Friday, April 8, 2005

3 Pendekar

Dari mailist tetangga....:)


> 3 Pendekar
>
> Saya lahir tahun 78 dan dua tahun kemudian ibu saya meninggal karena suatu
> penyakit. Apalah yang dimiliki seorang anak umur 2 tahun ketika ditinggal
ibunya
> kecuali tangis ketidaktahuan. Ketidaktahuan karena belum bisa berpikir
tetapi
> telah diberi Tuhan perasaan sepi dan kehilangan. Di sebelah utara rumah
saya,
> tinggal seorang pemuda idiot. Dia kira-kira berumur 12 tahun ketika ibu
saya
> meninggal.
>
>
> Selain itu, di sebelahnya tinggal pula seorang pemuda lain berumur 20- an
tahun
> yang belum pernah bersekolah, tidak bisa membaca dan bekerja sebagai kusir
> andong (kereta/bendi). Sementara di sebelah barat rumah saya, tinggal
pemuda
> yang juga berumur 20-an tahun, terbelakang, bodoh dan harus keluar dari
kelas I
> SD karena tak bisa mengikuti pelajaran sedikitpun.
>
>
> Sebagai anak berumur 2 tahun, tentu saja saya belum begitu mengenal
mereka.
> Tetapi seiring waktu, saya mulai tahu bahwa merekalah sahabat terbaik
dalam
> hidup saya. Akal saya yang semakin terasah ketika berumur 5 tahun dan
ingatan
> yang semakin kuat mematri kenangan saya dengan 3 orang hebat dalam hidup
saya
> tersebut. Merekalah yang saya sebut sebagai 3 pendekar dalam hidup saya.
Tiga
> orang yang sama-sama terbelakang, tidak bisa membaca dan sering dianggap
"agak
> kurang"
>
>
> (bahasa halus untuk sedikit gila) oleh tetangga-tetangga, tenyata
merupakan
> penyelamat hidup saya.
>
>
> Pemuda pertama, anak belasan tahun yang saya tahu dipanggil Adek, idiot
dan
> selalu mengeluarkan air liur dari mulutnya. Karena tak pernah memiliki
teman
> bermain, saya lah yang selalu dipandangnya dari jendela rumah. Ketika
semua
> orang mengusir dan anak-anak lain takut untuk mendekat, dia mencoba
mengenal
> saya. Dialah yang kemudian merawat saya, karena ketiadaan ibu dan ayah
yang
> terlalu jarang di rumah. Anak idiot itulah yang mengajari saya bermain,
> membuatkan wayang suket, mencari kodok di sawah, berendam di kali atau
menonton
> karnaval 17 Agustus yang tiap tahun diadakan di kota kecamatan.
>
>
> Pemuda dua puluhan tahun yang menjadi kusir andong tadi bernama Gandul.
> Keterbelakangannya justru menjadi sumber kebaikan hati.
>
>
> Setiap hari, begitu pulang dari bekerja, dia selalu menyisihkan uang Rp
50-100
> di bawah jok andongnya. Uang itu khusus disediakan untuk saya, anak SD
yang tak
> pernah lagi menerima uang saku dari ayahnya.
>
>
> Selama bertahun-tahun, Gandul melakukan itu karena tahu bahwa saya tak
pernah
> bisa jajan jika dia lupa menyisihkan. Dia juga yang mengajak saya
jalan-jalan,
> menjadi kernet andong atau bersuka dengan kudanya.
>
>
> Pemuda ketiga bernama Darsio, karena tak juga bisa melakukan apa yang
dilakukan
> kawan-kawannya, dia dikeluarkan dari sekolah. Mulai itulah dia mendekati
saya,
> mengajak saya bermain di kebunnya yang luas.
>
>
> Mencarikan buah apapun yang saya inginkan. Jika saya lagi kepingin pisang,
dia
> akan mencarinya. Begitu pula ketika saya minta kelapa muda di satu siang
yang
> panas, dia akan mengajak saya ke kebun dan memetikkan beberapa. Darsio
mengajari
> saya berenang, kadang berpetualang seharian ke tempat-tempat yang jauh,
berjalan
> kaki dan melatih keberanian saya. Karena sebelumnya saya memang terlalu
penakut
> dan mudah menangis. Agar tubuh saya kuat, dia juga memberi segelas susu
kedelai
> dari pabrik tahu milik orang tuanya hampir setiap hari.
>
>
> Ketiga orang itu, 3 pendekar yang mengisi hidup masa kecil saya.
> Menemani dengan tulus sehingga kini saya bisa berpikir bahwa Tuhan memang
> mengambil ibu saya, tetapi Dia mengirimkan 3 orang hebat dalam hidup saya.
> Ketiganya terbelakang, tidak sekolah, tak bisa membaca, bahkan dua
diantaranya
> sampai kini tak punya istri. Tetapi merekalah yang mengajari saya banyak
hal,
> menemani tahun-tahun sepi, membantu saya siap untuk mandiri.
>
>
> Kini saya 24 tahun dan akan segera menyelesaikan kuliah. Karena pengalaman
hidup
> itulah saya bisa bertahan hingga sekarang, merantau, mandiri, dan memiliki
> pandangan positif terhadap makluk ciptaan Tuhan seperti apapun adanya.
Untunglah
> saya dibesarkan oleh 3 orang idiot dan bukannya 3 orang profesor, 3 orang
kaya,
> atau 3 bisnisman.
>
>
> Sehingga saya bisa memaknai hubungan antar manusia, bukan karena kapasitas
> intelektual, uang atau kesuksesan. Bagi saya, ketulusan untuk memberi dan
sikap
> menjadi manusia seutuhnya itu lebih penting.
>
>
> Berkah dari 3 pendekar hebat, dan karena itulah saya selalu beranggapan,
seperti
> apapun kondisinya, hidup kita diciptakan Tuhan sangat indah. Kalau mata
kita
> memandangnya dengan indah pula.
> --

No comments: