Friday, December 15, 2006

Bahasa Jawa (Sumar Sastrowardoyo)

Pada intinya perbedaan antara bahasa Jawa dan bahasa Indonesia terletak pada sifat bahasa Jawa yang ekspresif dan bahasa Indonesia yang deskriptif.
Bahasa Jawa mendekati kenyataan serta pengalaman secara langsung dengan menangkap pengertiannya dalam satu-satu kata, sedangkan bahasa Indonesia mendekati kenyataan secara tidak langsung dengan melukiskan, sehingga diperlukan suatu uraian untuk menyatakannya.
Sifat ekspresif bahasa Jawa berkaitan dengan kenyataan jasmaniah serta ruhaniah, pengalaman emosional dan intelektual dalam berbagai nuansa artinya.
Misalnya, bagaimanakah saya dapat menjatakan secara efektif di dalam bahasa Indonesia, kecuali dengan deskripsi yang panjang, perbedaan dan pergeseran cara duduk ini?

Ndhodhok, (yang secara etimologis dekat dengan kata "duduk," akan tetapi lebih banyak berarti "jongkok"), jengkeng, jegang, methengkreng, methongkrong (yang sudah masuk ke dalam bahasa Indonesia dalam bentuk "nongkrong"), methungkrung?

Atau bagaimanakah saya harus mencari padanan kata dalam bahasa Indonesia untuk berbagai nuansa berfikir atau "mikir" ini? Nggagas, ngangen-ngangen, nyipta, nggantha, nggrahita, ngunandika, nglegewa, ngetha, nylamur, nylimur, ngawur, ngayawara, ngarang, nglamun, nlesih, neges, ndhedhes.

nggagas = memikirkan sesuatu yang ada hubungan apa yang sudah
terjadi.
ngangen-ngangen = memkirkan sesuatu dengan harapan
nyipta = memikirkan akan membuat sesuatu
nggantha = memikirkan untuk dapat mencapai sesuatu
nggraita = biasanya ditambah dengan kata "ora":
ora nggraita = tidak terfikirkan
ngunandika = pemikiran yang diucapkan (bukan dalam percakapan)
nglegewa, ora nglegewa = seperti nggraita, akan tetapi persoalan
yang lebih berat
ngentha = memkirkan dari segala kemungkinan
nglamur = mengalihkan permikiran persoalan yang belum teratasi
nylimur = fikiran/tindakan untuk memisahkan dari keadaan yang ada
ngawur = tindakan yang tidak berdasarkan perhitungan/pertimbangan
ngayawara = sesuatu/berita yang tidak benar, karena tanpa dasar
ngarang = memikir akan tetapi juga berarti berkata tanpa
bukti/bohong
nlesih = menyimak, meneliti/mencari sampai rinci
neges = mencari kepastian yang positif
ndhedhes = menanyakan sesuatu dengan maksud untuk memperoleh
kepastian


Sumar Sastrowardoyo

3 comments:

om7ack said...

lhadahlahh.. iki koq boso jowone pinter tenan yo :)

bagusalfa said...

Ho oh, pak Sumar itu pancen topb.

eko bintara saktiawan said...

semoga tidak punah