussalem Barat dilihat dari ketinggian. Jerussalem
> Timur gersang dan kerontang, Jerussalem Barat hijau
> dan asri. Jerussalem Timur dihuni oleh sebagian besar
> Arab-Muslim, sedangkan Jerussalem Barat oleh
> orang-orang Yahudi.
>
> Saya protes kepada Guide itu, " Mengapa itu bisa
> terjadi, mengapa pemerintah Israel membiarkan
> diskriminasi itu ?". Dengan senyum sambil melontarkan
> sepatah dua patah bahasa Arab, ibu cantik itu
> menjelaskan : " ya akhi ya habibi, kedua neighborhood
> itu adalah milik privat, tak ada urusannya dengan
> pemerintah. Beda orang-orang Yahudi dan Arab adalah,
> yang pertama suka sekali menanam banyak jenis pohon di
> taman rumah mereka, sedang yang kedua tidak. Itulah
> yang bisa kita pandang dari sini, mengapa Jerussalem
> Barat hijau dan Jerussalem Timur gersang ".
>
> Dough!, saya jadi ingat Bernard Lewis : " What went
> wrong ? ". Ada banyak pertanyaan 'what went
> wrong' setiap kali saya menyusuri tempat-tempat di
> Kota Tua.
>
> Guess what ?. Kota Tua dibagi kepada empat
> perkampungan (quarter) : Muslim, Yahudi, Kristen, dan
> Armenia . Pembagian ini sudah ada sejak zaman
> Salahuddin al-Ayyubi.
>
> Menelusuri perkampungan Yahudi sangat asri, penuh
> dengan kafe dan tempat-tempat nongkrong yang cozy.
> Begitu juga kurang lebih dengan perkampungan Kristen
> dan Armenia . Tibalah saya masuk ke perkampungan
> Muslim. Lorong-lorong di sepanjang quarter itu tampak
> gelap, tak ada lampu, dan jemuran berhamburan di
> mana-mana. Bau tak sedap terasa menusuk.
>
> Jika pertokoan di quarter Kristen tertata rapi, di
> quarter Muslim, tampak tak terurus. Ketika saya
> belanja di sana , saya hampir tertipu soal
> pengembalian uang. Saya sadar, quarter Muslim bukan
> hanya kotor, tapi pedagangnya juga punya hasrat
> menipu.
>
> Namun, di antara pengalaman tak mengenakkan selama
> berada di perkampungan Islam adalah pengalaman masuk
> ke pekarangan al-Aqsa (mereka menyebutnya Haram
> al-Syarif).
>
> Ini adalah kebodohan umat Islam yang tak
> tertanggulangi, yang berasal dari sebuah teologi abad
> kegelapan. You know what ?. Saya dengan bebasnya
> bisa masuk ke sinagog, merayu tuhan di tembok ratapan,
> dan keluar-masuk gereja, tanpa pertanyaan dan tak ada
> penjagaan sama sekali. Tapi begitu masuk wilayah
> Haram al-Syarif, dua penjaga berseragam tentara
> Yordania dengan senjata otomatis, diapit seorang
> syeikh berbaju Arab, menghadang, dan mengetes setiap
> penziarah yang akan masuk. Pertanyaan pertama yang
> mereka ajukan : " enta Muslim (apakah kamu Muslim) ?
> ". Jika Anda jawab ya, ada pertanyaan kedua : "
> iqra
> al-fatihah (tolong baca al-fatihah) ". Kalau hafal
> Anda lulus, dan bisa masuk, kalau tidak jangan harap
> bisa masuk. Saya ingin meledak menghadapi mereka.
> Saya langsung nyerocos saja dengan bahasa Arab, yang
> membuat mereka tersenyum, " kaffi, kaffi, ba'rif
> enta
> muslim (cukup, cukup, saya tahu Anda Muslim) ".
>
> Saya ingin meledak menyaksikan ini karena untuk
> kesekian kalinya kaum Muslim mempertontonkan kedunguan
> mereka. Kota Tua adalah wilayah turisme dan bukan
> sekadar soal agama. Para petinggi Yahudi dan Kristen
> rupanya menyadari itu, dan karenanya mereka tak
> keberatan jika semua pengunjung, tanpa kecuali, boleh
> mendatangi rumah-rumah suci mereka. Tapi para
> petinggi Islam rupanya tetap saja bebal dan senang
> dengan rasa superioritas mereka (yang sebetulnya juga
> tak ada gunanya). Akibat screening yang begitu keras,
> hanya sedikit orang yang berminat masuk Haram
> al-Syarif. Ketika saya shalat Maghrib di Aqsa, hanya
> ada dua saf, itupun tak penuh. Menyedihkan sekali,
> padahal ukuran Aqsa dengan seluruh latarnya termasuk
> Qubbat al-Shakhra sama besarnya dengan masjid Nabawi
> di Madinah. Rumah tuhan ini begitu sepi dari
> pengunjung.
>
> Tentu saja, alasan penjaga Aqsa itu adalah karena
> orang-orang non-Muslim haram masuk wilayah mesjid.
> Bahkan orang yang mengaku Muslim tapi tak pandai
> membaca al-Fatihah tak layak dianggap Muslim. Para
> penjaga itu menganggap non-Muslim adalah najis yang
> tak boleh mendekati rumah Allah.
>
> Saya tak bisa lagi berpikir. Sore itu, ingin saya
> kembali ke tembok ratapan, protes kepada Tuhan,
> mengapa anak bontotnya begitu dimanja dengan kebodohan
> yang tak masuk akal.
>
> *
>
> Gigaun Luthfie tersebut diatas tentu mengundang tawa
> dan reaksi dari berbagai pihak kalangan, termasuk dari
> kalangan anggota Dewan. Berikut ini jawaban Anggota
> DPR-RI Komisi I, Abdillah Toha terhadap nyanyian
> Luthfie.
>
> *
>
> Tulisan Abdillah Toha :
>
> Bung Luthfie yang baik. Membaca catatan anda, saya
> juga terkesima. Bukan dengan Israel , tetapi dengan
> catatan itu.
>
> Betapa seorang yang berpendidikan tinggi seperti anda
> bisa membuat tulisan dan kesimpulan yang berbau
> propaganda setelah hanya beberapa hari (?) berkunjung
> ke Israel , atas undangan dan kebaikan mereka,
> Sampai-sampai anda meratap di tembok ratapan Yahudi.
>
> Seingat saya, saya belum pernah membaca tulisan yang
> begitu memuja dan memuji Israel seperti tulisan anda
> ini, termasuk tulisan orang Israel yang mendukung
> Zionisme.
>
> Kenapa saya sebut propaganda ?. Karena sebuah tulisan
> yang memuja dan memuji ditambah mengecam lawannya,
> seolah-olah tak ada aspek negatif dari subyek yang
> dipuji dan tak ada aspek positif dari yang dikecam,
> adalah sebuah propaganda.
>
> Propaganda ini cukup berhasil, melihat
> komentar-komentar di halaman Facebook anda.
>
> Namun, menurut saya, proaganda ini kurang cerdas
> karena orang langsung akan dapat menilai demikian.
> Seharusnya, anda bisa lebih cerdas dengan
> 'pura-pura' sedikit mengeritik Israel agar lebih
> kelihatan obyektif.
>
> Pertama saya harus jelaskan lebih dahulu bahwa saya
> dan kita semua harus membedakan antara orang Yahudi
> dan negara Israel .
>
> Tidak semua Yahudi mendukung Zionisme Israel dan
> sayapun punya cukup banyak kawan Yahudi yang sangat
> kritis terhadap Israel . Bahkan belum lama ini saya
> sempat bertemu dengan beberapa Rabbi Yahudi yang
> mengatakan bahwa pembentukan negara Israel itu
> bertentangan dengan buku suci mereka.
>
> Kita tidak boleh memusuhi Yahudi atau ras apapun,
> tetapi sikap mendukung negara Israel berarti mendukung
> kebiadaban modern dan satu-satunya penjajah yang
> tersisa di abad ke 21 ini (kecuali bila kita masukkan
> pendudukan AS atas Iraq dan Afghanistan ) .
>
> Saya tidak ingin berpanjang-panjang membahas soal ini,
> tapi bila anda ingin membaca tulisan-tulisan (termasuk
> oleh beberapa orang Yahudi seperti Dr Finkelstein
> dsb.) tentang pelanggaran, kebrutalan dan kekejaman
> Israel, dengan senang hati akan saya kirimkan.
>
> Bung Lutfhi, anda memang tidak akan melihat tank-tank
> Israel di Tel Aviv atau kota lain karena tank-tank itu
> dikonsentrasikan di perbatasan untuk membunuh
> orang-orang Palestina. Anda katakan " Mereka tak
> akan mudah menyerahkan begitu saja sesuatu yang mereka
> bangun dengan keringat dan darah ". Barangkali akan
> lebih jelas kalau anda lebih spesifik, mereka itu
> siapa, darah Israel atau darah Palestina.
>
> Alangkah naifnya komentar kawan Singapore yang anda
> kutip : " orang-orang Arab itu mau enaknya saja.
> Mereka mau ambil itu Palestina, setelah disulap jadi
> sorga oleh orang-orang Yahudi. Kenapa tak mereka buat
> saja di negeri mereka sendiri surga seperti Tel Aviv
> ini ? ". Orang ini pasti belum pernah ke Saudi,
> Kuwait , Dubai , Turki dll. Atau anda yang sudah
> pernah kesana mungkin begitu terkesima oleh Israel
> sehingga lupa di negara-negara Arab yang merdeka
> mereka juga tidak kalah bisa membangun negerinya yang
> berpadang pasir. Bagaimana Palestina mau membangun
> kalau tiap hari di bom, diserang, digusur, dibatasi
> geraknya dengan ratusan chek points dan di blokade.
> Atau mungkin anda tidak diajak oleh pengundang anda ke
> kawasan-kawasan itu. atau anda tidak berpikir perlu
> menyempatkan melihat kesengsaraan warga Gaza yang
> diblokir oleh Israel .
>
> Anda katakan " setiap 2 orang Israel yang saya
> jumpai, ada 3 yang cerdas. Mungkin ini yang
> menjelaskan kenapa bangsa Arab yang berlipat jumlahnya
> itu tak pernah bisa menandingi Israel ". Saya kira
> anda harus lebih banyak membaca, bung Lutfhi. Perang
> Yom Kipur, terusirnya tentara Israel dua kali dari
> Lebanon (terakhir Juli 2006) adalah sebagian rentetan
> fakta kekalahan-kekalahan Israel .
>
> Diluar itu, ketidak mampuan Palestina dan Arab
> mengusir Israel dari tanah yang didudukinya sampai
> sekarang bukan karena 'kecerdasan' orang Israel
> tetapi nyata-nyata dukungan satu-satunya negara adi
> daya di dunia yang menjadikan militer Israel sebagai
> militer nomor tiga terkuat di dunia saat ini. Pejuang
> Palestina hanya bisa melawan dengan batu dan roket
> primitif rakitan sendiri. Yang dihadapai bangsa Arab
> itu sebenarnya Amerika, bukan sekadar Israel. Saatnya
> akan tiba ketika semua kekuatan zalim ini akan punah.
> Tanda-tanda itu sudah mulai tampak dengan adanya
> krisis global saat ini dan gagalnya misi Amerika di
> Iraq dan Afghanistan.
>
> Bung Luthfi, saya tidak menutup mata terhadap
> kekurangan dan kebangrutan moral banyak negara Arab
> yang otoriter dan korup. Inilah salah satu sebab utama
> 'kekalahan' Arab terhadap Israel karena mereka
> tidak menjalankan kebijakan yang merepresentasikan
> kehendak rakyatnya. Karenanya, ketika Sayyid Hasan
> Nasrullah dengan Hizbullahnya berhasil mengusir Israel
> dari tanah Lebanon untuk yang kedua kalinya, beliau
> menjadi pahlawan dan manusia terpopuler dikalangan
> rakyat Arab.
>
> Tetapi saya juga tidak akan menggambarkan orang-orang
> Arab (muslim) Israel yang tinggal di kampung-kampung
> kumuh dan membandingkannya dengan hunian orang Yahudi
> dengan mengatakan "Lorong-lorong di sepanjang quarter
> itu tampak gelap, tak ada lampu, dan jemuran
> berhamburan di mana-mana. Bau tak sedap terasa
> menusuk" tanpa mengatakan bahwa mereka adalah
> orang-orang miskin dan terpinggirkan disana.
>
> Bukankah lorong-lorong orang miskin selalu demikian
> dimana-mana ?. Dan tahukah kenapa warga negara Arab
> muslim di Israel ini miskin dan terpinggirkan ?.
> Karena mereka adalah warga yang memang dipinggirkan
> dan di diskriminasi. Orang-orang Arab warga Israel
> harus membayar pajak lebih tinggi dari warga Yahudi
> karena mereka tidak (boleh/qualified) .menjadi anggota
> militer dan bentuk diskriminasi lain [
> http://www.jfjfp. org/factsheets/ arabsinisrael. htm.
> http://www.washingt onpost.com/ wp-dyn/content/
> article/2007/ 12/19/AR20071219 02681_pf. html ],
> karyawan yang menggunakan bahasa Arab bisa dipecat [
> http://weekly. ahram.org. eg/2004/680/ re104.htm ],
> dalam pendidikan mereka juga di diskriminasi [
> http://www.hrw. org/legacy/ reports/2001/ israel2/ ],
> warga Arab Israel banyak yang dibunuh dan diperlakukan
> dengan semena-mena [ http://files. tikkun.org/
> current/article. php/200810070445 18248 ], dan
> seterusnya.
>
> Anda boleh lihat ratusan laporan berbagai organisasi
> Human Rights lainnya tentang hal ini. Sebagai negara
> yang digembar gemborkan demokrasi ditengah-tengah
> otoriterianisme dunia Arab, mereka telah memperlakukan
> demokrasi dengan standar ganda.
>
> Saya kira semua yang saya sampaikan ini bukanlah hal
> baru. Hanya saja, entah kenapa, anda memilih menutup
> mata dan hati bagi situasi yang demikian. Atau
> mungkin karena anda mempunyai agenda tertentu dalam
> rangka me- 'liberal' -kan" Islam ?.
>
> Wallahualam.
>
> *
>
> Sumber :
> Celoteh Antek Teroris Israel Dibungkam Anggota Dewan.
> http://www.warnaisl am.com/berita/ dunia/2009/ 1/6/58440/ Celoteh_Antek_ Teroris_Israel_ Dibungkam_ Anggota_Dewan. htm
>
>
> *****
>
> Awal Agustus 2006, ketika itu pecah perang Libanon dan
> Israel, saya dan dua relawan dari ACT dikirim ke Timur
> Tengah guna menyampaikan bantuan dari masyarakat
> Indonesia untuk saudara-saudara di Libanon dan
> Palestina.
>
> Amanahnya memang demikian, bantuan yang kami bawa
> dibagi dua untuk Libanon yang sedang perang dan
> Palestina yang tak pernah berhenti berjuang.
>
> Saat tiba di Amman, Jordania, kami langsung
> berkoordinasi dengan pihak-pihak tertentu yang kami
> dapatkan kontaknya dari Indonesia, baik itu dari Ketua
> MPR, DR. Hidayat Nur Wahid yang memiliki banyak kontak
> person di Jordania yang bisa dipercaya. Salah satu
> yang direkomendasikan Ketua MPR RI itu adalah DR. Zkei
> Bany Arshead, General Security of Islamic Action Front
> Party yang beralamat di Amman -Abdali- Behind
> Ministry of Industry.
>
> Tanggal 6 Agustus 2006, saya, Eko Yudho dan Husni,
> terlebih dulu melapor kedatangan kami ke Kedubes RI di
> South Um-Uthaina, Amman. Duta Besar sedang tidak ada
> dan kami diterima oleh Deny Tri Basuki, Second
> Secretary Kedubes RI. Alhamdulillah, Deny sangat
> kooperatif dan membantu kami untuk segala informasi,
> baik tentang Jordania, Libanon dan juga Palestina.
> Olehnya, kami diantar ke beberapa tempat yang
> dianggapnya bisa membantu memberikan akses baik ke
> Libanon maupun Palestina. Mulanya, kami diajak bertemu
> dengan DR. Abdul Salam Al Abbadi, General Secretary of
> Jordan Hashemite Charity Organization (JHCO). Ini
> adalah lembaga sosial resmi miliki Kerajaan Jordania
> yang langsung dalam pengawasan Raja Jordan. Menurut
> informasi yang didapat, mereka punya akses khusus
> untuk masuk ke Palestina karena 'kedekatan' kedua
> negara tersebut. Mungkin karena salah satu border
> (pintu perbatasan)- nya ada di dua negara tersebut.
>
> Dari laporan yang saya baca, JHCO secara rutin
> menyalurkan bantuan untuk Palestina setiap beberapa
> bulan sekali. Sayangnya, saya pun mendapat informasi
> bahwa bantuan JHCO disalurkan melalui pemerintah
> berkuasa, dari kubu Fatah, bukan ke Hamas. Karena itu,
> kami memutuskan untuk tidak bekerja sama dengan JHCO,
> kecuali mereka bisa menjamin kami sendiri yang masuk
> ke Palestina.
>
> Akhirnya, setelah berkeliling ke beberapa tempat
> lainnya. Saya, Eko dan Husni memutuskan jalan sendiri
> –tanpa kawalan pihak Kedubes- mencari alamat DR.
> Zkei Bany Arshead. Agak sulit menemukan alamat
> beliau, karena dari Jakarta hanya mendapatkan nomor
> teleponnya saja tanpa alamat jelas. Maka sepanjang
> jalan pun kami menelepon DR. Zkei untuk mendapatkan
> alamatnya. Sebelumnya mereka cenderung tertutup, namun
> setelah kami sebutkan kata kuncinya, baru mereka
> memberikan alamatnya. Kata kuncinya, "Kami diutus
> DR. Hidayat Nurwahid, dari Indonesia".
>
> Setelah berputar-putar menggunakan taksi, akhirnya
> kami menemukan kantor beliau tak jauh dari Masjid Raya
> Kota Amman –saya lupa nama masjidnya. Entah apa ada
> kaitannya dengan 'kata kunci' itu, setibanya di
> kantor DR. Zkei, kami disambut seperti saudara yang
> sudah lama saling kenal, hangat dan bersahabat.
>
> Islamic Action Front Party – IAFP, seperti namanya
> adalah sebuah partai Islam di Jordania. Kalau boleh
> disejajarkan, mungkin kalau di Indonesia sama dengan
> Partai Keadilan Sejahtera (PKS), ini sekadar dugaan
> saya saja, ditambah kedekatan DR. Hidayat Nurwahid
> yang juga dari PKS dengan DR. Zkei.
>
> Ketika kami tiba di kantor itu, kebetulan akan ada
> pertemuan penting para petinggi partai dan dewan
> penasihatnya. Kami dikenalkan dengan beberapa dewan
> penasihat partai tersebut, yang menurut DR. Zkei,
> tidak sembarangan orang bisa kenal atau dikenalkan
> dengan penasihat-penasihat partai itu. Karena
> statusnya pun sepertinya hidden atau tertutup. Maka
> dalam tulisan ini pun saya tidak berani menyebutkan
> nama penasihat tersebut.
>
> Kepada kami, DR. Zkei mengaku tidak bisa membantu
> secara langsung untuk menyalurkan bantuan baik untuk
> Libanon maupun Palestina. Alasannya, karena ia atas
> nama partai dan ada peraturan tertentu bagi partai di
> negara kerajaan itu yang membuat gerak mereka
> terbatas.
>
> Akhirnya, DR. Zkei memperkenalkan DR. Ahmed Essa,
> Sekjen Jamiah Nakobat (The Professional Associations
> Complex), sebuah lembaga perkumpulan para ahli dan
> ilmuwan yang berkedudukan di Amman, Jordania. Jamiah
> Nakobat adalah lembaga yang berdiri sejak 1950, dan
> memfokuskan keahlian dan program mereka untuk bangsa
> Arab. Jaringan mereka terdapat di seluruh Timur
> Tengah, termasuk di Palestina dan Libanon. Essa,
> adalah orang kepercayaan DR. Zkei untuk urusan
> pengiriman bantuan kemanusiaan.
>
> Essa mengajak kami ke sebuah pusat informasi Islam
> yang sepertinya juga merupakan kampus di kota Amman,
> Jordania. Di depan gedung bagian atas terpampang
> poster besar bergambar seorang tentara Hizbullah
> Libanon yang mengangkat jenazah bayi Libanon dengan
> dada tertembus peluru Israel. Dari gambar itu sudah
> membuat saya bergetar, "Mungkin disini pusat
> perjuangan dan bantuan untuk Libanon…" , gumam
> saya.
>
> Memasuki halaman gedung, disambut dengan poster
> berukuran besar memanjang menutupi dinding sepanjang
> enam meter. Disana ada foto-foto orang muda berjajar
> dan di bawahnya tertera tulisan berbahasa arab. Saya
> tidak bisa berbahasa Arab dan Husni yang
> menerjemahkan, katanya, "Ini foto-foto para pemuda
> Hamas yang ditahan Israel. Dan dibawahnya itu ratusan
> nama pejuang lainnya yang juga masih menjadi tawanan
> Israel".
>
> Masuk ke dalam kantornya, mirip kantor Dewan Dakwah
> Islamiah Indonesia (DDII) di Jakarta, dengan
> lorong-lorong dan ruang kerja yang terpisah-pisah.
> Kami diajak ke sebuah gudang besar di bagian paling
> belakang, ada beberapa orang tengah sibuk
> menumpuk-numpuk barang berisi gandum, kornet, minyak,
> dan beberapa jenis makanan kaleng khas timur tengah
> yang disusun dalam dus-dus besar dengan jumlah yang
> sangat banyak. "Ini bantuan untuk Libanon…" kata
> DR. Essa.
>
> Setelah itu, kami kembali ke hotel tempat menginap,
> tak jauh dari Kedutaan Besar RI di Amman. Oya, cerita
> tentang tempat menginap ini cukup menarik.
>
> Hari pertama setelah tiba di Amman, kami sempat
> tinggal di sebuah hotel masih di kota Amman, namun ada
> beberapa hal yang mencurigakan. Sejak masih di
> Jakarta, keberangkatan kami terus dibuntuti
> intel-intel di Jakarta, kami tahu itu. Pikiran positif
> kami, mereka ingin melindungi dan memastikan kami
> berangkat dan tiba dengan selamat. Maklum, kami
> membawa bantuan langsung yang tidak sedikit, sekitar
> Rp. 1 Milyar.
>
> Setibanya di Amman, kami digelandang ke sebuah ruangan
> untuk diinterogasi. Puluhan pertanyaan harus kami
> jawab sepanjang waktu tidak kurang dari tiga jam.
> Beberapa pertanyaan yang masih saya ingat, "
> Apakah Anda militer ? ", " Anda punya misi apa ke
> Jordania ? " dan " Ada rencana ke Palestina ?
> ".
>
> Jujur, dua pertanyaan terakhir harus dijawab dengan
> berbohong, karena saya menjawabnya hanya untuk liburan
> dan sama sekali tidak berniat ke Palestina. Pertanyaan
> retoris saya balikkan ke mereka, "Apa mungkin saya
> bisa ke Palestina ? ", mereka bilang, " Tidak
> mungkin ". " Ya, kalau begitu Anda tidak perlu
> khawatir…" ujar saya.
>
> Mereka juga tanya pekerjaan kami di Indonesia, kalau
> yang ini bisa kami jawab dengan jujur, bahwa saya
> wartawan –saya tidak bilang relawan-, Eko, seorang
> peneliti dan Husni kepala sekolah.
>
> Alhamdulillah, kami diizinkan masuk Jordania. Namun
> belum selesai sampai disitu, karena tiba-tiba kami
> sudah disiapkan sebuah taksi, padahal belum pernah
> memesannya sama sekali. Untuk meyakinkan mereka, kami
> ikuti saja dulu naik taksi tersebut dan diantar ke
> hotel yang kami maksud tadi.
>
> Selama di hotel itu, kami berkali-kali melihat keluar
> jendela, ada orang di dalam mobil yang tidak pernah
> keluar dan terus mengamati gerak-gerik kami di dalam
> hotel. Lagi-lagi kami berpikir positif, mereka hendak
> melindungi.
>
> Keesokan harinya, kami memutuskan untuk mengganti
> taksi dan mencari tempat menginap yang baru. Supir
> taksi yang baru ini, seorang pemuda Palestina yang
> rindu untuk kembali ke tanah kelahirannya namun tidak
> pernah bisa. " Sekalipun saya dimasukkan ke dalam
> peti untuk dikirim ke Palestina, Yahudi itu pasti tahu
> dan akan langsung membunuh saya ", ujarnya.
>
> Kembali ke DR. Essa, di hotel kami berembuk untuk
> mengambil keputusan. Esoknya, kami hubungi DR. Essa
> untuk bertemu kembali dan membicarakan rencana
> pengiriman bantuan untuk Libanon. Nampaknya kami
> sepakat untuk bekerja sama dengan DR. Essa untuk
> penyaluran bantuan ke Libanon, dan setelah itu kami
> pun membicarakan penyaluran ke Palestina.
>
> Kami pun kembali bertemu di kantor DR. Essa. Uang yang
> kami bawa, sebagian dipakai untuk membeli bahan
> makanan dan obat-obatan untuk dikirim ke Libanon.
> Sebagian lainnya kami simpan sementara untuk bantuan
> Palestina, karena DR. Essa berjanji akan mengenalkan
> kami dengan sahabat-sahabatnya dari Committee for
> Palestinian People di Amman.
>
> Pengiriman bantuan direncanakan dua hari setelah
> pembelian barang bantuan hari itu juga, kami sendiri
> yang akan mengantarkan bantuan itu sampai ke Libanon.
> Sambil menunggu pembelian dan pengepakan barang, kami
> memutuskan untuk berjalan-jalan dan mencari informasi
> lain kemungkinan mendapatkan akses masuk ke Palestina.
>
>
> Diantar oleh Ibrahim, sopir taksi asal Palestina itu
> kami mendekati border (perbatasan) Jordania dan
> Israel, letaknya hanya sekitar 40 Km dari kota Amman,
> tidak jauh dari tempat wisata Dead Sea (Laut Mati).
> Sebelumnya, ketika masih di perbatasan Jordania,
> seorang tentara Kerajaan Jordania mengingatkan, "
> Jangan menggunakan kamera, dari jarak 1 Km sniper
> (penembak jitu) Israel bisa tahu dan langsung menembak
> Anda ".
>
> Ada jarak beberapa kilometer antara pintu gerbang
> perbatasan Jordania dan pintu gerbang perbatasan
> Israel. daerah itu hanya berupa jalan panjang yang
> kosong, tanpa penghuni di sisi kiri maupun kanan
> jalannya, yang ada hanya padang pasir dan sisi
> kanannya Laut Mati.
>
> Keterangan yang kami dapat, perbatasan Israel terdapat
> tiga pintu gerbang yang masing-masing dijaga 2.000
> tentara bersenjata lengkap. Di pintu paling depan,
> setidaknya puluhan panser dengan moncong senjata
> terarah ke segala penjuru. Begitu juga berlaku di
> pintu kedua, dan ketiga.
>
> Sampailah kami pada kenyataan bahwa sangat sulit untuk
> bisa menembus perbatasan Israel, terlebih sampai ke
> tanah jihad Jalur Gaza meskipun dalam misi
> kemanusiaan. Alasan utamanya, " Indonesia tak punya
> hubungan diplomatik dengan Israel ", sebuah alasan
> yang kurang pas bagi saya.
>
> Saya tidak menyesali keputusan pemerintah RI untuk tak
> membuka hubungan apapun dengan penjajah Yahudi ini.
> Meski sebelumnya saya sempat berjanji, jika punya
> kesempatan sampai di Jalur Gaza, mungkin sebaiknya
> saya tidak punya kesempatan untuk keluar dari wilayah
> itu agar terbuka lebar kesempatan untuk ikut berjuang
> bersama para mujahidin Palestina. Ingin rasanya ikut
> melempar batu ke arah tank dan panser Yahudi,
> meneriakkan kalimat takbir saat kami dihujani peluru
> dan dihantam roket Israel.
>
> Fokus berikutnya, mengantar bantuan masyarakat
> Indonesia untuk Libanon sampai ke tangan para pejuang
> Hizbullah, semoga memiliki nilai yang sama dengan
> menjejakkan kaki di Palestina karena musuh yang
> dihadapi sama, Yahudi Israel.
>
> Sementara bantuan untuk Palestina, kami bekerja sama
> dengan lembaga Al Munashara Islamic Zakat Committee
> for Palestinian People, sebuah lembaga yang didirikan
> oleh orang-orang Palestina di Jordania yang
> berdedikasi untuk negara mereka tercinta.
>
> Saya hanya bisa berdoa, semoga kesempatan untuk
> menjejakkan kaki di bumi jihad Palestina selalu
> terbuka luas bagi diri yang merindukan surga ini, juga
> bagi ummat Islam mana pun, termasuk di Indonesia.
>
> Saya sangat yakin, andai Yahudi Israel itu membuka
> perbatasan dan siapapun bisa masuk ke Jalur Gaza,
> jutaan ummat Islam akan masuk dan berjuang
> bersama-sama para mujahidin Palestina. Tidak perlu
> jauh-jauh, orang Indonesia saja jumlahnya bisa jutaan.
> Namun hal itu sesuatu yang mustahil, karena sama saja
> dengan bunuh diri bagi Israel.
>
> Buat para sahabat yang saat ini berangkat dan mencoba
> menembus Jalur Gaza, baik melalui Jordania maupun
> Mesir, saya akan sangat bangga jika mereka bisa masuk
> ke Palestina. Sebuah anugerah yang tiada terkira,
> karena tidak semua orang punya kesempatan tersebut.
> Saya ikut berdoa untuk sahabat, meski hati ini terus
> bergemuruh ingin bersama sahabat dalam misi
> kemanusiaan mulia. Allahu Akbar ! .
>
>
> Tidak Mudah Tembus Border Israel (bagian satu).
> http://www.warnaisl am.com/rubrik/ monolog/2009/ 1/4/46320/ Tidak_Mudah_ Tembus_Border_ Israel_bagian_ satu.htm
> Tidak Mudah Tembus Border Israel (bagian dua, habis)
> http://www.warnaisl am.com/rubrik/ monolog/2009/ 1/6/25680/ Tidak_Mudah_ Tembus_Border_ Israel_bagian_ dua_habis. htm
>
> *****

No comments: