Tuesday, August 14, 2007

Catatan Perang Sastra Indonesia

Peta Sastra Negara Kita August 7, 2007
Posted by Romeltea in Opini, General. add a comment
Peta Sastra Negara Kita

Oleh H. Usep Romli HM

“Para penyair diikuti orang-orang sesat. Apakah engkau
(Muhammad) tidak melihat, sesungguhnya mereka,
berseliweran di lembah-lembah dan perkataan mereka,
menyimpang dari kebenaran? Mereka mengucapkan apa-apa
yang tak pernah dikerjakan. Kecuali para penyair yang
beriman dan berbuat kebajikan, serta banyak mengingat
Allah, dan bangkit melawan setelah dianiaya” (QS.
Asy-Syu’ara:224-227).

KASUS pemuatan sajak “Malaikat” buatan Saeful Badar
pada lembaran “Khasanah” HU Pikiran Rakyat edisi 4
Agustus 2007, hlm. 30, yang jelas-jelas mengandung
penghujatan terhadap konsep Rukun Iman Islam,
sebetulnya tidak berdiri sendiri. Para penyair dan
pengarang sastra Indonesia mutaakhir kini sedang
mengalami kontroversi amat luar biasa.

Di satu pihak, mencoba mempertahankan nilai-nilai
norma etika dalam berestetika. Di pihak lain,
memforsir segala daya upaya untuk merobohkan
norma-norma etika itu. Kelompok terakhir yang memang
sangat dominan karena didukung publikasi media massa
dan penerbitan yang kuat, menganggap estetika adalah
estetika tok. Tanpa perlu etika. Karena kebebasan
berekspresi yang masih menganut etika, dianggap tidak
bebas lagi. Bukan ekspresi murni lagi. Melainkan
ekspresi semu hasil “penjajahan” norma-norma etika
yang selalu kuno, primitif, beku, jumud, terbelakang,
dsb.

Maka kelompok terakhir ini, diusung para
seniman-sastrawan-budayawan yang biasa berkelompok di
“Teater Utan Kayu”, berkelayapan dari kafe ke kafe,
seolah-olah mengembangkan sebuah mazhab sastra-seni
yang –-katakanlah– porno. Karya-karya mereka penuh
dengan idiom-idiom tentang alat kelamin, air mani,
persetubuhan, seks bebas.

Sebutlah nama-nama Ayu Utami, dengan novel-novelnya
“Saman” dan “Larung”, Djenar Mahesa Ayu (novel “Mereka
Bilang Aku Monyet”), Dewi Lestari (”Supernova”), dll.
Karya-karya lain berupa kumpulan sajak, cerpen, hasil
pengumbaran daya khayal tanpa batas dan tanpa etika
(serta logika), lahir dari tangan-tangan Hudan
Hidayat, Binhad Nurohmat, Fajrul Rahman, Dinar Rahayu,
Rieke Diah Pitaloka, dll. Media-media seperti
“Kompas”, “Media Indonesia”, “Koran Tempo”, selalu
memuat dan menyanjung-puja karya-karya mereka.

Anehnya, orang seperti Binhad Nurohmat, yang konon
hapal di luar kepala hadits-hadits Nabi Muhammad Saw
dari “Kutubus Sittah” (enam kitab hadits paling
representatif, terdiri dari susunan Imam Bukhari,
Muslim, Turmudzi, Nisai dan Ibnu Majah), ikut-ikutan
menulis sajak-sajak yang liar dan brutal yang penuh
imajinasi-imajinasi seksual. Antara lain sajak-sajak
yang terkumpul dalam “Kuda Ranjang” (2002).

Mereka bebas leluasa melahirkan karya apa saja dalam
bentuk apa saja, asal mengandung unsur penghujatan
terhadap norma-norma kemanusiaan dan keagamaan. Malah
mereka menganggap karya-karyanya itu, sangat
manusiawi, karena konon berhasil mengungkap watak
dasar dan perasaan manusia paling dalam. Konon
berhasil mendobrak kemunafikan karena berani mengupas
hal-hal yang selalu ditabukan akibat kungkungan norma
etika.

Adakah perlawanan dari sastrawan budayawan yang masih
punya norma? Tentu saja ada. Bahkan mereka memberikan
perlawanan dari dua arah dan cara.

Pertama, langsung menohok kelakuan para sastrawan yang
mengatasnamakan kebebasan berekspresi tanpa norma
etika itu. Dipelopori sastrawan senior Taufik Ismail,
pada pidato kebudayaan di Akademi Jakarta (20 Desember
2006), berjudul “Budaya Malu Dikikis Habis Gerakan
Syahwat Merdeka”, menyebut kelompok sastrawan pemuja
kebebasan berekspressi itu sebagai “Gerakan Syahwat
Merdeka”. Karya mereka, menurut Taufik, dikategorikan
“Sastra Mazhab Selangkangan” (SMS), atau “Fiksi Alat
Kelamin” (FAK), yang mengandung faham neo-liberalis.
Bahaya karya-karya mereka, sejajar dengan bahaya
narkoba, VCD porno, TV mesum, foto-foto cabul di
internet, dan semacamnya.

Kedua, dengan membuat karya-karya tandingan yang penuh
norma etika, relijius, serta ajakan takwa kepada Allah
SWT. Dipelopori “Forum Lingkar Pena” (FLP),
karya-karya baik-baik ini, mampu merebut pasar. Banyak
yang berkali-kali cetak ulang. Novel “Ayat-Ayat Cinta”
karya Habiburahman el Sirazi, misalnya, sudah belasan
kali cetak ulang. Sukes buku-buku tersebut tak pernah
diulas di “Kompas”, “Media Indonesia”, atau
“KoranTempo” yang hanya mendukung “SMS” dan “FAK”
saja.

Menanggapi pidato kebudayaan Taufik Ismail, para
pendukung “SMS” dan “FAK” segera bereaksi keras. Hudan
Hidayat, Fajrul Rahman, Marian Amiruddin, Rocky
Gerung, mengeluarkan risalah “Memo Indonesia” (12 Juli
2007). Penuh keangkuhan, mereka menyatakan:

“Setiap upaya atas dasar moral, nilai-nilai, atau
kekuasaan yang hendak membelenggu,adalah menghambat
dan menjauhkan manusia dari kemajuan dan kebebasannya
sendiri. Kami adalah manusia bebas. Berdaulat atas
jiwa dan raga kami.Untuk mencipta kemanusiaan kami
sendiri, dalam kebebasan penciptaan tanpa penjajahan….
Kemajuan dan kebebasan kemanusiaan adalah cita-cita
kami!”

Proklamasi “Memo Indonesia” itu, dimuat dalam “Media
Indonesia Minggu” 22 Juli 2007. Pada media yang sama,
dan tanggal yang sama, penyair Binhad Nurohmat yang
konon hafal hadits “Kutubus Sittah” itu, menulis
pendapatnya yang menentang pendapat Taufik Ismail.

Dalam tulisan berjudul “Malu (Aku) Jadi Penghujat
Sastra”, Binhad memberi “petuah” kepada Taufik Ismail.
Bahwa serangan terhadap para sastrawan mutakhir,
sebagai provokasi. Tak ubahnya dengan provokasi para
pengarang “Lembaga Kebudayaan Rakyat” (Lekra),
organisasi kebudayaan milik Partai Komunis Indonesia
(PKI) th.1950-1965. Ia menggunakan pendapat “Lekra”
ketika menyerang Taufik Ismail dan kawan-kawan yang
tergabung dalam “Manifest Kebudayan” (Manikebu), yang
merupakan musuh nomor satu “Lekra” tahun 1960-an.

Ketika itu “Lekra” menyerang puisi-puisi erotis karya
para sastrawan “Manikebu”: “…puisi erotis adalah puisi
hina. Sastra semacam inilah yang harus dibabat”
(dikutip oleh Binhad dari rubrik “Lentera” koran
“Bintang Timur”, 2 Nopember 1962). Lalu Binhad
bertanya, bukankah isi pidato Taufik Ismail bukan
sejenis pembabatan juga ?

Binhad juga menyatakan bahwa “Gerakan Syahwat Merdeka”
sesungghnya tidak ada. “GSM” hanya jargon orisinil
karangan Taufik Ismail semata, yang
dibesar-besarkannya melalui koran dan mimbar pidato
demi penghujatan dan penyudutan belaka.

Suatu pendapat yang bertolakbelakang dengan kenyataan,
yang coba disembunyikan oleh Binhad Nurohmat, penyair
“Kuda Ranjang” yang juga penuh kejalangan amoral,
padahal ia seorang penghafal hadits Nabi Saw. “GSM”
hasil lontaran Taufik Ismail, memang ada. Karya-karya
Ayu Utami, Djenar Mahesa Ayu, Dinar Rahayu, Hudan
Hidayat, dkk., termasuk Binhad Nurohmat, benar adanya.
Benar membawa genre “Sastra Mzhab Selangkangan”. Yang
oleh Mahdiduri, Penyair dan Ketua KSI Banten, dinilai
sebagai fiksi seksual yang tak jauh berbeda dari
layanan seks premium call 0809 (Republika, 22 Juli
2007).

Pidato kebudayaan Taufik Ismail di Akademi Jakarta,
yang menghujat “GSM”, “SMS”, dan “FAK”, tidak pernah
diliput, diberitakan atau diulas di koran-koran
“Kompas”, “Media Indonesia”, “Koran Tempo”, dan media
pendukung neoliberalisme –termasuk pendukung publikasi
“Jaringan Islam Liberal” (JIL)– lainnya. Hanya
“Republika” yang memuat. Sayang, sebaran “Republika”
jauh lebih kecil dan lebih sempit daripada koran-koran
neoliberal tadi. Sehingga gemanya tidak sampai ke
masyarakat.

Demikian pula, pemberitaan atau iklan buku-buku karya
pengarang “Forum Lingkar Pena” yang Islami, hanya
“Republika” yang suka memasang. Yang lain-lain
–terutama “Kompas” lebih suka mempublikasikan dan
menyanjung puja karya-karya “picisan” semacam fiksi
“teenlit” atau “chiklit”, yang isinya hanya cocok
untuk sinetron-sinetron remaja kelas kambing di TV-TV
yang juga mengemban missi neoliberal.

Berdasarka fakta-fakta di atas, umat Islam perlu
melakukan langkah-langkah preventif dan berskala
besar. Antara lain :

1. Merangsang pertumbuhan pengarang dari lingkungan
Islami (madrasah, pesantren, harakah, dll.). Mendidik
dan melatih para pengarang fiksi dan non-fiksi yang
bervisi etis serta agamis.

2. Memperbanyak media massa yang selalu siap
mempublikasikan, mengulas, mempromosikan karya-karya
Islami tanpa batas. Artinya, tidak hanya karya-karya
yang sudah berhasil mencapai batas nilai mutu tinggi
yang dipromosikan.Karya para pemula juga perlu
diperhatikan.

Sebagai contoh: karya-karya “teenlit” dan “chiklit”
(para pengarang remaja, anak sekolahan), sangat gencar
dipromosikan “Kompas”. Karya-karya semacam “Eifel My
Love”, “Buruan Cium Gue”, dan sejenisnya, berkat
promosi yang diada-adakan itu, laku keras. Bahkan
diangkat ke layar kaca dan film. Membuat terpesona
kaum remaja yang masih polos dan lugu.

Alhasil, sajak “Malaikat” karya Saeful Badar di “PR”,
berikut visi dan missi Redaktur Budaya “PR”, hanya
sebagai dampak akibat dari keberhasilan jaringan
konspirasi imperialisme-kapitalisme dalam memandulkan
etika dan rasa keimanan pada jiwa para sastrawan.

Akibat lebih jauh, harus berkonfrontasi dengan
kelompok-kelompok masyarakat Islam yang ingin
mempertahankan kemurnian akidah dan ketahanan etika.
Kelompok-kelompok yang justru merupakan pangsa pasar
paling utama media massa, termasuk “PR”. Sehingga
timbul kesan – dan ini sudah menjadi kenyataan global
– mereka mencari keuntungan dari orang-orang yang
dikorbankan dan dihinakan.***

– H. Usep Romli HM adalah wartawan senior,
sastrawan-budayawan Sunda, penggiat komunitas “Raksa
Sarakan”. Tinggal di Pedesaan Kec. Cibiuk, Kab. Garut.
Naskah ini khusus dikirim buat www.romeltea.co.nr.
Copyright (c) 2007 www.romeltea.co.nr

No comments: