Tuesday, June 12, 2007

Surabaya: Pelacur anak laris manis

Senin, 11/06/2007 10:12 WIB
Menguak Erotisme Dolly(2)
PSK Anak Laris Manis
Steven Lenakoly - DetikSurabaya

Surabaya - Jam di tangan menunjukkan pukul 22.00
malam. Langit Surabaya tampak cerah tak berawan,
secerah riuhnya suasana Dolly. Saat itu tidak ada yang
berbeda dengan malam sebelumnya di lokalisasi ini.

"Bang SMS siapa ini bang..kok pakai sayang-sayang"
sayup terdengar samar dari sebuah kafe karaoke yang
berada di tengah lokalisasi Dolly.

Makin mendekat makin menguat lagu itu. "Selamat malam
mas, silakan masuk," ucap seorang pelayan yang duduk
di bangku putih tanpa sandaran di depan kafe tersebut.

Telinga terasa ingin pecah ketika masuk dalam ruangan
yang di depannya ditampilkan big screen atau televisi
layar besar dan menampilkan video lagu yang
dipopulerkan Trio Macan itu.

Di tempat itu juga terdapat panggung seukuran 3 meter
kali 5 meter, lengkap dengan peralatan bandnya. Ada
gitar, bongo, drum dan bass serta keyboard.

Di sekitarnya juga terdapat ruangan gelap itu yang ada
7 baris sofa warna biru berkapasitas 2 orang yang
ditata secara vertikal. Ada dua sisi, kiri dan kanan.
Setiap sisi ada dua sofa kecil yang di depannya
terdapat 2 meja seukuran sofa.

detiksurabaya.com memilih tempat duduk di 2 baris dari
belakang. Tak lama berselang setelah duduk, datang
seorang pelayan mengenakan pakaian warna coklat dengan
motif batik.

Pelayan itu membawa membawa gelas bir ukuran besar dan
selembar tisu kepada seorang pria paruh baya yang
duduk di ujung sofa

Kemudian dia meletakkan bir itu di atas meja warna
coklat yang ada di depan pria itu. "Mau diminum apa
mas," kata pelayan itu ramah sambil menatap dan
tersenyum kepada kami, usai memberi minuman kepada
pria itu.

Setelah memilih minuman, detiksurabaya.com melihat ke
belakang. Di belakang tampak seorang perempuan dengan
tinggi 170 centimeter, berambut ikat sebahu, bertubuh
sintal, berparas tidak terlalu cantik, mengenakan
pakaian mirip pakaian wanita hamil warna biru motif
kembang yang sedang bercengkrama dengan bartender.

Kami pun mengacungkan tangan, dengan sigap perempuan
itu datang. "Ada apa?" tanyanya. "Saya sedang mencari
teman. Ada tidak?". "Ada, sebentar ya," jawabnya.

Ia kemudian melangkah kembali ke depan meja bar.
Setelah menunggu 15 menit menunggu, ia datang kembali
dan mengatakan, "Malam ini sedang keluar semua,". Dia
pun menawarkan dirinya untuk menemani. "Ya sudah, saya
saja yang menemani," terangnya.

Kami berdua terus ngobrol. Perempuan itu sebut saja
Sheila (26) asli Madiun. Ia juga mengaku telah bekerja
di tempat tersebut 6 bulan yang lalu, saat pertama
kali tempat itu beroperasi. Sebelumnya ia bekerja di
sebauh kafe yang ada di jalan Mayjen Sungkono.

Obrolan berlanjut, lantas kami pun bertanya, apakah
ada PSK yang masih anak-anak. Ia terdiam beberapa saat
sambil menatap penuh curiga kemudian ia mengaku ada.
"Ada, kalau memang mau," tegasnya.

Memang PSK anak ini tidak secara terang-terangan
melacurkan diri seperti kebanyakan PSK. Menurut aturan
wisma, PSK yang masuk harus berumur 18 tahun. Di bawah
itu, wisma tidak mau menerima.

Wisma juga harus menanggung risiko yang besar jika
memang harus memperkerjakan anak di bawah umur. Sebab
dapat dijerat tindak pelanggaran hukum oleh pihak
kepolisian.

Bagaimana transaksi PSK di bawah umur? Untuk
berkenalan dfengan mereka hanya lewat kenalan atau
memanfaatkan keunggulan SMS.

Sheila mengaku mempunyai lima PSK yang berada di bawah
umur. Semuanya berada di bawah 17 tahun. "Ada lima
orang," ungkapnya. Kami pun janjian untuk bertemu di
tempat yang sama keesokkan harinya. Pertemuan pun
berlanjut hingga ke tengah malam hari berikutnya.

Sekitar pukul 23.00 malam itu Surabaya diguyur hujan
deras. Setiap orang berteduh di rumahnya
masing-masing. Tidak terkecuali di lokalisasi Dolly.
Memang kerlip lampu wisma dan suara dentuman musik
disko dangdut tidak sekeras jika cuaca cerah.

Puluhan lelaki juga berteduh di warung rokok maupun
halaman wisma. Meskipun demikian, kata-kata tawaran
menjajakan perempuan terus terucap.

Langit yang gelap gulita disertai kilat dan guntur
tidak menyurutkan niat sebut saja Nadya (16) untuk
untuk berhenti melangkah. Langkahnya semakin keras
menuju kafe karaoke, tempat kami janjian. Di samping
Nadya, berjalan Sheila. Sheila, adalah perempuan yang
berkenalan dengan kami pada malam sebelumnya.

detiksurabaya.com telah menunggu di sofa yang sama.
Telah juga menikmati lagu dangdut yang kali ini
dibawakan secara live. Band ini memiliki vokalis
perempuannya bergaya mirip Inul Daratista.

"Sudah lama menunggu?" tanya Sheila mengagetkan. Ia
kemudian mengenalkan pada seorang perempuan yang
bertubuh kurus, mengenakan tank top warna merah mudah
dan celana jins biru.

"Nadya," katanya lirih. Dua detik kemudian ia duduk.
Mulanya kami duduk berjauhan tapi lama-kelamaan
semakin mendekat dan semakin panas. Anik lalu memesan
bir hitam, perbincangan kami mulai.

Parasnya memang terlihat seperti anak baru lulus SMU.
Make up yang dikenakan tidak terlalu tebal, dipadukan
dengan liptik warna merah. Kesederhanaanya pun
terlihat, tak ada kata-kata nakal yang keluar dari
mulutnya, seperti layaknya para PSK senior.

Nadya mengaku asli Wonocolo. Wonocolo adalah daerah di
selatan Surabaya dan berdekatan dengan IAIN Sunan
Ampel.

"Saya keluar dari sekolah kelas dua SMU," terangnya.
Karena ekonomi keluarga, dirinya harus rela tidak
meneruskan sekolah.

Ayahnya adalah pelayar di kapal pesiar Cendrawasih,
ibunya ibu rumah tangga biasa. "Saya sebenarnya tidak
ingin jadi seperti ini," katanya.

Keadaan keluarga yang mencekik membuatnya memutuskan
untuk keluar sekolah. Belum lagi diperparah dengan
ayah yang tidak pernah pulang ke rumah sejak tahun
2004. "Kabar terakhir, dia layar ke Thailand,"
tuturnya.

Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula, adik
bungsunya harus meninggal dunia pada umur tiga bulan
karena kelainan di tubuhnya. Nadya adalah anak kedua
dari lima bersaudara.

Awalnya dirinya masuk ke Dolly setelah
direkomendasikan oleh seorang teman. Sebelum kerja di
lokalisasi, ia bekerja di Asiana, sebuah tempat
karaoke di Darmo. Perasaan takut tertular penyakit
sering menghantui dirinya.

Nadya juga menyatakan bahwa yang menghubungkan dengan
tamu adalah Sheila. "Ia adalah mamiku," tegasnya.
Tarif semalam yang dipatoknya sebesar Rp 500 ribu. Itu
tidak bisa ditawar lagi. Sedangkan tarif menemani
minum dan menikmati lagu hanya Rp 35 ribu per jamnya.
Minimal pelanggannya harus membooking 2 jam.

Malam berlanjut, lagu demi lagu berganti. Nadya
mengajak untuk jalan untuk sewa kamar karena sudah
"panas". "Maaf aku sekarang tidak punya uang," ujar
detiksurabaya.com menolak halus ajakannya. Kami pun
urung keluar.

Jam booking sudah habis, Sheila datang menjemput
sambil mengingatkan kalau jam sewa sudah habis. Sheila
menjelaskan, ia memang berperan sebagai mami yang
menghubungkan anak buahnya yang masih masih belia.

"Semua anak buah saya yang berjumlah lima orang
berumur 16 tahun. Dan kami tidak ikut dalam wisma,"
ungkapnya. Setiap tamu yang laku, ia akan mendapatkan
komisi Rp 7.500.

Memang pelacuran anak masih marak terjadi. Apa yang
kami ditemukan adalah contoh kecil dari masih banyak
Sheila lain yang menjajakan anak-anak sebagai
komoditas.

Sheila mengaku setiap malam anak buahnya selalu habis
laris dicari orang. Praktek ini terselubung dan tidak
mudah ditemui. (stv/mar)

sumber: www.detiksurabaya.com

1 comment:

agus said...

Bisnis pelacuran adalah bisnis tertua di dunia. Sejak manusia mengenal dosa, kegiatan perpelacuran menjadi pionernya. jaman sekarang, meskipun lokalisasi ditutup semua, tetap saja pelacuran tumbuh subur. Ayam kampus, ABG berseragam, baik SMU maupun SMP yang notabene belum tumbuh bulunya pun sudah meramaikan dunia pelacuran. Siapa yg salah? Dibahas seribu tahunpun tidak bakalan selesai, karena syahwat tidak berhubungan dengan ekonomi. Dari lingkungan keluarga kaya pun bisa saja menelorkan pelacur. Yang bisa kita lakukan hanyalah, memohon ampunan pada Allah swt, dan memohon agar keluarga kita, kerabat kita terdekat, tidak terjerumus dalam dunia itu. Begitulah. Dan jangan lupa kunjungi situsku http://arisan-bca.com/?id=daeng. Salam