Friday, June 15, 2007

Vika Cikita, Putri Tukang Parkir yang Meraih Nilai UN Terbaik

Vika Cikita, Putri Tukang Parkir yang Meraih Nilai UN Terbaik
se-Sumbar

Jum'at, 15-Juni-2007, 10:11:43
Telah dibaca sebanyak 175 kali

Kerap Jalan Kaki dari Jati Rumah Gadang ke Sekolah. Kemiskinan sangat
dekat dengan kebodohan. Tapi hal itu tak berlaku pada Vika Cikita,
siswa SMA 1 Padang, yang ternyata anak seorang tukang parkir di kota
ini. Vika mampu membuka mata siapapun, bahwa kemiskinan keluarganya
bukan halangan baginya menggapai nilai fantastis di sekolah. Vika
berhasil meraih nilai ujian nasional (UN) terbaik se-Sumbar.

Sebuah rumah kayu dan berlantai kayu di Jati Rumah Gadang No VII
Kelurahan Jati Kecamatan Padang Timur, ternyata menyimpan mutiara.
Jika berkunjung ke kediaman Ridwan dan Indrawati—orangtua Vika—memang
cukup sulit menemukannya. Maklum, kita harus berjalan kaki ke lokasi
yang disebut warga sekitar Jati Rumah Gadang itu. Rumah itu ditempeli
stiker keluarga miskin. Tak ada ruang tamu. Hanya sebuah beranda
dilengkapi tiga sofa usang. Jika anda tamu, di sofa usang itulah anda
bisa melepas kepenatan. Ridwan dan Indrawati akan menyambut dengan
senyuman. Tulus. Disusul kemudian Vika keluar dari kamar.

Di sinilah, Vika Cikita, 17 tahun, anak pertama Ridwan, tinggal dan
belajar setiap hari. Vika menceritakan hampir setiap hari dia ke
sekolah berjalan kaki. Jika ada ongkos dari bapaknya yang menjadi
tukang parkir di kawasan Bioskop Raya Teather Padang, Vika terkadang
tetap jalan kaki. Rute Vika jalan kaki ke sekolahnya di SMAN 1 Padang
melalui jalan kecil tembus ke Universitas Dharma Andalas di Jalan
Perintis Kemerdekaan, lanjut ke Jalan Sudirman melalui belakang rumah
Gubernur, dan langsung menuju ke SMAN 1. Ukuran waktunya lebih kurang
45 menit, bahkan satu jam perjalanan.

Walaupun berasal dari keluarga yang tak mampu, dari kecil Vika sudah
terlihat cerdas. Itu berkat air susu ibunya. Sang ibu juga tak
menyangka. Karena menurut Indrawati sejak kecil Vika makannya
tidaklah yang mewah-mewah. Terpenting bernilai gizi, seperti tempe,
tahu, telur, dan sayuran. Vika Cikita pun bukan tipe manja dan mudah
berpatah arang. Cita-cita digengamnya kuat penuh semangat. Inilah
pemicunya. Vika selalu berhasil membuktikan hal itu sejak SD dan SMP.
Bahwa ia harus mampu membuat bahagia orangtuanya, walaupun tanpa
merengek-rengek ikut les, seperti kebanyakan anak-anak berada.

“Bagaimana mau les, ke sekolah saja Vika berjalan kaki karena tidak
ada ongkos. Walaupun begitu Vika tetap harus sekolah, karena dengan
pendidikan itulah kita dapat mengangkat derajat kita,” ujar peraih
peringkat pertama nilai UN tingkat Sumatera Barat ini kepada Padang
Ekspres, sembari meletakkan segelas air putih.Kamu tentu sangat
bahagia?

“Iya, Vika langsung sujud syukur pada Allah SWT saat mendengar
pengumuman itu.Jujur, Vika tidak menyangka kalau Vika meraih
peringkat satu UN. Karena, yang terpenting bagi Vika bagaimana Vika
bisa lulus dengan nilai yang baik,” ujar Vika yang lantas membenahi
jilbabnya.Yang membuat Vika was-was saat ini adalah apakah ia lulus
dalam SPMB atau tidak nantinya dan biaya kuliahnya, walaupun begitu
Vika sangat berharap ia dapat kuliah. Hal inilah yang menyebabkan
orangtuanya mati-matian mengumpulkan uang agar ia bisa ikut bimbel
SPMB.

Sederhana: Vika Cikita (kanan) bersama Ny Indrawati di rumahnya yang
sederhana. Wali Kota Padang Fauzi Bahar (Insert) menyanggupi untuk
memberi beasiswa bagi Vika hingga tamat.

“Hanya untuk mencari uang Rp250 ribu untuk bimbel SPMB, ayah Vika
benar-benar harus banting tulang mencari uang. Makanya Vika
benar-benar serius agar lulus, doakan ya, Kak,” tuturnya. Ketika
masih kecil, Vika bercita-cita menjadi dokter karena ia ingin
membantu orantuanya yang tak mampu. Ayah Vika berpropesi sebagai
tukang parkir sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga.Tetapi setelah
masuk ke bangku SMA, Vika mulai menyadari keadaannya. Keinginannya
untuk masuk Fakultas Kedokteran terasa jauh dari dirinya. “Darimana
uangnya, Kak, untuk biaya sekolah ini saja Vika dibantu oleh
sekolah,. Jadi, tidak mungkin rasanya jika Vika mengikuti keinginan
Vika.

Lalu Vika dianjurkan guru di sekolah untuk berkuliah di UNP dengan
harapan agar Vika langsung menjadi guru.Makanya ketika ada program
Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) Vika lalu memilih jurusan
Fisika UNP.Tetapi sayang Vika tidak lulus di sana padahal untuk beli
formulir PMDK saja Vika dibantu guru-guru,” keluhnya dengan mata
berkaca-kaca.Ketika ditanya ke depan ia ingin memilih jurusan apa
jika hendak kuliah Vika menjawabnya dengan bingung, bukan karena tak
tahu jawabannya tetapi karena ia takut biayanya akan memberatkan
orangtuanya.”Yang terpenting Vika ingin cari jurusan yang kuliahnya
sebentar dan biayanya murah,” tukasnya.

Pergaulan Vika di Sekolah

Guru-guru di sekolah Vika mengaku, perilaku Vika sama sekali tak
berbeda dari anak-anak lain. “Tidak ada minder sedikit pun berteman
walau kadang ia tak jajan, tak terlihat ia mengeluh pada siapapun.
Teman-temannya pun tak melihat sebelah mata pada Vika, mereka malah
membantu Vika jika terlihat Vika belum makan atau jika ada
acara-acara sekolah, tak segan-segan temannya membantu,” ujar Wakil
Kepala Bidang Kesiswaan, Drs.Ramadansyah.

Alumni SMP 5 Padang ini memang sangat rendah hati sekali, walau
banyak media yang ingin mewawancarainya.Ia tetap mengatakan bahwa ia
takut dibilang terlalu diekspos karena ia belum apa-apa dibanding
teman-teman lainnya. Bahkan, ia sangat menghargai teman-temannya yang
selama ini membantunya. “Teman-teman Vika sering membantu Vika, jika
Vika tidak ada uang jajan. Makanya, Vika tak ingin mengecewakan
teman-teman,” tutur Vika. Saat mengetahui keberhasilan Vika, orangtua
Vika senang tetapi tak terlalu kaget karena memang dari kecilnya Vika
termasuk anak yang cerdas dan kreatif.

“Ketika kecil, Vika sering diundang menyanyi di pesta pernikahan atau
acara-acara kelurahan. Dandanannya pun tak kalah dibanding
penyanyi-penyanyi cilik lainnya.Tetapi, hobi Vika ini terhenti saat
ia mulai SMP mungkin karena ia tahu keadaannya,” tutur ibu Vika,
Indrawati (41).Ibu Vika sangat berharap agar ada pihak nantinya yang
membantu biaya sekolah Vika. “Jujur, saya tak mampu membiayai kuliah
Vika nantinya. Tapi, saya tak pernah mematikan harapan dan keinginan
anak saya.Mudah-mudahan ada jalannya,” tutur Indrawati.

Wako Ulurkan Kasih

Saat berita ini ditulis, Padang Ekspres mendapat telepon dari Wali
Kota Padang, Drs. Fauzi Bahar, M.Si. Subhanaullah, ternyata kabar
luar biasa datang dari orang nomor satu di Kota Padang itu, Fauzi
Bahar menyanggupi untuk membiayai kuliah Vika hingga ia tamat.
“Dimanapun Vika nantinya kuliah, saya akan membiayainya hingga ia
menamatkan kuliahnya. Silahkan Vika ingin kuliah di mana,” tegas
Fauzi. (***)

-----
From :http://www.padangekspres.co.id/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=557

No comments: