Saturday, September 29, 2007

Gerakan Paderi

1803
Gerakan Paderi bermula di Minangka-bau, dan mendapatkan tentangan yang
cukup keras dari masyarakat. Haji Muhammad Arief akhirnya pindah ke
Lintau, Haji Miskin pindah ke Ampat Angkat, dan hanya Haji Abdur
Rahman yang tidak mendapatkan perlawanan.
Perpindahan Haji Miskin ke Ampat Angkat disambut hangat oleh Tuanku
nan Renceh dari Kamang, Tuanku di Kubu Sanang, Tuanku di Padang Lawas,
Tuanku di Koto Padang Luar, Tuanku di Galung, Tuanku di Koto Ambalau,
dan Tuanku di Lubuk Aur. Mereka berbai'ah, kemudian kelompok ini
dikenal sebagai Harimau nan Salapan. Mereka mengharapkan dukungan dari
Tuanku nan Tuo di Ampat Angkat; namun ditolak dan akhirnya mengangkat
Tuanku di Mansiangan putera dari Tuanku nan Tuo sebagai pemimpin. Pada
kenyataannya kelompok tersebut dipimpin oleh Tuanku nan Renceh.
Pasukan Paderi ini mengenakan pakaian putih-putih sebagai lambang
perjuangan suci mereka.

Kaum adat menantang gerakan Paderi ini dengan mengadakan perhelatan
adat yang penuh dengan kemaksiatan, seperti : menyabung ayam, berjudi,
minum minuman keras, madat, dan sebagainya bertempat antara Bukit
Batabuah dengan Sungai Puar (sebagian kisah menyebutkan Pandai Sikek)
di lereng Gunung Merapi. Tantangan ini ditanggapi oleh Pasukan Paderi
sehingga menyerbu tempat tersebut, dan ini memulai Perang Paderi
(tahap pertama) yang meliputi peperangan antara Pasukan Paderi dengan
Kaum Adat.

1804
Peperangan Paderi berlanjut ke Kamang, Tilatang, Padang Rarab,
Guguk, Candung, Matur, sehingga pada tahun 1804 seluruh Luhak Tanah
Agam telah berada dalam kekuasaan Paderi. Tahun-tahun setelah itu
Pasukan Paderi menguasai Luhak Lima Puluh Koto, dengan tanpa
perlawanan yang berarti. Operasi Pasukan Paderi ke Luhak Tanah Datar
mengalami perlawanan yang berimbang, terutama karena di luhak ini
merupakan pusat kekuasaan Kerajaan Minangkabau yang bertempat di
Pagarruyung.

Dan keterangan yang lain sebagai berikut :

1806
Republik Batavia Belanda berubah kembali menjadi Kerajaan Belanda,
tapi masih dalam pengaruh Perancis. Tahun 1807 Belanda menunjuk H.W.
Daendels sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Inggris mulai
agresif menguasai wilayah-wilayah jajahan.

1808
Setelah melalui perjuangan yang panjang, pada tahun 1808 dilakukan
perundingan antara Pasukan Paderi dengan Raja Pagarruyung di Koto
Tangah. Raja Sultan Arifin Muning Alam Syah datang bersama staf
kerajaan dan sanak keluarga, sedangkan dari Pasukan Paderi hadir
Tuanku Lintau lengkap bersama seluruh pasukannya. Karena terjadi
perselisihan paham antara Tuanku Belo dan staf kerajaan, akhirnya
terjadi pertikaian yang mengakibatkan rombongan raja terbunuh. Sebuah
versi menyebutkan raja berhasil melarikan diri. Beberapa penghulu dan
cucu raja berhasil menyelamatkan diri sampai ke Sijunjung dan Kuantan
– Lubuk Jambi. Akibat peristiwa ini Tuanku nan Renceh sangat marah
kepada Tuanku Lintau; begitupun seluruh Luhak Tanah Datar berhasil
dikuasai oleh Pasukan Paderi.

Beberapa waktu setelah itu Tuanku nan Renceh memerintahkan muridnya,
Peto Syarif atau Muhammad Syahab atau kemudian dikenal dengan sebutan
Tuanku Imam Bonjol untuk membuat benteng di Bukit Tajadi sekitar
Alahan Panjang. Benteng dibangun pada areal seluas 90 hektar, dengan
tembok setinggi 4 meter dan tebal 3 meter. Lokasi Alahan Panjang ini
yaitu di hulu sungai Alai Panjang, sebuah tempat antara Kota Lubuk
Sikaping dan negeri Bonjol, dan pada saat ini berada di tepi jalan
lintas Sumatera.

1815
Peperangan Paderi di Minangkabau telah menelan korban yang cukup
besar. Pasukan Paderi telah menguasai Pasaman, selanjutnya Pasukan
Paderi mengarahkan perjuangannya ke Tapanuli Selatan. Tuanku Imam
Bonjol menunjuk Tuanku Rao untuk memimpin benteng di Rao, sedangkan
Tuanku Tambusai memimpin benteng di Dalu-dalu.

1818
Sutan Muning Alam Syah (raja Minangkabau di wilayah pelarian)
mengutus Tuanku Tangsir Alam dan Sutan Kerajaan Alam untuk menemui
Jenderal Inggris Sir Stamford Raffles di Padang. Namun Gubernur
Jenderal Inggris Lord Minto yang berkedudukan di Calcutta India
menolak campur tangan terhadap permasalahan di Minangkabau.

1819
Belanda masuk ke Padang. Raffles yang sebelumnya menjadi Gubernur
Jenderal Inggris di Bengkulu dan pindah ke Singapura, mulai menghasut
rakyat Minangkabau untuk membenci Belanda.

Tuanku Pamansiangan di Luhak Agam meminta Tuanku Imam Bonjol untuk
menarik pasukannya dari Tapanuli untuk menghadapi Belanda di Padang.
Namun keinginan ini ditolak oleh Tuanku Rao, Tuanku Tambusai, dan
Tuanku Lelo, sehingga Tuanku Imam Bonjol hanya memantau gerakan
Belanda dari kejauhan.

1820
Tuanku nan Renceh meninggal dunia, selanjutnya kepemimpinan Pasukan
Paderi diserahkan secara mufakat kepada Tuanku Imam Bonjol.
Belanda mulai menyebarkan pengaruh di Minangkabau.

1821
Mulainya perang Paderi (tahap kedua) di Minangkabau, yang meliputi
peperangan antara Pasukan Paderi melawan Belanda, yang kemudiannya
Belanda dibantu oleh Kaum Adat. Peperangan sengit berlangsung di 3
tempat, yaitu : Simawang untuk menyerang kubu Pasukan Paderi di Sulit
Air, Air Bangis, dan Lintau. Peperangan di Air Bangis mengakibatkan
Tuanku Rao gugur dalam pertempuran.

Peperangan bermula dari pertemuan 14 orang Penghulu yang
mengatasnamakan Yang Dipertuan Minangkabau mengikat perjanjian dengan
Residen Belanda di Padang bernama Du Puy untuk memerangi Pasukan
Paderi, terjadi pada tanggal 10 Februari 1821. Belanda kemudian
mengerahkan 100 pasukan dan 2 meriam di bawah pimpinan Letnan Kolonel
Raaff untuk menggempur pertahanan Paderi di Simawang. Dengan susah
payah Belanda akhirnya menguasai Sulit Air, Simabur, dan Gunung.

Belanda membangun benteng Fort de Kock di Bukittinggi.
Belanda memasuki Batusangkar, kemudian membangun benteng Fort van
der Capellen.

1822
Belanda menyerang Pagarruyung, sehingga Pasukan Paderi mundur ke
Lintau. Penyerangan Belanda ke Lintau dapat dipatahkan. Selanjutnya
Belanda memblokade Lintau, dan secara bertahap merebut Tanjung Alam,
Koto Lawas, Pandai Sikat, dan Gunung dalam rangka menguasai Luhak
Agam. Tuanku Pamansiangan dapat ditangkap, selanjutnya dihukum gantung
oleh Belanda.

Tuanku Imam Bonjol melancarkan serangan balasan ke Air Bangis, walau
gagal, selanjutnya melancarkan serangan ke Luhak Agam, dan berhasil
menguasai kembali Sungai Puar, Gunung, Sigandang, dan daerah lainnya.
Juli, sekitar 13.000 Pasukan Paderi merebut pos Belanda di Tanjung
Alam.
15 Agustus, Pasukan Paderi merebut Penampung, Kota Baru, dan Lubuk
Agam.

1823
Dengan adanya tambahan pasukan dari Batavia, Kolonel Raaff melakukan
serangan ke Luhak Agam. Terjadi pertempuran sengit di Bukit Marapalam,
kemudian Biaro, serta wilayah sekitar Gunung Singgalang.
12 April, Belanda mengerahkan kekuatan terbesar sebanyak 26 opsir,
562 serdadu, dan 12.000 pasukan adat untuk menggempur Lintau, namun
serangan ini berhasil dipatahkan.

1824
22 Januari, Belanda melakukan perjanjian gencatan senjata dengan
Pasukan Paderi di Masang. Perjanjian ini hanya berlangsung sebulan,
setelahnya Belanda melakukan serangan ke Luhak Agam dan Tanah Datar.
Pada pusat kedua luhak tersebut, Belanda bertahan di benteng Fort de
Kock, yang sekarang wilayah di sekitarnya berkembang menjadi Kota
Bukittinggi. Tuanku Imam Bonjol selanjutnya memusatkan kekuatan
Pasukan Paderi di benteng Bonjol.

17 Maret, Inggris dan Belanda menandatangani Treaty of London, yang
membagi wilayah jajahan : Sumatera, Jawa, Maluku, Irian Jaya, dan
sebagainya sebagai wilayah Belanda; sedangkan Malaya, Singapura, dan
Kalimantan Utara sebagai wilayah Inggris.

1825
Gerakan Paderi telah sampai ke Tapanuli Selatan. Raja Batak
Sisingamangaraja X terbunuh dalam peperangan.
Perang Jawa pecah yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.
15 Nopember, Belanda mengajukan gencatan senjata dengan mengakui
wilayah-wilayah kekuasaan Paderi yang memang telah dikuasai oleh
Pasukan Paderi. Belanda menarik 4300 pasukannya dari Minangkabau untuk
berperang ke Jawa, dan hanya menyisakan 700 pasukan yang ditempatkan
di benteng-benteng Belanda.

1832
Belanda berhasil merebut Kapau, Kamang, dan Lintau. Keberhasilan
Belanda dalam berbagai pertempuran serta kekejian yang ditinggalkannya
menggusarkan Kaum Adat. Pada tahun 1832 ini dilakukan perjanjian
antara Pasukan Paderi dan Kaum Adat untuk bersama-sama mengusir
Belanda dari Minangkabau. Tempat perjanjian di Bukit Tandikat di
lereng Gunung Merapi. Versi lain yang beredar umum selama ini
menyebutkan tempat perjanjian tersebut berlangsung di Bukit Marapalam.

1833
11 Januari, dilakukan serangan oleh Pasukan Paderi, Kaum Adat,
bersama-sama dengan seluruh masyarakat kepada Belanda. Serangan ini
berhasil memecah blokade Belanda di Bonjol hingga ke daerah Sipisang
dan Alahan Panjang. Sedangkan untuk wilayah Luhak Agam dan Tanah
Datar, belum terdapat koordinasi serangan. Serangan ini menandai
Perang Paderi tahap ketiga, yaitu perang antara Belanda dengan
kesatuan masyarakat Minangkabau.

23 Agustus, Gubernur Jenderal Van den Bosch berkunjung ke Padang,
dan memerintahkan penyerangan besar-besaran ke benteng Bonjol.
10-12 September, Jenderal Riesz memimpin pasukan dan mengerahkan
2.400 rakyat Lima Puluh Koto, Agam, dan Batipuh yang setia kepada
Belanda untuk menyerang benteng Bonjol. Namun serangan ini dapat
dipatahkan oleh Pasukan Paderi.

13-14 September, Mayor de Quay memimpin pasukan Belanda dari Suliki
untuk menyerang basis pertahanan Paderi di Kota Lalang. Serangan ini
berhasil dengan dikuasainya Kota Lalang oleh Belanda. Namun dalam
pengejaran di Air Papa, pasukan Belanda dijebak sehingga meninggalkan
korban yang banyak sekali. Sisa pasukan kembali ke Payakumbuh.
Sementara pasukan Jawa dan adat menjaga Kota Lalang.

11 September, Letnan Kolonel Elout memimpin serangan dari Manggopoh,
namun dapat ditahan oleh Pasukan Paderi. Belanda bergerak mundur ke
Kota Merapak, namun selama perjalanan mendapatkan banyak serangan dari
Pasukan Paderi sehingga meninggalkan banyak korban dan persenjataan.
Serangan Belanda dari utara dipimpin oleh Mayor Eilers dengan
kekuatan 80 prajurit. Dalam perjalanannya dari Rao menuju Lubuk
Sikaping mendapatkan bantuan sekitar 2.000 masyarakat lokal, sehingga
melanjutkan perjalanannya sampai ke Bonjol. Tanggal 18 September 1833
pasukan ini telah sampai di Alai, kurang lebih 2 km dari benteng
Bonjol. Peperangan pecah, namun pada tanggal 19 September 1833 pasukan
ini dapat dipukul mundur oleh Pasukan Paderi sehingga meninggalkan
korban yang sangat banyak.

21 September, Gubernur Jenderal Van den Bosch menerima pasukannya
yang kalah di Padang, serta mengatur strategi untuk peperangan
berikutnya.

25 Oktober, Belanda dan Pasukan Paderi menandatangani perjanjian
damai Plakaat Panjang, namun kemudiannya Belanda ingkar janji.

1834
Belanda berhasil merebut Matur dan Masang. Belanda juga berhasil
merebut jalur pelayaran sungai ke timur yang melalui Sungai Rokan,
Kampar Kanan, dan Kampar Kiri, serta wilayah Pelalawan. Sebenarnya
selama tahun 1834 ini tidak ada peperangan yang terbuka antara Pasukan
Paderi melawan Belanda.

1835
16 April, Belanda memutuskan untuk melakukan serangan besar-besaran
ke benteng Bonjol.
21 April, 2 kolonne pasukan Belanda bergerak dari Matur dan Bamban
menuju Masang melalui jalur hutan.
23 April, pasukan Belanda telah sampai di tepi Sungai Batang Ganting
untuk selanjutnya menuju Sipisang. Terjadi pertempuran di sepanjang
perjalanan selama 3 hari 3 malam, hingga akhirnya Sipisang jatuh ke
tangan Belanda.

24 April, 1 kolonne pasukan Belanda bergerak menuju Simawang Gedang,
dan menghadapi pertempuran melawan 500 Pasukan Paderi. Sementara itu 1
kompi pasukan tentara Bugis dibantu pasukan adat dari Batipuh dan
Tanah Datar bergerak mengusir Pasukan Paderi di luar Simawang Gedang,
sehingga Pasukan Paderi terdesak hingga ke Batang Kumpulan.
Pertempuran besar terjadi, dimana telah menunggu 1.200 Pasukan Paderi.
Dengan bantuan pasukan Belanda, akhirnya Kampung Melayu dapat dikuasai.

27 April, pasukan Belanda mengejar sisa Pasukan Paderi di sepanjang
lembah terjal dan Sungai Air Taras, namun serangan ini dapat dipatahkan.

3 Mei, dengan adanya tambahan dan konsolidasi pasukan, Belanda
melanjutkan serangan. Namun baru serangan dimulai, Letnan Kolonel
Bauer komandan pasukan Belanda telah terluka terkena ranjau.
Pertempuran pecah menjadi perang tanding yang menguntungkan Pasukan
Paderi. Pasukan Belanda bergerak mundur dengan melakukan bumi hangus.

8 Juni, pasukan Belanda merebut Padang Lawas yang merupakan front
terdepan Alahan Panjang.

16 Juni, pasukan Belanda telah sampai 250 langkah dari kampung
Bonjol. Pertempuran pecah, Belanda menggunakan howitser, mortir, dan
meriam besar; sementara Pasukan Paderi membalas dengan menembakkan
meriam dari Bukit Tajadi. Karena posisi kurang menguntungkan, Letnan
Kolonen Bauer meminta tambahan pasukan dari Residen Francis sebanyak
2.000 pasukan.

21 Juni, dengan tambahan pasukan yang datang pada 17 Juni, Belanda
bergerak maju mengepung benteng Bonjol. Sementara di dalam benteng
Bonjol telah berkumpul komandan-komandan Pasukan Paderi dari Tanah
Datar, Lintau, Bua, Lima Puluh Kota, Agam, Rao dan Padang Hilir yang
telah ditaklukkan Belanda.

Pada awal Agustus pasukan Belanda yang telah terkonsolidasi telah
mencapai 14.000 pasukan. Pada pertengahan Agustus, dengan adanya
tambahan pasukan Bugis, Belanda mulai melakukan serangan.

5 September, Pasukan Paderi melancarkan serangan ke kubu-kubu
Belanda di luar benteng Bonjol, dan menimbulkan korban jiwa yang cukup
besar dari kedua belah pihak. Pasukan Paderi mengintensifkan perang
gerilya.

11 Desember, blokade yang berlarut-larut menimbulkan keberanian
rakyat untuk memberontak, sehingga rakyat Alahan Panjang dan Simpang
melakukan perlawanan. Hanya dengan bantuan pasukan Madura, Belanda
dapat memadamkan pemberontakan ini.

Setelah itu Belanda cukup direpotkan dengan pemberontakan rakyat di
daerah taklukkan. Sambil menunggu tambahan pasukan dari Batavia,
Belanda mengajak Pasukan Paderi untuk berunding, namun ditolak Tuanku
Imam Bonjol.

1836
3 Desember, dengan datangnya tambahan pasukan dari Batavia, Belanda
melakukan serangan besar-besaran ke benteng Bonjol. Paha Tuanku Imam
Bonjol terkena tembakan termasuk terkena 13 tusukan. Serangan ini
berhasil membunuh keluarga dan anak Tuanku Imam Bonjol. Namun serangan
balik dari Pasukan Paderi dapat mengusir pasukan Belanda keluar dari
benteng.

Kegagalan penaklukkan benteng Bonjol memukul Gubernur Jenderal
Hindia Belanda di Batavia, sehingga untuk kesekian kalinya mengirim
panglima tertingginya Mayor Jenderal Coclius ke Bukittinggi untuk
memimpin secara langsung serangan ke Bonjol.

From : Auliah azza

No comments: